Senin, 18 Agustus 2014

Seperti Api Tanpa Kayu


Berkata Ibnul jauzi rahimahullahu tentang gurunya syaikh Al-Anmaathi rahimahullahu,
"saya biasa membacakan kitab kepada beliau dan beliau dalam keadaan menangis [karena takut Allah], maka saya mengambil faidah dari tangisannya lebih banyak daripada  mengambil faidah dari riwayatnya dan saya mendapatkan manfaat dengannya yang saya tidak dapatkan dari selainnya." [1]

Suatu hari Imam Syafii kembali ke rumah usai menimba ilmu dari imam maliki,
"Assalamualaikum.." ucap Imam Syafii di depan pintu rumahnya.
"Wa alaikum salam wr wb, siapakah?" Terdengar jawaban dari dalam di sertai pertanyaan, yang tidak lain suara sang ibu.
"Aku bu, Syafii",
"Darimana engkau duhai putraku?"
"Aku baru saja belajar dari Imam Malik, Ibu."
Ibunya bertanya lagi, "apa yang kau pelajari?"
"Ilmu dan adab, bu.."
"Belajar apa?"
"Ilmu dan Adab.."
"Kalo begitu kembalilah kepada Gurumu, belajarlah lagi!"

Imam Syafii kembali ke rumah Imam Malik lalu menceritakan semua kejadian tadi, sang Imam tersenyum seraya berkata,
"Pulanglah, dan jika ibumu bertanya jawablah, kamu telah belajar Adab dan Ilmu, bukan Ilmu dan Adab.."

                              *****

Sungguh tidak berlebihan jika para salafusshalih menempatkan adab (akhlak) di atas ilmu.
Sejarah telah mencatat, bahwa kemuliaan akhlak Rasulullah menjadi faktor utama diterimanya Islam oleh segenap manusia. Betapa tidak akhlak Rasulullah yang begitu agung adalah potret bagaimana Alquran hidup di tengah-tengah masyarakat.

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Alquran." (HR Muslim).

Bahkan Allah memuji akhlak Rasulullah yang tertulis dalam firman-Nya,
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)



[1] Siyaru A’lamin Nubala’ 39/128, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar