Sabtu, 16 Agustus 2014

Duri Kemenangan


"Tahan dirimu hai Khalid! Jangan kau cela sahabat-sahabatku! Demi Allah, andaikan engkau memiliki emas sebesar gunung uhud sekalipun, lalu kau infakkan semua di jalan Allah. Demi Allah, itu tidak akan bisa menyamai satu genggam kurma atau setengah genggam yang mereka infakkan!!"

Semua bermula ketika Rasulullah mengutus Khalid ke sebuah perkampungan Bani Jadzimah, bukan sebagai panglima perang, dan untuk berperang, melainkan untuk menjadi Dai yang mengajak kepada Islam, agama mulia yang manjadi rahmat bagi segenap alam.

Alih-alih mendakwahkan Islam Khalid malah menangkapi dan membunuh sekian banyak di antara penduduk perkampungan itu.

 Peristiwa itu membuat Rasulullah teramat berduka, apa yang dilakukan Khalid benar-benar melampaui batas. Kini seluruh bangsa Arab terbelalak, kaum muslimin yang menjadi teladan tertinggi dalam perihidup dan etika perang, ternyata tak lebih dari sekelompok orang-orang keji.

 Karena peristiwa ini Khalid terlibat cekcok dengan Abdurrahman bin Auf, sampai-sampai Khalid mencela dan menghina Abdurrahman, dan Rasulullah pun menegur Khalid.

                                   *****
 
Teguran itu, yang membuat Khalid tersadar dari buaian gelar 'Pedang Allah Yang Terhunus'. Teguran yang bak tamparan di wajahnya, yang membuatnya menyadari siapa dirinya. Teguran yang membuatnya merenungkan kembali makna pengorbanannya untuk Islam.

Bahwa setelah kemenangan demi kemenangan yang di raih Khalid dan pasukan yang dipimpinnya, telah membuatnya terlena dan merasa berhak menghakimi orang-orang yang telah menoreh luka hatinya, ada yang terlupa olehnya, bahwa kemenangan sejati tak selalu dibawah kilatan pedang, ia juga berupa kelapangan hati kaum musyrikin menerima Islam sebagai satu-satunya pedoman hidup.

Wallahu 'alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar