Jumat, 24 Oktober 2014
Agar Hati Tertuntun
Sesungguhnya hati-hati ini berada di antara jemari Allah Yang Maha Pengasih, Dia bolak balikan menurut apa yang di kehendakinya. (HR. Muslim, Ahmad)
Karenanya sangatlah elok jika kita mengulang-ulang doa "tsabbit qalbii alaa diinik, tetapkan hati kami diatas agama-Mu", sebakda sholat. Sebab, gamitan jemari-Nya agar hati tertuntun menuju keridhoan-Nya adalah hajat terbesar kita.
Seperti yang dituliskan Sayyid Quthb dalam fii zhilalil qur'an, "Sebab Dia lebih tahu, tentang hakikat dan bentuk rupaku, tugas-tugas dan perasaanku, juga keadaan dan tempat kembaliku, maka Dia pulalah yang memberi petunjuk kepadaku. Menunjukiku untuk menuju-Nya, menunjukiku jalan yang aku harus meniti diatasnya, dan menunjukiku irama langkah yang harus ku ayunkan ke arah-Nya."
Percayalah, ketika hati manusia tak tertuntun menuju Rabbnya, maka betapapun gagah dan indahnya raga, ia takkan lebih baik dari hewan. Renungkanlah nasihat KH Anwar Zahid, "Calon ayam yakni telur, lebih mudah di jual daripada calon manusia. Kotoran sapi lebih laku dan berguna ketimbang limbah manusia. Kambing jantan yang memperkosa kambing betina peliharaan tetangga hingga bunting akan di anggap kebajikan. Tetapi, anak lelaki yang menghamili gadis tetangga pastilah kenestapaan."
Dia lah Allah Yang Maha Segala
"Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa."
(QS, Al-Baqarah : 21)
"Ayat ini menghubungkan penciptaan dengan kehambaan. Maka tiap kali ruh kehambaan dan amal ibadah kita melemah, sungguh baik jika kita merenungkan dalam-dalam berbagai keagungan-Nya dalam penciptaan."
Begitulah Dr. Nashir Ibn Sulaiman menuturkan dalam Liyadabbaru Aayaatih.
Suatu kita datang kepada Imam Abu Hanifah beberapa orang Zindiq, mereka mengingkari wujud Allah sebagai Sang Pemilik, Pemelihara, Pemberi Rizqi, dan pengatur alam semesta.
Mereka mengajak sang imam berdebat tentang hakikat eksistensi Allah.
Tetiba sang Imam berucap, "Biarkan sejenak aku di sini, sebab aku sedang memikirkan apa yang baru saja di sampaikan kepadaku."
"Apakah itu?" Tanya mereka.
"Bahwa ada sebuah bahtera yang berlayar lagi sarat dengan barang muatan dan tak ada seorang pun yang menjaga, mengendalikan, dan mengarahkannya. Namun demikian, kapal itu tetap melaju dengan lancar, menembus badai dan menghadapi topan, meski tanpa nakhoda. Ia terus melaju dengan tenang dan selamat sampai tujuan tanpa seorang awak pun yang memandunya." Jawab sang Imam.
"Ini adalah hal yang tak patut dikatakan orang berakal, bagaimana mungkin ada kapal berlayar tanpa awak dan nakhoda?"
Sahut mereka.
"Aduhai kalian, jadi apakah menurut kalian jagad raya yang demikian tertata penciptaannya, silih berganti malam dan siangnya, serta teratur pengisarannya ini bisa selamat dari kekacauan dan kehancuran jika tak ada Yang Mencipta dan mengendalikannya?"
Sungguh dalam menghunjam jawaban sang Imam, membuat mereka yang semula hendak berdebat menjadi bungkam terdiam.
Kamis, 16 Oktober 2014
Seringkali Kita Salah
Ini tentang sebuah cangkir cantik yang dipajang di sebuah etalase toko. Sebelum berada di sana, ia hanyalah seonggok tanah liat yang sama sekali tidak dihiraukan orang.
Kemudian seorang pengrajin mengambil dirinya, membentuk tanah liat itu, kemudian membakarnya di dalam perapian.
Sang tanah liat sempat marah dan benci terhadap perlakuan yang diterimanya. Ia harus menahan sakit dan kepanasan.
Tak sampai di situ, ia harus rela dicat dengan berbagai warna, kemudian dibakar lagi. Segala macam perlakuan sungguh tidak mengenakkan baginya. Namun apa yang terjadi, setelah semua proses selesai, sang tanah liat mendapati dirinya telah menjadi sebuah cangkir cantik. Ia bukan lagi seonggok tanah liat yang bau, tapi ia telah menjadi sosok baru dan tentu saja lebih baik. Insya Allah, Amin.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)
Antusiasme Kepahlawanan
Adalah para shahabat yang mengaplikasikan betapa antusiasme mampu melahirkan generasi terbaik sepanjang masa.
Kenanglah!
Bagaimana Bilal mempertahankan gairah keislamannya meski di tengah terik matahari yang membakar raga, pun di tindih batu besar, dengan antusias berucap ahad.. ahad..
Abu Dzar Al Ghifary dengan antusiasmenya mengakui keislamannya di tengah para pembesar kafir Quraisy.. dan berbuah luka lebam di sekujur tubuhnya tersebab pukulan, amukan kafir Quraisy..
Atau Mushab Ibn Umair pemuda tampan, bangsawan Quraisy yang menanggalkan kemewahan hidupnya, larut dalam nikmat
Islam dengan segala kesederhanaan, bahkan di akhir hayatnya tak cukup kain untuk menutup jasadnya, Sang Nabi pun berlinang airmata, menyaksikannya.
Hati Yang Berpelita
Laki-laki gagah ini tampak murung di sudut kamarnya, dari sudut matanya menitik bening bebulir airmata, dalam getarnya ia bergumam, "demi Allah ini pasti bukanlah
sebuah kebaikan, jika memang ini sebuah kebaikan mengapa tidak terjadi pada masa Rasulullah, juga Abu Bakar.."
Dialah Al-Farouq, di masa pemerintahannya yang gilang-gemilang, harta rampasan perang melimpah meruahi baitul maal, kaum mukmin terkepung sukacita.
Alih-alih merasa hebat seperti sang raja kebanyakan tatkala memenangkan peperangan, laki-laki ini justru duduk lemah tertunduk, berusaha memaknai kemenangan dan kebesarannya dari sudut berbeda.
Masya Allah.. Sungguh sebuah perspektif yang terlahir dari jiwa yang mulia, dari hati yang jernih bersumber dari kedekatannya
dengan Rabb-Nya.
Hati yang pendar cahayanya tak hanya menerangi pribadi agungnya tapi juga kaum mukminin dimasanya, dan menjadi
suluh saat kita menelusur lorong-lorong sejarah keemasan Islam.
Bertaqwalah
Empat ribu kambing bukan jumlah yang kecil, itu sangat banyak, besar, dan melimpah. Apalagi bagi keluarga miskin
seperti Auf Al-Asyja'i.
Dihari-hari awal islam yang penuh tekanan, permusuhan, dan perampasan, Auf bin Malik kehilangan anaknya, karena
disandera orang-orang musyrik Quraisy. Lelaki miskin itu hanya bisa mengadu kepada Rasulullah.
"Wahai Rasulullah, anakku disandera, dan istriku sangat tertekan. Apa yang engkau perintahkan untukku?" Kata Auf mengadu kepada Rasulullah.
"Bertakwalah kepada Allah, bersabarlah, dan perbanyak mengucapkan, laa haula walaa quwwata illa billaah." jawab
Rasulullah.
Maka lelaki itu pun menjalankan perintah itu, mengajak istrinya melakukan juga. Tak lama, penyandera itu lengah, dan anak Auf
melenggang pulang sambil menggiring pulang kambing-kambing milik orang kafir Quraisy itu, sebanyak empat ribu ekor.
(HR. Ibnu Mardawaih, Al Khatib dari Ibnu Abbas)
Maka turunlah ayat terkait dengan itu,"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka." (Ath-Thalaq:2-3)
Percayalah kejutan dari Allah melampaui harapan kita..
Mengelola Rasa Takut
Rasa takut bisa berimplikasi positif, namun bisa juga diterjemahkan secara negatif. Rasa takut membuat seseorang bersikap hati-hati, melakukan sesuatu dengan
serius dan bersunguh-sungguh agar ia bisa terhindar dari resiko atau ancaman yang ia takutkan.
Namun ada orang menanggapi rasa takut secara negatif dan berlebihan. Sehingga rasa takut menjadi hantu dalam dirinya dan membuat ia terdorong untuk melakukan kesalahan.
(Prof Dr Irwan Prayitno)
Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam mengajari kita untuk
berdo’a :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻗﺴﻢ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﺧﺸﻴﺘﻚ ﻣﺎ ﻳﺤﻮﻝ ﺑﻴﻨﻨﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻚ
( Ya, Tuhan kami. Karuniailah kami rasa takut kepada-MU, yang dengan itu menjauhlah kami dari berma’shiyat kepada-MU)
Semoga Allah karuniakan kita kecerdasan untuk mengelola ketakutan menjadi penyeimbang dalam meniti langkah-langkah kebaikan.
serius dan bersunguh-sungguh agar ia bisa terhindar dari resiko atau ancaman yang ia takutkan.
Namun ada orang menanggapi rasa takut secara negatif dan berlebihan. Sehingga rasa takut menjadi hantu dalam dirinya dan membuat ia terdorong untuk melakukan kesalahan.
(Prof Dr Irwan Prayitno)
Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam mengajari kita untuk
berdo’a :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻗﺴﻢ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﺧﺸﻴﺘﻚ ﻣﺎ ﻳﺤﻮﻝ ﺑﻴﻨﻨﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻚ
( Ya, Tuhan kami. Karuniailah kami rasa takut kepada-MU, yang dengan itu menjauhlah kami dari berma’shiyat kepada-MU)
Semoga Allah karuniakan kita kecerdasan untuk mengelola ketakutan menjadi penyeimbang dalam meniti langkah-langkah kebaikan.
Karena Ukhuwah Tak Gugur Tersebab Beda
"Pendapat kita mungkin benar namun bisa jadi mengandung kesalahan, pendapat mereka mungkin salah akan tetapi bisa jadi terselip kebenaran."
- Imam Syafi'i -
Pernah satu ketika Ibnu Abbas berselisih hebat dengan Zaid Bin Tsabit terkait pendapat masing- masing tentang Hak waris.
Namun pada kesempatan lain, terlihat Ibnu Abbas sedang menuntun seekor unta, yang diatasnya duduk tersipu Zaid bin Tsabit, seraya berucap,
"tak usahlah demikian wahai sepupu Rasulullah!"
"demikianlah kami diperintahkan kepada ulama-ulama kami."
jawab Ibnu Abbas sambil tersenyum.
"sekarang, coba tunjukkan tanganmu, duhai putra paman Nabi,"
pinta Zaid, saat itulah ketika Ibnu Abbas mengulurkan tangan, Zaid langsung mencium tangan Ibnu Abbas.
"apa ini wahai sahabat Rasulullah?" Ibnu Abbas terperangah.
"Demikianlah kami diperintahkan kepada Ahli Bait Nabi kami," jawab Zaid bin Tsabit.
Kerang Rebus & Kerang Mutiara
*Oleh Ustadz Jamil Azz
Dikisahkan pada suatu ketika, beliau sedang
memancing ikan di sungai dekat rumahnya.
Sejenak kemudian, datang menghampiri Bapaknya
dan langsung duduk di samping beliau.
Sang Bapak kemudian berkata, “Mil, Bapak mau cerita, mau
dengar tidak?”
Si anak kecil yang bernama Jamil pun sontak langsung
mengangguk.
“Kamu tahu proses terjadinya mutiara?” Tanya sang Bapak.
Si Jamil kecil hanya hanya menggelengkan kepalanya.
Sambil merangkul pundak anaknya, si Bapak pun melanjutkan
ceritanya.
Waktu kerang muda mencari makan atau bergerak untuk pindah,
ia akan membuka cangkah penutup badannya.
Buka, tutup, buka, dan tutup, demikian terus dan berlangsung
secara berulang-ulang.
Suatu kali, di saat cangkah itu terbuka, sebutir pasir masuk ke
dalam cangkah tersebut.
Si kerang muda pun menangis sambil memanggil-manggil
ibunya.
“Bu, sakit bu, ada pasir yang masuk ke dalam tubuhku”. Sang Ibu
kerang pun menjawab, “sabar ya nak, jangan pedulikan sakit itu.
Bila perlu berikanlah kebaikan kepada sang pasir yang telah
menyakitimu itu”.
Si kerang muda pun menuruti nasihat ibunya. Ia
menangis, namun ia gunakan air matanya untuk
membungkus pasir yang masuk ke dalam
tubuhnya. Hal itu terus-menerus ia lakukan.
Dengan baluran air mata si kerang muda, rasa sakitnya pun berangsur-angsur berkurang bahkan kemudian hilang sama sekali.
Beberapa saat kemudian, kerang-kerang itu dipanen. Kerang yang ada pasirnya dipisahkan dari kerang yang tidak ada pasirnya. Kerang tak berpasir dijual secara obral di pinggir jalan atau
pasar untuk kemudian akan dibeli orang untuk dimasak menjadi “Kerang Rebus”
Sedangkan kerang yang berpasir, akan dijual ratusan bahkan
ribuan kali lipat lebih mahal dibandingkan kerang tak berpasir.
Mengapa bisa begitu? Karena pasir yang ada di dalam kerang itu
telah berubah menjadi inti mutiara. Ya, butiran-butiran pasir itu
telah dibalut dengan lapisan air mata si kerang muda. Hingga
saat dia telah dewasa, butiran pasirnya kemudian berubah menjadi mutiara.
Sang Bapak pun melanjutkan ceritanya dengan berkata, “kalau
kamu tidak pernah mendapat cobaan, kamu akan menjadi seperti
kerang rebus atau kerang yang harganya murah. Tapi kalau kamu
mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberi manfaat
pada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, kamu
akan menjadi mutiara”.
Hidup adalah pilihan, semuanya tinggal kembali kepada diri kita masing-masing. Ingin menjadi kerang rebus atau kerang mutiara, semuanya kita sendiri yang menentukan.
Hiduplah dengan banyak memberi manfaat untuk
orang lain.
Hidup itu bukan hanya terletak pada seberapa besar
masalah yang telah kita dapatkan atau terima. Namun juga
seberapa banyak manfaatyang bisa kita berikan pada sesama dan
lingkungan sekitar.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang
lain (HR. Ahmad, Thabrani)
Kesabaran & Keberanian
Adakah dari kita yang tak mengenal Umar Bin Khattab?
Sosok tinggi besar yang jika berjalan di kerumunan, tubuh
tegapnya terlihat paling menonjol, jago gulat, bahkan setan lebih memilih jalan lain agar tidak berpapasan dengannya.
Keislamannya membuat Muslim lebih diperhitungkan, dialah sang terpilih dari dua sosok yang dipinta Rasulullah dalam doanya. Umar Bin Khattab simbol keberanian yang tak terbantahkan.
Namun Rasulullah, sosok paripurna, menterjemahkan keberanian dengan sangat indah. Keberanian yang tidak hanya dimiliki orang yang bertubuh tegap, jago gulat, atau semisalnya. Keberanian yang lahir dari rahim semangat dan kesabaran.
Tidakkah bergetar hati kita membaca sirahnya?
Ia sampaikan ayat-ayat suci kepada kaumnya meski kerap berbuah caci-maki, dan sumpah serapah.
Menyerahkah Ia tatkala dalam sujudnya setimba isi perut unta ditumpahkan kekepalanya oleh kaumnya?
Ciutkah keberaniannya tatkala ia ruku' seutas tali menjirat lehernya, bahkan puluhan batu merobek dahi dan pipinya hanya karena ia ingin mengajak kaumnya meniti jalan Ilahi.
Hanya seutas kalimat indah yang keluar dari lisan mulianya menghadapi perlakuan kaumnya,
"Aku hanya berharap dari sulbi-sulbi mereka akan lahir manusia-manusia yang beriman kepada Allah subhana wata'ala.."
Masya Allah darinya kita mengenal keberanian dari dimensi yang berbeda, keberanian adalah kesabaran, semangat, antusiasme dan optimisme.
Rabu, 15 Oktober 2014
Mulanya Sederhana
A'a Gym merumuskan sebuah perubahan dengan 3M,"Mulai dari diri sendiri, mulai saat ini, mulai dari yg paling sederhana.
Banyak kisah-kisah sukses yg di mulai dari hal sederhana, tapi kisah sukses Bilal Bin Rabbah sungguh berbeda, sukses yang membawanya ke tempat tertinggi dalam capaian manusia, "Jannah".
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ra setelah shalat fajar, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalanmu dalam Islam yang paling engkau harapkan.
Karena sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu di hadapanku dalam surga.”
Bilal berkata, ”Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang lebih aku harapkan melainkan setiap kali aku bersuci pada malam atau siang hari aku selalu mengerjakan shalat yang bisa aku lakukan.” (HR Bukhari Muslim)
Betapa melakukan kebaikan sesederhana apapun, sungguh ia berbuah keajaiban, yang tak terfikir oleh kita.
“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang selalu mengganggu manusia” (HR. Muslim)
Saat Hari Terasa Berat
“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan
sahaja mengatakan: kami telah beriman, sedangkan mereka
tidak diuji? Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-
orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 2-3)
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan .”
(QS. Alam Nasyroh: 6)
Jika hari-hari terasa berat buat kita, percayalah kita bukan satu-satunya dan bukan yang pertama mengalami itu.
Dalam Sirah Nabawiyah ada bab khusus tentang tahun kesedihan (Amul Huzni), menceritakan betapa saat itu menjadi masa-masa terberat dalam hidup Rasulullah, beliau kehilangan orang-orang yang sangat dicintai nya.
Peristiwa Isro Mi'roj menjadi seperti secercah senyum mentari setelah badai kepedihan di hari-hari sebelumnya, memberi kekuatan baru dalam hidup Rasulullah.
Saat hari kita saat ini serasa di terpa badai, berat, perih, lelah.
Sejurus setelah ini, sambutlah secercah mentari yang Allah persiapkan untuk kita.
Karena Maut Amatlah Dekat
"Sesungguhnya Allah membentangkan Tangan-Nya pada
malam hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di siang
hari dan Dia membentangkan Tangan-Nya pada siang hari
agar bertaubat orang yang berbuat jahat di malam hari,
hingga matahari terbit dari Barat (Kiamat). "(HR. Muslim)
"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba,
selama (nyawanya) belum sampai di kerongkongan. "
(HR· At-Tirmidzi)
Dan sungguh, tak seorang pun meninggal kecuali ia menyesal. Jika dia orang baik, maka ia menyesal mengapa dia tidak memperbanyak kebaikannya, dan jika ia orang jahat maka ia menyesal mengapa ia tidak bertaubat, memohon ampun dan kembali kepada Allah.
Yang Telah Terkikis Dari Kita
Barangsiapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan di atas bumi; maka lihatlah Thalhah bin 'Ubaidillah”.
(HR At-Tirmidzi & Ibnu Majah)
Sungguh sebuah kabar yang membuat Laki-laki kekar (yang menjadikan tubuhnya perisai bagi Rasulullah dalam kecamuk perang uhud) ini menjadi berbunga-bunga.
Setiap waktu setelah peristiwa itu ia selalu menunggu kesyahidannya.
Syahid, prestasi ini yang menjadi dambaan para shahabat, sekaligus motivasi terbesar dalam menaklukan musuh-musuh Allah, tertorehlah kisah kepahlawanan Ja'far Assyiddiq, Mushab bin Umair, Sa'ad bin Abi Waqash, atau sang panglima Khalid Bin Walid serta sahabat lainnya.
Hal ini juga yang membuat gentar musuh, adakah lawan yang lebih berat dari orang-orang yang mendambakan kematian?
Catatan Sang Murobi
Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah
Subhana wata'ala pada titik-titik kelemahan kita.
Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap
fitnah jabatan dan wanita tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.
Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat
dalam urusan uang tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.
Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan
senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan
membuatnya tersinggung dan marah, sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak
mudah tersinggung dan tidak pemarah.
Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pengajian/
majelis ilmu karena alasan istri, anak, mertua, tamu akan
senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus
begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktifitasnya apakah
kepada jalan-jalan kebaikan atau kepada perkara-perkara lain.
Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan
diri saat meretas jalan-jalan kebaikan. Ingatlah, mushaf Al-
Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan
memukuli orang-orang yang bermaksiat.
Esok Selalu Baru
Suatu hari dihadiahkan kepada Rasulullah makanan, seekor burung, tentu sudah matang. Sebenarnya burung itu ada dua, tapi diberikan kepada beliau hanya satu.
Keesokan harinya, Rasulullah bertanya kepada para sahabat,
"adakah kalian punya makanan?"
Maka dihidangkan kepada beliau satu ekor burung lagi, beliau
pun heran dan bertanya,"dari mana ini?"
Bilal, salah satu sahabat yang ada disitu menjawab,"aku
menyembunyikannya untuk engkau wahai Rasulullah."
Mendengar itu, maka Rasulullah bersabda,"wahai Bilal,
janganlah engkau terlalu takut bahwa Allah pemilik Arsy akan
menyedikitkan pemberian-Nya, sesungguhnya Allah senantiasa
membawakan rezeki untuk setiap esok yang baru."
(Tarbawi, edisi 275 mei 2012)
Terkadang kita memiliki kekhawatiran berlebihan, kalau-kalau
esok kita tidak memiliki sesuatu yang kita butuhkan.
Lalu kita lebih memilih menyimpan rezeki hari ini untuk esok,
ketimbang berbagi dengan orang lain.
Padahal bisa jadi Allah menguji kita dengan kelebihan itu.
Semoga Allah menganugerahkan hati yang selalu ingin berbagi,
hati yang selalu yakin dengan rizki dari-Nya, dan Allah jauhkan
kita dari kekhawatiran yang berlebihan akan takdir esok hari.
Lelaki Itu Bernama Musa
Di sebuah mata air, di sebuah negeri yang bernama Madyan, Lelaki kekar yang sedang dalam pelarian dari kejaran bangsa Firaun, melihat orang-orang berdesakan memberi minum ternak-ternaknya di sekitar mata air tersebut. Tak jauh dari tempat itu ia melihat dua gadis yang sedang kebingungan, tangannya memegang tali kekang kambingnya yang meronta kehausan.
Dalam lelah payahnya, lapar hausnya, lelaki ini masih sanggup menawarkan bantuan, digiringnya domba-domba itu ke mata air. Ketika dilihatnya ada batu menyempitkan permukaan itu, dia sadar inilah salah satu penyebab orang-orang menjadi berdesakan. Dengan sisa tenaga disingkirkannya batu itu, hingga mata air menjadi lapang tepiannya.
Seusai memberi bantuan lelaki itu pun berlalu, beristirahat sambil bersandar pada sebuah pohon, seraya berdoa, "Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi rizqi, dan Penguasaku, sesungguhnya aku terhadap apa yang kau turunkan di antara kebaikan amat memerlukan."
Dalam lapar dan dahaga yang teramat, rasanya pantas sekiranya lelaki ini meminta sedikit makanan dan minum seusai dia membantu dua gadis itu.
Tapi lelaki ini bukanlah seorang yang pamrih, baginya hanya Allah yang pantas ia mintai pertolongan, kecil maupun besar. Meminta pada makhluk baginya hanyalah kehinaan.
Tak lama berselang, datanglah seorang gadis yang tadi di tolongnya, seraya berkata yang kata-katanya terabadi dalam Alqur'an surat Al Qashash : 25, " Sesungguhnya Ayahku memanggilmu agar dia dapat membalas kebaikanmu yang telah memberi minum ternak-ternak kami."
Ternyata Allah tetap memilih keluarga si gadis sebagai penyambung kebaikan atas permohonan seorang lelaki yang tak ingin meminta kepada selain Rabbnya. Meski buatnya berupa apapun pertolongan dari Allah tetaplah yang terbaik.
Maka resapilah sebulir bening kalimat Umar Bin Khattab, "Aku tak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan. Sebab, setiap kali Allah mengilhamkan hamba-Nya untuk berdoa, maka Dia sedang berkehendak untuk memberi karunia.
Yang aku khawatirkan adalah, jika aku tidak berdoa."
Sungguh, bagi kita, selemah apapun kita, seperih apapun luka derita yang kita alami, sebuntu apapun jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.
Berdoa adalah langkah terindah yang bisa kita lakukan, menggantungkan segala beban pada yang Maha Bijaksana.
Hatta ketika doa itu kita rasa tak kunjung terkabulkan, percayalah Allah punya cara tersendiri meringankan beban masalah kita. Ia akan sirna perlahan, terbang ringan menjauhi kita, sampai akhirnya kita tersadar masalah itu telah terselesaikan.
"Karena terkadang nikmatnya berdoa kepada Allah, melampaui rasa nikmat pertolongan yang Allah berikan."
Senin, 13 Oktober 2014
Rizqi Pasti Menghampiri
Aku tahu rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang.
Aku tahu amalku takkan di kerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang.
(Hasan Al Bashri)
Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugerah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindera dari sifat maslahatnya.
Kasur yang empuk dapat di beli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh.
Hidangan yang mahal dapat di pesan, tapi lezatnya makan adalah rizqi, ia dapat terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.
Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.
Ada yang bergaji 100 juta rupiah tiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap kue yang legit, segera dikatakan padanya: "awas pak, kadar gulanya!"
Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya: "awas pak, kolesterolnya!"
Bahkan ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, "awas pak, tekanan darahnya!"
Dan rasa nikmat itu telah dikurangi.
Lagi-lagi ini soal rasa, seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar di pulau jawa, dengan penghasilan yang mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Tidur di alas empuk hanya membuat punggungnya ngilu. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.
Rizqi memang bukan sekedar apa yang kita miliki, bukan pula sekedar deretan angka dalam bilangan gaji, yang dengan nya apapun akan kita beli.
Ia adalah soal rasa, soal nikmat yang tersyukuri.
Dan menjadi keniscayaan ketika kita menjemputnya dengan sepenuh upaya yang di ridhoi-Nya, maka rizqi begitu sempurna nikmatnya.
"Karena apa yang ada disisi Allah, adalah ridho-Nya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa", demikian Imam Nawawi mempetuahi.
*disarikan dari buku Lapis-lapis Keberkahan : Salim A Fillah
Hanya Yang Cerdas
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa-apa yang telah dipersiapkan untuk esok.. (QS. Al-Hasyr: 18)
Ini tentang tiga orang badui Mesir di zaman kuno yang tengah mengangkat batu. Ketiga-tiganya mengangkat batu yang sama beratnya dengan keringat yang sama derasnya. Tapi ketika ditanya, tampak perbedaan niat atau visi kerjanya, perhatikanlah bagaimana mereka menjawab pertanyaan yang sama ini:
“Apa yang sedang anda kerjakan wahai budak?”
Budak pertama menjawab, “Apa kamu tidak melihat saya sedang kelelahan mengangkat batu berat ini?”
Setelah budak pertama lewat, budak kedua ditanya lalu dia menjawab, “Aku sedang membangun piramida.”
Lalu, budak ketiga ditanya juga setelah budak kedua lewat, dia menjawab begini, “Aku sedang membangun peradaban Mesir.”
“Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari” , demikian Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Lukman : 34.
Dan hari esok bagi seorang muslim bukanlah sekedar kenikmatan hidup di dunia, hari esok bagi muslim adalah hari dimana kelak banyak jiwa-jiwa yang menyesal karena keliru memaknai hari ini dan gagal melukis esok hari.
Tersebab itulah membuat perencanaan terbaik untuk hidup kita kelak adalah keniscayaan, agar kita bisa merasakan setiap detik perubahan-perubahan dalam diri kita untuk esok yang baik.
“Para perencana, semuanya adalah pembawa perubahan dan setiap pembawa perubahan adalah perencana.” (Leonard Duhl)
Rabu, 08 Oktober 2014
Derajat Taubat
"Surga An-Na'im berada di antara surga Firdaus dan surga Adn, didalamnya terdapat bidadari-bidadari yang diciptakan dari bunga-bunga surga. Surga ini ditempati orang-orang yang hendak melakukan kedurhakaan, lalu tatkala mengingat Allah, mereka meninggalkannya karena takut kepada Allah."
(Malik Bin Dinar)
Ibnu Qoyyum Al Jauzyah menulis dalam bukunya Raudhah Al MUhibbin Wa Nuzhah Al Musytaqin :
Bakar bin Abdullah Al Muzany menuturkan, bahwa ada seorang tukang jagal yang jatuh cinta pada gadis tetangganya. Suatu hari sang keluarga gadis menyuruhnya pergi kedesa lain untuk suatu keperluan. Tukang jagal mengikuti di belakangnya, lalu merayunya. Sang gadis berkata, “Jangan engkau lakukan itu, memang saya bisa menyatakan cinta kepadamu, tetapi saya takut kepada Allah.”
“Engkau takut kepada Allah, sementara saya tak takut kepadaNya?”, kata tukang jagal. Setelah itu ia pulang untuk bertaubat. Di tengah perjalanan ia diserang rasa haus dan tak lama kemudian ia ber papasan dengan seorang ulama dari Bani Israel.
“Apa yang terjadi dengan dirimu?”, tanya ulama.
“Aku kehausan,” jawab tukang jagal.
“Kalau begitu, marilah berdoa kepada Allah, agar ada awan yang memayungi kita hingga tiba didesa.”
“Aku tidak mempunyai amal yang layak untuk berdoa kepada Allah,” jawab tukang jagal.
“Kalau begitu aku saja yang berdoa dan engkau yang mengamininya.”
Maka utusan dari Bani Israel itu berdoa kepada Allah dan tukang jagal mengamininya. Tak lama kemudian ada awan yang memayungi mereka berdua, hingga mereka tiba didesa dan berpisahlah mereka. Ketika itu awan mengikuti si tukang jagal dan meninggalkan ulama. Sehingga ulama tadi heran, ia mendatangi tukang jagal, dan bertanya,
“Engkau pernah menyatakan bahwa engkau tak memiliki amal untuk dijadikan sarana berdoa, lalu akulah yang berdoa dan engkau yang mengamininya. Ternyata awan itu mengikutimu. Apa yang sebenarnya yang terjadi denganmu?”
Tukang jagal pun bercerita tentang kejadian yang dia alami.
Sang ulama pun takjub dan berkata, “Sesungguhnya orang yang bertaubat kepada Allah itu berada disuatu tempat yang tak ada orang lain yang menyamai kedudukannya.”
Senin, 06 Oktober 2014
Bekerjalah!
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berusaha (bekerja), maka hendaklah kalian berusaha.” (HR. Thabrani).
Selain memerintahkan bekerja, Islam juga memberikan tuntunan kepada setiap Muslim agar dalam bekerja di bidang apapun haruslah mempunyai sikap yang profesional. Profesionalime menurut pandangan Islam dicirikan oleh tiga hal, yakni (1) kafa`ah, yaitu adanya keahlian dan kecakapan dalam bidang pekerjaan yang dilakukan; (2) himmatul ‘amal, yakni memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi; dan (3) amanah, yakni terpercaya dan bertanggungjawab dalam menjalankan berbagai tugas dan kewajibannya serta tidak berkhianat terhadap jabatan yang didudukinya.
Apapun profesi kita saat ini, berupaya menjemput rizki dari-Nya semoga bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan lahiriah, tapi juga dalam rangka menggugurkan dosa-dosa kita sebagaimana sabda Rasulullah,
"Sesungguhnya di antara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus (ditebus) oleh (pahala) shaum dan shalat."
Ditanyakan pada Beliau: "Apakah
yang dapat menghapuskannya, Ya Rasulullah?"
Jawab Rasul SAW: "Kesusahan
(bekerja) dalam mencari nafkah penghidupan.."
(HR. Abu Nuaim)
Langganan:
Komentar (Atom)




















