Seranting Makna
Jumat, 24 Oktober 2014
Agar Hati Tertuntun
Sesungguhnya hati-hati ini berada di antara jemari Allah Yang Maha Pengasih, Dia bolak balikan menurut apa yang di kehendakinya. (HR. Muslim, Ahmad)
Karenanya sangatlah elok jika kita mengulang-ulang doa "tsabbit qalbii alaa diinik, tetapkan hati kami diatas agama-Mu", sebakda sholat. Sebab, gamitan jemari-Nya agar hati tertuntun menuju keridhoan-Nya adalah hajat terbesar kita.
Seperti yang dituliskan Sayyid Quthb dalam fii zhilalil qur'an, "Sebab Dia lebih tahu, tentang hakikat dan bentuk rupaku, tugas-tugas dan perasaanku, juga keadaan dan tempat kembaliku, maka Dia pulalah yang memberi petunjuk kepadaku. Menunjukiku untuk menuju-Nya, menunjukiku jalan yang aku harus meniti diatasnya, dan menunjukiku irama langkah yang harus ku ayunkan ke arah-Nya."
Percayalah, ketika hati manusia tak tertuntun menuju Rabbnya, maka betapapun gagah dan indahnya raga, ia takkan lebih baik dari hewan. Renungkanlah nasihat KH Anwar Zahid, "Calon ayam yakni telur, lebih mudah di jual daripada calon manusia. Kotoran sapi lebih laku dan berguna ketimbang limbah manusia. Kambing jantan yang memperkosa kambing betina peliharaan tetangga hingga bunting akan di anggap kebajikan. Tetapi, anak lelaki yang menghamili gadis tetangga pastilah kenestapaan."
Dia lah Allah Yang Maha Segala
"Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa."
(QS, Al-Baqarah : 21)
"Ayat ini menghubungkan penciptaan dengan kehambaan. Maka tiap kali ruh kehambaan dan amal ibadah kita melemah, sungguh baik jika kita merenungkan dalam-dalam berbagai keagungan-Nya dalam penciptaan."
Begitulah Dr. Nashir Ibn Sulaiman menuturkan dalam Liyadabbaru Aayaatih.
Suatu kita datang kepada Imam Abu Hanifah beberapa orang Zindiq, mereka mengingkari wujud Allah sebagai Sang Pemilik, Pemelihara, Pemberi Rizqi, dan pengatur alam semesta.
Mereka mengajak sang imam berdebat tentang hakikat eksistensi Allah.
Tetiba sang Imam berucap, "Biarkan sejenak aku di sini, sebab aku sedang memikirkan apa yang baru saja di sampaikan kepadaku."
"Apakah itu?" Tanya mereka.
"Bahwa ada sebuah bahtera yang berlayar lagi sarat dengan barang muatan dan tak ada seorang pun yang menjaga, mengendalikan, dan mengarahkannya. Namun demikian, kapal itu tetap melaju dengan lancar, menembus badai dan menghadapi topan, meski tanpa nakhoda. Ia terus melaju dengan tenang dan selamat sampai tujuan tanpa seorang awak pun yang memandunya." Jawab sang Imam.
"Ini adalah hal yang tak patut dikatakan orang berakal, bagaimana mungkin ada kapal berlayar tanpa awak dan nakhoda?"
Sahut mereka.
"Aduhai kalian, jadi apakah menurut kalian jagad raya yang demikian tertata penciptaannya, silih berganti malam dan siangnya, serta teratur pengisarannya ini bisa selamat dari kekacauan dan kehancuran jika tak ada Yang Mencipta dan mengendalikannya?"
Sungguh dalam menghunjam jawaban sang Imam, membuat mereka yang semula hendak berdebat menjadi bungkam terdiam.
Kamis, 16 Oktober 2014
Seringkali Kita Salah
Ini tentang sebuah cangkir cantik yang dipajang di sebuah etalase toko. Sebelum berada di sana, ia hanyalah seonggok tanah liat yang sama sekali tidak dihiraukan orang.
Kemudian seorang pengrajin mengambil dirinya, membentuk tanah liat itu, kemudian membakarnya di dalam perapian.
Sang tanah liat sempat marah dan benci terhadap perlakuan yang diterimanya. Ia harus menahan sakit dan kepanasan.
Tak sampai di situ, ia harus rela dicat dengan berbagai warna, kemudian dibakar lagi. Segala macam perlakuan sungguh tidak mengenakkan baginya. Namun apa yang terjadi, setelah semua proses selesai, sang tanah liat mendapati dirinya telah menjadi sebuah cangkir cantik. Ia bukan lagi seonggok tanah liat yang bau, tapi ia telah menjadi sosok baru dan tentu saja lebih baik. Insya Allah, Amin.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)
Antusiasme Kepahlawanan
Adalah para shahabat yang mengaplikasikan betapa antusiasme mampu melahirkan generasi terbaik sepanjang masa.
Kenanglah!
Bagaimana Bilal mempertahankan gairah keislamannya meski di tengah terik matahari yang membakar raga, pun di tindih batu besar, dengan antusias berucap ahad.. ahad..
Abu Dzar Al Ghifary dengan antusiasmenya mengakui keislamannya di tengah para pembesar kafir Quraisy.. dan berbuah luka lebam di sekujur tubuhnya tersebab pukulan, amukan kafir Quraisy..
Atau Mushab Ibn Umair pemuda tampan, bangsawan Quraisy yang menanggalkan kemewahan hidupnya, larut dalam nikmat
Islam dengan segala kesederhanaan, bahkan di akhir hayatnya tak cukup kain untuk menutup jasadnya, Sang Nabi pun berlinang airmata, menyaksikannya.
Hati Yang Berpelita
Laki-laki gagah ini tampak murung di sudut kamarnya, dari sudut matanya menitik bening bebulir airmata, dalam getarnya ia bergumam, "demi Allah ini pasti bukanlah
sebuah kebaikan, jika memang ini sebuah kebaikan mengapa tidak terjadi pada masa Rasulullah, juga Abu Bakar.."
Dialah Al-Farouq, di masa pemerintahannya yang gilang-gemilang, harta rampasan perang melimpah meruahi baitul maal, kaum mukmin terkepung sukacita.
Alih-alih merasa hebat seperti sang raja kebanyakan tatkala memenangkan peperangan, laki-laki ini justru duduk lemah tertunduk, berusaha memaknai kemenangan dan kebesarannya dari sudut berbeda.
Masya Allah.. Sungguh sebuah perspektif yang terlahir dari jiwa yang mulia, dari hati yang jernih bersumber dari kedekatannya
dengan Rabb-Nya.
Hati yang pendar cahayanya tak hanya menerangi pribadi agungnya tapi juga kaum mukminin dimasanya, dan menjadi
suluh saat kita menelusur lorong-lorong sejarah keemasan Islam.
Bertaqwalah
Empat ribu kambing bukan jumlah yang kecil, itu sangat banyak, besar, dan melimpah. Apalagi bagi keluarga miskin
seperti Auf Al-Asyja'i.
Dihari-hari awal islam yang penuh tekanan, permusuhan, dan perampasan, Auf bin Malik kehilangan anaknya, karena
disandera orang-orang musyrik Quraisy. Lelaki miskin itu hanya bisa mengadu kepada Rasulullah.
"Wahai Rasulullah, anakku disandera, dan istriku sangat tertekan. Apa yang engkau perintahkan untukku?" Kata Auf mengadu kepada Rasulullah.
"Bertakwalah kepada Allah, bersabarlah, dan perbanyak mengucapkan, laa haula walaa quwwata illa billaah." jawab
Rasulullah.
Maka lelaki itu pun menjalankan perintah itu, mengajak istrinya melakukan juga. Tak lama, penyandera itu lengah, dan anak Auf
melenggang pulang sambil menggiring pulang kambing-kambing milik orang kafir Quraisy itu, sebanyak empat ribu ekor.
(HR. Ibnu Mardawaih, Al Khatib dari Ibnu Abbas)
Maka turunlah ayat terkait dengan itu,"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka." (Ath-Thalaq:2-3)
Percayalah kejutan dari Allah melampaui harapan kita..
Mengelola Rasa Takut
Rasa takut bisa berimplikasi positif, namun bisa juga diterjemahkan secara negatif. Rasa takut membuat seseorang bersikap hati-hati, melakukan sesuatu dengan
serius dan bersunguh-sungguh agar ia bisa terhindar dari resiko atau ancaman yang ia takutkan.
Namun ada orang menanggapi rasa takut secara negatif dan berlebihan. Sehingga rasa takut menjadi hantu dalam dirinya dan membuat ia terdorong untuk melakukan kesalahan.
(Prof Dr Irwan Prayitno)
Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam mengajari kita untuk
berdo’a :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻗﺴﻢ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﺧﺸﻴﺘﻚ ﻣﺎ ﻳﺤﻮﻝ ﺑﻴﻨﻨﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻚ
( Ya, Tuhan kami. Karuniailah kami rasa takut kepada-MU, yang dengan itu menjauhlah kami dari berma’shiyat kepada-MU)
Semoga Allah karuniakan kita kecerdasan untuk mengelola ketakutan menjadi penyeimbang dalam meniti langkah-langkah kebaikan.
serius dan bersunguh-sungguh agar ia bisa terhindar dari resiko atau ancaman yang ia takutkan.
Namun ada orang menanggapi rasa takut secara negatif dan berlebihan. Sehingga rasa takut menjadi hantu dalam dirinya dan membuat ia terdorong untuk melakukan kesalahan.
(Prof Dr Irwan Prayitno)
Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam mengajari kita untuk
berdo’a :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻗﺴﻢ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﺧﺸﻴﺘﻚ ﻣﺎ ﻳﺤﻮﻝ ﺑﻴﻨﻨﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻚ
( Ya, Tuhan kami. Karuniailah kami rasa takut kepada-MU, yang dengan itu menjauhlah kami dari berma’shiyat kepada-MU)
Semoga Allah karuniakan kita kecerdasan untuk mengelola ketakutan menjadi penyeimbang dalam meniti langkah-langkah kebaikan.
Langganan:
Komentar (Atom)






