Kamis, 14 Agustus 2014

Peran Kita


Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!

(Umar bin Khattab ra)

Konsistentensi Umar Al Farouq dalam jihad bukan isapan jempol, dialah yang berani terang-terangan menantang kafir Quraisy saat hendak berhijrah ke Medinah.

Namun Umar bukanlah laki-laki pemberani yang gegabah, apalagi celupan warna Islam melebur indah dalam sikap dan perilakunya, jadilah ia lelaki perkasa lagi cerdas, tegas namun sangat perasa. Kecerdasan nya yang membuatnya menolak tatkala Rasulullah hendak mengutusnya bertemu dengan kaum Quraisy, menjelang perjanjian hudaibiyah, dan ia menyarankan agar Rasulullah memanggil Utsman sebagai penggantinya.
Tentu bukan karena ia gentar. Menurut Umar, Utsman lebih tepat, Utsman begitu di cintai bangsa Quraisy, laki-laki dermawan keturunan bangsawan, ia juga lembut dan santun, karakter Utsman lebih cocok mengemban tugas sebagai duta kesepakatan damai.

Begitu lenturnya islam mengajarkan, ada saatnya tegas, ada saatnya ia begitu lembut. Islam mencakup semua dimensi hidup, karenanya setiap lelah kita, setiap tetes peluh kita, setiap bulir airmata keperihan kita, tak ada yang sia-sia. Kita tak harus jadi Umar nan gagah, atau Utsman nan pemalu, santun  lagi lembut.
Kita hanya perlu jadi sebaik-baiknya kita, seshalih-shalihnya kita, dan sekuat-kuatnya kita, lalu berharap itu menjadi pemberat timbangan kebaikan kita, kelak di yaumil hisab. Wallahu 'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar