Jumat, 15 Agustus 2014

Mercusuar Kita

Suatu malam, kapal perang berlayar menembus kabut. Beberapa saat kemudian sekilat cahaya muncul tepat di arah yang ditujunya. Kapten kapal melangkah ke arah kemudi untuk memeriksa situasi. Saat itulah radio berbunyi,"perhatian, memanggil kapal dengan 18 knot di arah 220 derajat, segeralah ubah arah anda!"

Sang kapten menghampiri radio dan menjawab, "Di sini kapal di arah 220 derajat, anda yang harus mengubah arah anda!"

"Negatif kapten, anda yang ubah arah.."

"Saya Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat",sahut sang kapten mulai marah, siapa anda?"

"Saya Letnan Muda di penjaga pantai Amerika Serikat, pak.."

"Kalau begitu saya perintahkan anda untuk mengubah arah!"

"Tidak Pak, saya sarankan anda yang ubah arah."

"Kami adalah kapal perang dalam tugas" ,sang kapten naik pitam, "saya perintahkan anda ubah arah sekarang juga!"

"Kami mercusuar pak!" ,kata sang letnan muda.

                        ****

Begitulah, Syariat Allah tertegak agung bagai mercusuar bagi kita dalam melayari kehidupan. Kita tak bisa memintanya mengubah arah ketika kita dilanda gejala menabraknya. Kitalah yang harus mengubah arah kita. Kitalah yang harus cerdas mengelola kemudi diri.

Sikap terbaik bagi kita adalah menjalankan yang jelas tersurat, dan bertanya pada ahlinya apa-apa yang tersirat.
Adakah kita masih meragukan jaminan Allah, yang termaktub dalam firman-Nya;

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu”
(QS. Al Maidah, 3).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar