Jumat, 15 Agustus 2014
Doa Sang Pendosa
Dosa sering kali dibalut oleh kesan kenikmatan. Kesan kesenangan, walau sesaat. Seperti air di lautan yang diminum tetapi tidak pernah mampu menghilangkan rasa haus. Hanya menambah rasa penasaran dan makin terasa haus. Dari itulah tidak banyak yang mampu mengangkat dirinya dari arus dosa. Karena kenikmatan itu. Karena kesenangan itu.
Mansur bin Ammar mengira hari telah pagi, dia pun keluar dan ternyata hari masih gelap. Di tengah keheningan malam dia mendengar rintihan do’a di sela isakan tangis anak muda yang tak pernah dikenalnya.
“Tuhanku ketika aku bermasiat kepada-Mu aku tidak bermaksud mendurhakai-Mu. Ketika aku melakukan dosa bukannya aku tidak tahu bahwa adzabnya sangat pedih. Ketika aku melakukan dosa bukannya aku tidak tahu bahwa aku tidak pernah bisa lepas dari penglihatan-Mu. Tetapi jika bukan Engkau siapakah yang akan menolongku. Kalau Engkau putus-kan tali ini siapakah yang akan sanggup menyambungnya kembali.
Tuhanku, setiap usia-ku bertambah, bertambah pula dosa-dosaku. Setiap aku bertaubat setiap itu pula aku kembali kepada dosa dan tidak malu kepada-Mu.”
Suara itu putus. Isakan terhenti. Mansur bin Ammar tidak mendengar apa-apa lagi. Hanya taawwudz yang keluar dari mulut Mansur.
Esok harinya dia melihat ada jenazah di rumah itu dan seorang ibu tua yang menangis. “Ini anakku. Yang ketika malam telah larut dia selalu sholat di mihrobnya menangisi dosa-dosanya. Dia bekerja di siang hari dan selalu membagi hasilnya menjadi tiga. Sepertiga untukku, sepertiga untuk orang-orang miskin dan sepertiga lagi untuk dia berbuka puasa," jelas ibu tua itu.
Malam itu telah menjadi saksi untuk sebuah ucapan selamat tinggal. Selamat tinggal yang diucapkan oleh anak muda itu kepada semua dosanya. Benar-benar dia telah meninggalkan dosa-dosanya. Bahkan meninggalkan dunia untuk selamanya menuju Rabbnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar