Minggu, 17 Agustus 2014

Nasehat Itu Permata


Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.
(al-’Ashr:1-3)

"Injak kepalaku wahai Bilal, kumohon injaklah!", Abu Dzar meletakkan kepalanya di tanah berdebu, seraya berharap terompah Bilal segera mendarat di wajahnya.

"Kumohon Bilal saudaraku, injaklah wajahku, demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliyah dari jiwaku." Abu Dzar ingin sekali menangis, ia sedih, menyesal, dia marah pada kelemahan dirinya yang tak sanggup melawan hawa nafsunya.

Sayang Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

Peristiwa itu bermula dari kekesalan Abu Dzar terhadap Bilal yang dianggapnya tidak mengerjakan amanah dengan baik, bahkan memberi alasan untuk membenarkan tindakannya.
Abu Dzar kecewa, sayang ia tak mampu menahan diri dan berteriak melengking,"Hai anak budak hitam!"

Rasulullah yang mendengar hardikan Abu Dzar, memerah wajahnya seraya menghampiri, dan berkata dengan telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar,"engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat kejahiliyahan.."

Kata-kata itu begitu menghunjam sanubari Abu Dzar, hingga ia teramat sangat menyesal.

Begitulah nasehat, ia kadang berupa sindiran, ungkapan kekecewaan, teguran halus, atau ajakan dengan hangat rangkulan, dan di kali lain ia berwujud senyum pengertian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar