Selasa, 19 Agustus 2014
Mengunci Pintu Kekalahan
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
(Qs, Ali Imran: 139).
Abdurrahman bin Auf datang ke Medinah, muda dan tanpa harta. Sa'd bin ArRabi, seorang Anshor yang di persaudarakan dengannya berkata, "Saudaraku terkasih di jalan Allah, sesungguhnya aku cukup memiliki harta di Medinah ini, aku memiliki dua kebun yang luas, pilihlah yang kau suka, ambillah untukmu!
Aku juga memiliki dua buah rumah yang nyaman, pilihlah! Aku akan menghadiahkannya untukmu.
Dan aku memiliki dua orang istri yang cantik, kau boleh memilih diantara keduanya yang kau suka, aku akan menceraikannya dan menikahkannya denganmu."
"Terima kasih saudaraku atas segala kebaikanmu, semoga Allah membalas nya dengan kebaikan yang berlimpah. Sebaiknya, tunjukkanlah aku jalan ke pasar." Jawab Abdurrahman bin Auf seraya tersenyum, menolak santun tawaran saudara barunya.
"Tetapi, setidaknya menikahlah.." desak Sa'd bin ArRabi.
"Insya Allah dalam sebulan ini saya akan menikah.." jawab Abdurrahman sepenuh tekad.
Begitulah, setelah di tunjukkan jalan ke pasar Abdurrahman menjadi kuli angkut di pasar, hari berikutnya ia menjadi makelar, dan hari-hari selanjutnya namanya mulai di kenal sebagai pedagang yang jujur, cerdas, dan ia menjadi pionir pemberantasan ekonomi riba ala yahudi di pasar Medinah.
Sebulan berlalu, ia bermaksud menikahi salah seorang wanita anshor, ketika ia bercerita kepada Rasulullah, Sang Nabi pun bertanya, "apa maharnya?"
"Emas seberat biji kurma ya Rasulullah, " jawabnya
"Wahai Abdurrahman, selenggarakan lah walimah meski dengan seekor kambing!"
*****
Bagi kita menjadi seorang asing di kota yang baru kita datangi, memiliki sebidang kebun, rumah dan beristri cantik, hadiah dari seorang saudara tentu lebih menjanjikan, setidaknya kita tidak terlalu bersusah payah memulai semua dengan tangan kosong.
Tapi tidak bagi seorang yang jiwanya telah tercelup sempurna dengan warna islam, baginya meskipun dijamin kehalalan dan keberkahannya hadiah dari seorang saudara sekalipun, akan menjadi beban, penyakit, dan pintu kekalahan.
Pintu kekalahan, ini juga yang mendasari keputusan Thariq bin Ziyad membakar kapal-kapal yang mengangkut dirinya dan pasukannya saat menyerbu Spanyol,
"Adalah pintu kekalahan kita, jika kita membiarkannya ada, dalam hati kita akan terbit keinginan untuk melarikan diri saat kekuatan musuh menggetarkan. Dengan membakarnya, kita hanya memiliki dua pilihan, memenangkan tanah Andalusia yang indah untuk kejayaan Islam, atau memenangkan bidadari bermata jeli yang menyongsong dengan wajah berseri."
Wallahu 'alam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar