Senin, 29 September 2014

Menikmati Kritik


Suatu hari Rasulullah SAW memberikan sandal beliau kepada Abu Hurairah seraya berkata, “Hai Abu Hurairah, pergilah kamu, bawa sandalku ini. Lalu, siapa saja yang kamu temui di balik tembok ini, yang telah menyatakan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya, dia akan masuk surga.”

Maka yang pertama-tama ditemui Abu Hurairah ialah Umar bin Khattab. Dia bertanya, “Apa maksud sepasang sandal ini, Hai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Ini sandal Rasulullah SAW. Beliau menyuruh aku membawanya (dengan pesan), siapa saja yang aku temui telah menyatakan, bahwasanya tida Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka aku beri kabar gembira, dia bakal masuk surga.”

Mendengar hal itu, tiba-tiba Umar menghantamkan tangannya ke dada Abu Hurairah sampai ia jatuh terduduk, seraya berkata, “Kembali, hai Abu Hurairah!”. Maka Abu Hurairah pun kembali menemui Rasulullah SAW setengah menangis, sementara Umar membuntutinya.

“Kenapa kamu hai Abu Hurairah?” Tanya Rasul kepada Abu Hurairah. Ia menjawab, “Saya bertemu Umar, lalu saya beritahu dia apa yang telah tuan perintahkan kepadaku, tapi tiba-tiba dia memukul dadaku sampai aku jatuh terduduk, seraya menyuruh aku kembali.”

“Hai Umar,” Rasul bertanya kepada Umar, “Kenapa kamu melakukan seperti ini?”

Umar menjawab, “Ya Rasulullah, aku tebus engkau dengan ayah bundaku, benarkah engkau menyuruh Abu Hurairah membawa sandalmu (dengan berpesan), barangsiapa yang dia temui telah menyatakan tiada Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka dia beri kabar gembira bakal masuk surga?”

“Benar,” jawab Rasul. Maka Umar menyarankan, “Jangan lakukan itu. Karena saya benar-benar khawatir orang-orang akan mengandalkan kata-kata itu saja. Sebaiknya, biarkanlah mereka beramal.” Akhirnya Rasulullah SAW pun bersabda, “Kalau begitu, biarkan mereka.”

*****

Kisah ringkas di atas diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.
Ketika kita menyampaikan sebuah kebaikan tidak semua orang menerimanya dengan perspektif yang tepat, menjadi keniscayaan bagi kita untuk memilih tema, cara dan waktu yang pas agar pesan kebaikan tersampaikan dengan baik.
Pun ketika kita rasa semuanya sudah tepat, tetaplah terbuka menerima kritik dan saran, sebab bisa jadi ada hal yang terlewat dari perhatian kita.Perhatikanlah bagaimana Rasulullah yang maksum begitu lapang menerima kritik dari sahabatnya Umar Al Farouk.

Wallahu'alam

Menangislah karena-Nya


Suatu hari, seorang tokoh bertamu ke rumah Hasan Al Basri. Sambil menunggu, ia duduk di tempat shalat ulama kharismatik itu. Tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang basah di situ. Ia melihat ke atap, tidak ada yang bocor. Dengan setengah marah, ia berkata kepada keluarga Hasan Al Basri. “Mengapa kalian membiarkan anak kecil masuk ke tempat shalat Syaikh kami?”

“Apa maksud Anda?” tanya istri Hasan Al Basri.

“Lihatlah ini. Ada ompol di tempat shalat beliau. Seharusnya tempat ini disterilkan dari anak-anak” katanya dengan nada menasehati.

“Itu bukan ompol. Bukan pula air yang tumpah. Tetapi ketahuilah, sesungguhnya setiap kali Hasan Al Basri shalat di situ, ia tak kuasa membendung air matanya. Setiap kali sujud, ia menangis dan berderailah air matanya. Hingga tempat itu hampir selalu basah dan tak pernah kering."

Pernahkah sebulir bening airmata kita menetes karena takut pada-Nya, sesering kita menangis akan derita dunia yang menimpa?

Pernahkah kita bersedih saat teringat dosa-dosa kita, sesedih saat kita kehilangan harta dunia yang kita miliki?

Ampuni hamba-Mu yaa Rabb...

Jumat, 26 September 2014

Ujian Kesenangan


Abdurrahman bin Auf pernah menggambarkan betapa beratnya ujian ini, dan betapa banyaknya orang yang tidak lulus menghadapinya,
" Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasulullah SAW dan kami dapat bersabar. Kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau wafat, dan kami pun tidak dapat bersabar."
(HR. Tirmidzi; hasan menurut Al-Albani)

Saat didera kesulitan demi kesulitan kita justru menjadi sangat kuat, karena tanpa kita sadari kita semakin dekat dengan Allah tersebab doa-doa kita.
Namun ketika dikelilingi kesenangan tak jarang kita menjadi terlena lalu lalai dari mengingat-Nya, kitapun menjadi lemah, meski sejatinya hanya sedikit ujian namun terasa sangat berat bagi kita.

Apapun bentuknya, Allah takkan berhenti memberi ujian buat kita sampai langkah kaki melenggang meniti surga.

"Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa."
(HR. Tirmidzi dan An-Nasai, dishahihkan Al-Albani)

Kamis, 25 September 2014

Laa Taghdob (Jangan Marah)


Sulaiman Ibnu Sard RA. meriwayatkan, “Pernah dua orang yang saling mencerca satu sama lain di hadapan Rasulullah Saw.. Sementara itu, kami sedang duduk di sisi beliau. Salah seorang dari mereka menghina yang lainnya dengan diiringi kemarahan, hingga merah mukanya. Maka, Rasulullah Saw. bersabda,
“Aku mengetahui suatu kalimat yang jika diucapkan olehnya (orang yang sedang marah), maka akan hilang kemarahannya. Hendaklah dia berkata, “A’udzubillahi minasy syaithaanirrajiim" (aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk).
(HR. Bukhari Muslim)

Karena kemarahan adalah bentuk hasutan syaithan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari syaitan. Dan syaitan tercipta dari api. Dan sesungguhnya, api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang diantara kalian marah, maka berwudhulah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Rasulullah dan generasi emas islam telah memberi contoh bagaimana mengelola amarah, kita semua tahu seberapa hebat kesedihan beliau tatkala seruannya di tolak kafir Quraisy, bahkan tak jarang lemparan batu, hinaan dan sumpah serapah menjadi balasannya. Jibril dan Malaikat penjaga gunung geram, lalu seperti apa ungkapan kemarahan Rasulullah?
"Aku hanya berharap semoga dari sulbi-sulbi mereka kelak terlahir hamba-hamba Allah yang beriman dan taat pada-Nya."

‪#‎IstighfarBekaliKali‬

Rabu, 24 September 2014

Pasir Dan Batu


Dua orang sahabat sedang berjalan di padang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu. Salah seorang dari kedua sahabat itu menampar temannya, dan yang ditampar itu merasa sakit tetapi dia tak berkata apa apa, hanya menulis diatas pasir : "HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPARKU"

Mereka tetap berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis (sumber air), mereka sepakat untuk mandi, teman yang telah ditampar tergelincir dan hampir saja tenggelam di oasis tersebut, tetapi temannya datang dan menolongnya, dan setelah diselamatkan oleh temannya dari bahaya, dia menulis di Batu "HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU"

Teman yang telah menampar dan yang telah menyelamatkan nyawa teman baiknya itu bertanya kepadanya, "Setelah saya menyakitimu, kamu menulisnya di pasir dan sekarang, kamu menulisnya diatas batu, mengapa?
Temannyapun menjawab : "Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas pasir, agar angin dapat menerbangkannya dan dapat menghapusnya sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik kepada kita, kita harus mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yang dapat menghapusnya.."

Memberi maaf, meski hanya dalam diam, membuat dua jiwa mudah kembali menyatu, dan menumbuhkan sikap saling memahami.
Maka, mari belajar dari kisah ini, saling memaafkan, dan menuliskan setiap kebaikan itu di atas 'BATU' agar kebersamaan kita dengan siapapun selalu tumbuh dalam makna-makna yang kuat dan dalam.
Dan jiwa kita tumbuh saling menyatu, seperti sabda Rasulullah,
"Jiwa-jiwa itu seperti prajurit-prajurit yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan melembut dan menyatu, dan jika tak saling mengenal mereka akan saling berselisih dan berpisah.."
(HR. Muslim)

Senin, 22 September 2014

Menukar Syahid Dengan Fitnah (Wanita)


"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita"
(Muttafaq 'Alaih)

Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah seorang tabiin (270H) yang hafal qur'an. Namanya adalah sebaik-baik nama, Abdullah bin Abdurrahim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya didunia ini seorang mujahid nan hafal quran. Namun lacur akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang hafalannya kecuali 2 ayat yang tersisa. Yaitu surah al hijr ayat 2-3,

"Orang-orang kafir itu diakhirat nanti sering menginginkan, andai didunia dulu mereka muslim. Biarkanlah mereka makan dan senang2, dilalaikan oleh angan2 kosong belaka, kelak mereka akan tahu akibatnya".

Seolah ayat ini menjadi peringatan Allah yang terakhir namun tak digubrisnya. Apakah penyebabnya? Penyebabnya adalah wanita !!

***

Pedangnya masih berkilat-kilat memantul sinar mentari. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya. Tak disangka nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita romawi, tidak dengan pedang melainkan dengan asmara.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi.
Tiba-tiba mata Abdullah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tuk lolos dari su'ul khotimah. Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:

"Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?"
Perempuan itu menjawab: "Kakanda, masuklah agama kami maka aku jadi milikmu."

Syahwat telah memenuhi relung hati Abdullah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta alquran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Astaghfirullah, ma'adzallah.

Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudera. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad. Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorang hafidz yang hatinya dipenuhi alqur'an meninggalkan Allah dan menjadi hamba syahwat? Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Dikatakannya bahwa ia telah lupakan qur'an kecuali 2 ayat diatas saja dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum Romawi. Dalam keadaan seperti itulah dia menutup hidupnya. Na'udzubillah..

Rabbana, jika dua amalan hebat itu saja tak menjadikan hamba-Mu yang shalih mampu meredam fitnah, apatah lagi secuil tilawah dan sebutir peluh kami saat mencari nafkah, itupun disertai keluh kesah.
Maka ampuni kami ya Rabb..lindungi kami dari dahsyatnya fitnah dunia...

*Disarikan dari tulisan DR. Hamid Ath Thahir dalam buku Dibawah Kilatan Pedang (101 kisah heroik mujahid)

Minggu, 21 September 2014

Hidup Memang Perjuangan


Alkisah, di suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama
berjam-jam, sementara si petani sibuk memikirkan langkah apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya, si petani mengambil keputusan dramatis. Dengan alasan si keledai itu sudah tua dan sumur juga perlu di timbun
( di tutup karena berbahaya ), jadi tak ada gunanya menolong si keledai. Malah dia mengajak para tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, si keledai menyadari apa yang sedang terjadi dan dia menangis penuh kesedihan. Tapi kemudian semua
orang takjub karena si keledai menjadi diam justru setelah orang-orang bermaksud menguburnya hidup-hidup…setelah
beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani dan tetangganya melihat ke dalam sumur. Mereka
tercengang dengan apa yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya terus tertimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang
menakjubkan. Dia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara para tetangga si petani terus menuangkan tanah ke atas punggung hewan itu dan si keledai terus mengguncang-guncangkan badannya lalu melangkah naik.
Setapak demi setapak. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncat ke tepi sumur dan melarikan diri… !!!

Begitu juga hidup ini, setiap masalah-masalah merupakan satu pijakan untuk terus melangkah….kita dapat keluar dari
masalah yang sangat berat dengan terus berjuang dan pantang menyerah.
Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, tapi inilah satu-satunya waktu yang kita miliki
saat ini…manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya ..

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟَﺎﻫَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻨَﺎ ﻟَﻨَﻬْﺪِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺳُﺒُﻠَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟَﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ. ﺍﻷﻧﻜﺒﻮﺕ

" Adapun orang-orang yang berjihad (mempersungguh) di dalam urusanKu maka akan Aku ( Allah ) tunjukkan jalanKu
pada mereka, sesungguhnya Allah niscaya beserta orang-orang yang berbuat baik".
(QS al-Ankabut 69)

Bermula Dari Senyum


Nabi Muhammad saw telah bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Hadits Riwayat At Tirmidzi dalam sahihnya.

Dalam Hadits lain yang diriwayatkan Ad-Dailamy, Rasulullah SAW bersabda:
”Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak: tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar ma’ruf nahyi muunkar, menyingkirkan penghalang (duri, batu) dari jalan, menolong orang, sampai senyum kepada saudara pun adalah sedekah.”

Anas bin Malik bertutur: “Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah saw, saat itu beliau memakai selimut dari daerah Najran yang ujungnya sangat kasar. Tiba-tiba ia ditemui seorang Arab dusun. Tanpa basa basi, laki-laki dusun itu langsung menarik selimut kasar Rasulullah saw itu keras-keras sehingga aku melihat bekas merah di pundak Rasulullah saw... Laki-laki dusun tersebut berkata, ‘Suruh orang-orangmu untuk memberikan harta Allah kepadaku yang kau miliki sekarang.’ Rasulullah saw lalu berpaling kepada laki-laki tadi. Sambil tersenyum, beliau bersabda, ‘Berilah laki-laki ini makanan apa saja’.” (HR Bukhari).

Senyuman yang tulus dari seseorang memberikan refleksi kejiwaan positif kepada orang lain. Bahkan senyuman juga memiliki efek positif bagi diri sendiri, betapa banyak para pakar kesehatan yang menemukan manfaat senyum bagi kesehatan. Selain mengurangi kerut pada wajah senyuman juga dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi stress, sampai meningkatkan kekebalan tubuh.
Seorang muslim selalu diajarkan agar memiliki sifat lapang dada dan senantiasa terbuka menebarkan senyuman kepada orang lain.

Lebih jauh tentang makna senyuman, seorang muslim yang tersenyum sama saja telah menebarkan kegembiraan dan kasih sayang melalui senyumannya. Sejalan dengan misi Islam menebarkan keceriaan di muka bumi ini.
Salah seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah menuturkan tentang Rasulullah SAW, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW.”
(HR Tirmidzi).

Sabtu, 20 September 2014

Yang Dicemburui Shahabat Dan Syuhada


"Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yg bukan nabi, dan bukan pula syuhada, tapi bahkan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti, tersebab kedudukan yang diberikan oleh Allah pada mereka," ujar Rasulullah.
"Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka?"pinta para sahabat.
"Mereka itu adalah segolongan manusia yg saling mencintai karena rahmat Allah, bukan oleh sebab kekerabatan dan darah,
bukan pula karena didasarkan pemberian harta.
Demi Allah, wajah mereka pada hari itu bersinar cemerlang dan mereka berada di atas cahaya.
Mereka tiada merasa khawatir ketika manusia lain ketakutan,
dan tidak bersedih saat yang lain berduka," jawab Rasulullah.
( HR Imam Abu Dawud )

kawan, adakah persahabatan, persaudaraan dan keterikatan yg lebih indah dari menyatunya hati-hati dalam taat pada Rabb nya?
maka peluklah ia, bertahanlah dengan segala kekurangannya, sebab kekeruhan dalam kebersamaan jauh lebih baik daripada kejernihan dalam kesendirian, tidakkah kita ingin dicemburui para nabi dan syuhada?

Jumat, 19 September 2014

Dengan Apa Kita Beli Surga


“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka”. (At Taubáh: 111)

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
"Allah berfirman (artinya): ''Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan Al jannah) yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, serta terlintas di hati manusia. (HR. Muslim no. 2824)

Lalu dengan apa kita membeli surga, meraih keindahannya, merasakan kenikmatannya. Sedang shalat kita, sedekah kita, puasa kita, bahkan tilawah kita, bukanlah yang terbaik yang kita persembahkan. Jangan lagi bicara jihad (amalan utama bagi Muslim) yang membuat banyak dari kita tersurut mundur perlahan dengan beragam alasan. Lihatlah amalan harian kita. Shalat kita terburu-buru jauh dari khusyu, sedekah kita ragu-ragu, puasa kita penuh keluh, tilawah kita berhias ujub berbungkus riya dan cenderung seadanya.

Padahal ketika kita membiasakan diri tenggelam dalam lantunan ayat-ayat Al-Qur'an, membacanya dengan tartil sebagaimana Al-Qur'an diturunkan, Rasulullah menjaminkan tempat istimewa di surga. Karena tempat kita (disurga) ada di ayat terakhir yang kita baca. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah bersabda, "Dikatakan kepada orang yang tekun membaca Al-Qur'an, Bacalah dan naiklah dengan pelan-pelan, seperti kamu membacanya sewaktu di dunia, karena sesungguhnya tempatmu ada pada ayat terakhir yang kamu baca." (HR. Abu Dawud)

wallahu'alam bis showab

Kamis, 18 September 2014

Tempat Duduk Di Surga


“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. 62:9)

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Demi Allah, sungguh maksudnya bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 4/385-386).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Hari Jum’at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum’at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan. (Zadul Ma’ad: 1/398).

Lalu jadilah langkah kita seringan udara, setulus hembusnya, selayak hamba yang menyambut panggilan cinta Yang Maha Pemurah.
Menambat jiwa pada baris-baris doa yang kelak mengantar kita pada indahnya taman-taman surga..

Meski Asing Dan Tak Dikenal


Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.
(Qs, Hud : 116)

Dari Abdullah Bin Umar,
"Suatu kali selagi kami bersama Rasulullah SAW, beliau bersabda, "beruntunglah orang-orang asing!"
kami bertanya, "wahai Rasulullah siapakah orang-orang asing itu?"
Beliau menjawab, "orang-orang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah orang-orang yang banyak. Siapa yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang taat pada mereka."

***

Suatu ketika Umar Bin Khaththab memasuki masjid, dan mendapatkan Muadz Bin Jabal sedang duduk menghadap ke arah rumah Nabi SAW, sambil menitikkan airmata.
Umar bertanya, "mengapa engkau menangis wahai Abu Abdurrahman?"
Muadz menjawab, "saudaramu ini telah binasa.."
"Tidak", kata Umar, "tetapi aku pernah mendengar sebuah hadits yang di sampaikan kekasihku Rasulullah SAW, juga di masjid ini."
"Apa bunyi hadits itu?" Tanya Muadz.
Umar menjawab," sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang suka sembunyi-sembunyi, miskin, bertaqwa, dan berbuat kebajikan. Jika mereka tidak tampak, mereka tidak dicari, dan apabila mereka tampak, mereka tidak dikenali. Hati mereka adalah pelita-pelita petunjuk. Mereka keluar dari segala cobaan yang buta dan gelap."

Menjadi terlihat asing karena sebuah prinsip kebenaran yang bersumber dari Ilahi adalah sebuah kebahagiaan, meski kita golongan yang sedikit. Bukankah banyak sejarah membuktikan kekuatan dan kesolidan mereka yang sedikit telah menjungkalkan kekuatan-kekuatan besar.

Wallahu 'alam

Sabtu, 13 September 2014

Air Di Gurun


Seorang pria tersesat di gurun pasir. Ia hampir mati kehausan. Akhirnya, ia tiba di sebuah rumah kosong. Di depan rumah tua tanpa jendela dan hampir roboh itu, terdapat sebuah pompa air. Segera ia menuju pompa itu dan mulai memompa sekuat tenaga. Tapi, tidak ada air yang keluar.

Lalu ia melihat ada kendi kecil di sebelah pompa itu dengan mulutnya tertutup gabus dan tertempel kertas dengan tulisan,”Sahabat, pompa ini harus dipancing dengan air dulu.. Setelah Anda mendapatkan airnya, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum Anda pergi.” Pria itu mencabut gabusnya dan ternyata kendi itu berisi penuh air.

“Apakah air ini harus dipergunakan untuk memancing pompa? Bagaimana kalau tidak berhasil? Tidak ada air lagi. Bukankah lebih aman saya minum airnya dulu daripada nanti mati kehausan kalau ternyata pompanya tidak berfungsi? Untuk apa menuangkannya ke pompa karatan hanya karena instruksi di atas kertas kumal yang belum tentu benar?” Begitu pikirnya.

Untung suara hatinya mengatakan bahwa ia harus mencoba mengikuti nasihat yang tertera di kertas itu, sekali pun berisiko. Ia menuangkan seluruh isi kendi itu ke dalam pompa yang karatan itu dan dengan sekuat tenaga memompanya.

Benar!! Air keluar dengan melimpah. Pria itu minum sepuasnya.

Setelah istirahat memulihkan tenaga dan sebelum meninggalkan tempat itu, ia mengisi kendi itu sampai penuh, menutupkan kembali gabusnya dan menambahkan beberapa kata di bawah instruksi pesan itu:

“Saya telah melakukannya dan berhasil. Engkau harus mengorbankan semuanya terlebih dahulu sebelum bisa menerima kembali secara melimpah.."

PERCAYALAH!!

"Jika kalian berbuat Baik (berarti) kalian berbuat Baik untuk dirimu sendiri,Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.. "
(QS. Al Isra : 7)

Jumat, 12 September 2014

Ketika Perut Rasulullah Berbunyi


Suatu ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat. Para sahabat yang menjadi makmum di belakangnya mendengar
bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu, langsung bertanya setelah selesai sholat, ”Ya Rasulullah, kami
melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit?”

Namun Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

Mendengar jawaban ini Sahabat Umar melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa setiap kali Anda menggerakkan
tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami
yakin engkau sedang sakit…”

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya,Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut.
Ternyata perut Rasulullah yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak. Umar memberanikan diri berkata,

”Ya Rasulullah! Adakah bila Anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami hanya akan tinggal diam?”

Rasulullah menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku.
Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu ini.
Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya?”

Para sahabat hanya tertegun. Rasulullah melanjutkan, ”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak
tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

aamiin ya robbal alamiin

Kamis, 11 September 2014

Kita Yang Selalu Menang


Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu, terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah
menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).
( Al-Fath : 1-3 )

Bukit Uhud menjadi saksi sejarah, bukan hanya tentang luka pasukan Muslim, lebih dari itu, betapa kita melihat pengorbanan, kesetiaan, dan cinta yang begitu indah.

Bukan hanya tentang syahidnya shahabat-shahabat utama yang memerihkan hati Sang Nabi, lebih dari itu, betapa semangat pejuang-pejuang Muslim tidak bisa tidak, telah menciut-lunakkan nyali musuh-musuh Islam, dan sungguh menyisakan tanya, mantra apa yang dibacakan Muhammad? mereka berperang seperti memiliki ribuan nyawa.

Ada yang terlupakan oleh para musuh-musuh Allah, bahwa Kaum Muslim sejatinya telah meraih kemenangan, bahkan sebelum mereka berperang. Karena Allah membersamai mereka dalam setiap hembus nafas, dalam setiap kerjap mata, dalam setiap gerak langkah.

Dengarlah teriak lantang para mujahid,"Hidup Mulia atau Syahid di jalan-Nya !!!

Sedekat Malaikat Dengan Rabbnya


“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”
(HR Bukhari Muslim)

Muda, tampan, cerdas, kaya, keturunan keluarga terpandang, santun, sungguh tipikal pemuda dambaan. Ia memiliki minyak wangi khusus yang hanya satu-satunya di mekkah, hingga tatkala ia lewat dari wanginya orang-orang akan mengenalinya, dialah Mushab bin Umair.

Namun cahaya islam menelusup hatinya, ia pun menyatakan keislaman dihadapan Sang Nabi, yang berbuah kemurkaan dari orangtuanya.
Segala upaya dilakukan orangtuanya, mulai dari mencabut semua fasilitas kemewahan yang biasa di kenakan anaknya, hingga aksi mogok makan sang Ibu, agar Mush'ab merasa iba dan membatalkan keislamannya.

Dengan raut sedih karena kecintaannya kepada ibunya di satu sisi, dan ketenangan dan kebahagiaannya karena telah mendapatkan cahaya islam di sisi yang lain. Mush'ab berucap lirih,"duhai bunda seandainya ada seratus nyawa yang engkau miliki, lalu ratusan kali engkau mengorbankan diri agar aku meninggalkan islam, sungguh aku lebih memilih islam."

Suatu ketika ia duduk disisi Rasulullah, diantara kaum muslimin lainnya. Mereka yang melihat penampilan Mush'ab dengan baju penuh tambalan tertunduk haru.
Dengarlah ungkapan cinta Rasulullah kepadanya, "Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Betapa Rasulullah teramat berduka tatkala menyaksikan jasad Mush'ab yang terbujur, ia syahid di bukit uhud usai bertempur membela Allah dan Rasulnya.
Hanya sehelai kain lusuh penutup tubuh yang jika ditutupi kepalanya, maka menyembul kedua kakinya, dan jika ditutupi kakinya wajah agungnya akan terlihat.
Sang Nabi pun bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!"

Rasulullah memandangi tubuh mulia itu, seraya berkata,
"Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah."

Malaikat pun Mendoakan Kita


Sayyidah Fathimah putri kesayangan Rasulul senantiasa melaksanakan shalat tahajud di rumahnya.
Ia menghabiskan malam-malamnya dengan Qiyamullail & doa.
Hasan bin Ali, putranya sering mendengar munajat sang bunda.

Suatu pagi, ketika Sayyidah Fathimah selesai berdoa,Hasan kecil bertanya, "Ya Ummi, dari tadi aku mendengarkan doamu, tetapi tak satu pun doa yang kau panjatkan untuk dirimu sendiri?"

Fathimah menjawab dengan lembut, "Nak, doakan dulu tetanggamu karena ketika para malaikat mendengar kau mendoakan tetanggamu, niscaya mereka akan mendoakanmu. Adakah yang lebih baik daripada doa para malaikat yang dekat dengan Allah?"

Apabila salah seorang mendoakan saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui oleh yang didoakan, para malaikat berkata, "Amin, semoga engkau memperoleh pula sebagaimana yang engkau doakan itu." (HR Muslim dan Abu Dawud)

Yaa Allah semoga pagi ini saudara kami, tetangga kami senantiasa dalam kebahagiaan..

Tuntun langkah mereka dalam menelusur jalan-jalan kebaikan..

Lapangkan hati mereka terhadap sesuatu yang tak selaras keinginan..

Anugerahkan rasa syukur atas nikmat-Mu yang tak terbilang..

Surga Sebelum Surga


Tidak ada kenikmatan, kelezatan, kesenangan dan kesempurnaan kecuali dengan mengetahui Allah dan mencintai-Nya. Merasa tentram saat menyebut-Nya, senang berdekatan dengan-Nya dan rindu bersua dengan-Nya. Itulah surga dunia bagi seorang hamba.
Sebagaimana dia tahu bahwa kenikmatannya yang hakiki adalah kenikmatan di akhirat dan di surga.
Dengan begitu dia mempunyai dua surga, surga yang kedua tidak di masuki sebelum dia memasuki surga yang pertama.

Kami pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Sesungguhnya di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memasuki surga di akhirat."

Sebagian orang arif berkata, "Hari-hari telah berlalu dan dapat dirasakan hati."
Maka saya katakan, "jika para penghuni surga seperti ini keadaannya, tentunya mereka benar-benar dalam kehidupan yang sangat menyenangkan."

Sementara sebagian yang lain berkata, "Para penghuni dunia yang celaka keluar dari dunia tanpa merasakan kenikmatan sedikitpun yang ada di dalamnya."
Orang-orang bertanya, "Lalu apakah yang paling nikmat di dunia ini?"
Dia menjawab, "Mencintai Allah, bersama-Nya, kerinduan bersua dengan-Nya, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari hal-hal selain-Nya.

(Ibnu Qayyim ~ Madarijus Salikin)

Selasa, 09 September 2014

Pena Dari Ilalang


"Di setiap kota terdapat pusat pembangkit listrik, para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran listrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah dan tempat lain.
Jika listrik itu dimatikan dari pusat pembangkitnya, seluruh kota akan gelap. Padahal saat itu tenaga listrik masih ada dan tersimpan di pusat pembangkit listrik, hanya saja tenaga listrik itu tidak dimanfaatkan."
(Hasan Al Bana)

"Begitu juga dengan Al-Qur'an," kata Abbas As Siisi dalam bukunya 'At-Thariq Illal Qulub', "ia pusat pembangkit 'tenaga' bagi umat Islam, tetapi sumber pembangkit itu kini dicampakkan oleh umat Islam sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan masyarakat menjadi rusak."

"Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita menuju cahaya... (QS. Al-Maidah : 15-16)

Demikianlah Allah menurunkan Al-Qur'an kepada kita, ia menjadi sebesar-besar energi dalam kehidupan kita.
Maka berbahagialah ketika kita berada di tengah-tengah komunitas yang berusaha dekat dengan Al-Qur'an, membacanya, menghafalnya, mengkaji dan sekuat upaya mengamalkannya.
Setidaknya kita telah berupaya menjadi orang-orang yang berusaha menjaga aliran listrik itu agar tetap terang dan bisa memberi manfaat bagi orang lain.

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.."
(Qs, Al-An'am : 122)

Pekerti Sebening Embun


"Dan sesungguhnya engkau -hai Muhammad- adalah memiliki budi pekerti yang luhur." (al-Qalam: 4)

Siapapun yang hari-harinya bersama Rasulullah, pasti menyangka dirinyalah yang paling dicintai oleh Rasulullah. Kita tahu seperti apa cinta Rasulullah kepada Abu Bakar pun sebaliknya, cinta mereka begitu menyejarah dalam perjalanan hijrah, tatkala keduanya sembunyi di gua tsur. Kita juga tahu seperti apa cinta Rasulullah kepada Umar, Utsman, Ali dan sahabat2 mulia yang lain, tak terkecuali kepada Julaibib ra laki-laki hitam pendek yang tak di pandang sebelah mata oleh orang2 medinah. Resapilah sekelumit kisahnya...

Suatu saat usai dari sebuah peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya: "Siapa saja yang gugur di jalan Allah?"

Mereka menjawab: " Fulan dan fulan, wahai Rasulullah".

Mereka tidak menyebutkan nama yang dicari oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yakni Julaibib Radhiyallahu anhu .
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali menanyakan kepada para sahabat, dan jawaban mereka sama.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru: "Sesunguhnya aku telah kehilangan salah seorang sahabatku, Jualaibib. Carilah ia!"

Para sahabat segera mencari jasad Julaibib Radhiyallahu anhu . Dan mereka mendapatkan jasadnya tersungkur. Di sekelilingnya terdapat tujuh jasad orang kafir.

Segeralah para sahabat memberitahukan kepada Rasulullah tentang Julaibib Radhiyallahu anhu , maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menghampiri jasadnya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di sampingnya dan bersabda: " Dia telah membunuh tujuh orang ini, kemudian mereka membunuhnya. Sesungguhnya, ia adalah aku, dan aku adalah dia". Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali.

Kemudian, dengan penuh lemah lembut dan kasih sayang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat jasadnya dan menyandarkan di lengannya.

Sebaik-baik Ibadah


Seringkali waktu yang singkat menjadi terasa panjang dan melelahkan karena keadaan yang bersamanya tidak menyenangkan kita.
Ia menghimpun kita dengan kondisi yang tak sesuai dengan harapan kita.
Pada keadaan seperti ini yang kita perlu adalah kesabaran, kesabaranlah yang akan membantu kita menjadikan waktu sebagai penyelesai masalah.

"Dan ketahuilah bahwa kemenangan datang setelah kesabaran dan kemudahan datang setelah kesulitan". Demikian sang Nabi menasehati.

Biarkan kejadian demi kejadian mengalir di jalan yang telah ditentukan.
Dan janganlah tertidur kecuali dengan pemikiran yang jernih, antara saat memejamkan mata dan membukanya, Allah mengubah segala sesuatu dari satu kondisi ke yang lainnya.

Lepaskanlah!


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.." (Qs.Al-Baqarah:216)

"Jika engkau mengetahui bahwa ketika engkau menuntut segala sesuatu sesuai dengan keinginan dan seleramu, serta tidak menginginkan sesuatu kecuali yang engkau sukai, maka berhati-hatilah! Sebab dengan demikian engkau harus bersiap-siap untuk terjatuh ke dalam lembah kesedihan. Engkau akan merintih ketika kehilangan apa yang engkau impikan, bahkan bisa jadi engkau malah tidak memperoleh apa yang engkau perlukan. (Aidh Al Qarni)

Pemahaman Yang Tulus


Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)". (Al An'am : 59)

Hidup harus menerima, dengan penerimaan yang indah. hidup harus mengerti, dengan pengertian yang benar. hidup harus memahami, dengan pemahaman yang tulus. tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. tak masalah meski lewat kejadian sedih dan menyakitkan. layaknya daun yang jatuh tak pernah membenci angin…
(tere liye, Daun Jatuh Tak Pernah Membenci Angin)”

3 Hal Yang Melalaikan


Menurut Ibnu Mas'ud, ada tiga hal yang dapat melalaikan manusia;

Pertama, betapa banyak manusia yang dihukum secara berangsur-angsur melalui kesenangan yang diberikan kepadanya.

Ini yang dikhawatirkan Rasulullah dalam haditsnya,

”Demi Allah, bukanlah kefakiran(kemiskinan) yang aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yg aku khawatirkan atas kalian adalah bila kalian telah dibukakan (harta) dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-lomba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba memperebutkannya sehingga harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka." (HR. Bukhari)

Kedua, betapa banyak manusia yang mendapat cobaan melalui pujian oranglain kepadanya.

Suatu ketika seorang memuji-muji kawannya di hadapan Nabi Saw, lalu beliau berkata kepadanya, “Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang)”. (HR. Ahmad)

Ketiga, betapa banyak manusia yang terpedaya karena kelemahannya disembunyikan oleh Allah.

Benarlah yang dituturkan Muhammad Waasi rahimahullah,"Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tdk seorangpun yang mau duduk bersamaku"
Jangan pernah ujub dengan amalan kita, jangan pernah terpedaya dengan pujian mereka yang memujimu, kalau ada satu aib kita saja diungkap oleh Allah maka semua pujian akan menjadi celaan.

Lelaki Yang Di Cintai Allah


Ketika seorang laki-laki berada di sebuah tanah lapang yang sunyi, dia mendengar sebuah suara di angkasa, “Berilah air pada kebun si Fulan!” Awan itu pun bergerak lalu mencurahkan airnya di satu bidang tanah yang berbatu hitam. Ternyata saluran air dari beberapa buah jalan air yang ada telah menampung air tersebut seluruhnya. Dia pun mengikuti air itu. Ternyata dia sampai kepada seorang pria yang berdiri di kebunnya sedang mengubah aliran air dengan cangkulnya.
Laki-laki tadi berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, siapa namamu?”
Petani itu menjawab, “Nama saya Fulan.” Dia menyebutkan nama yang tadi didengar oleh lelaki pertama dari angkasa.
Si petani bertanya kepadanya, “Wahai hamba Allah, mengapa Anda menanyakan nama saya?”
Kata lelaki itu, “Sebetulnya, saya tadi mendengar sebuah suara di awan yang airnya baru saja turun dan mengatakan, ‘Berilah air pada kebun si Fulan!’ menyebut nama Anda. Apakah yang Anda perbuat dengan kebun ini?”
Petani itu berkata, “Baiklah, kalau Anda mengatakan demikian. Sebetulnya, saya selalu memerhatikan apa yang keluar dari kebun ini, lalu saya menyedekahkan sepertiganya, sepertiga berikutnya saya makan bersama keluarga saya, dan sepertiga lagi saya kembalikan (untuk modal cocok tanam)

(HR Muslim)

Tentang Takdir


“Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”

(Ibnu Katsir)

Karena mudah saja bagi Allah mengkondisikan kita pada kondisi yang sama sekali tidak kita duga, seringkali kita melihat begitu cepatnya Allah mengangkat derajat seseorang dari kepapaan menjadi berkelebihan, pun sebaliknya. Karenanya yang terpenting bagi kita bukanlah pada kondisi seperti apa saat ini kita, tapi seperti apa sikap kita dalam menjalani segala ketetapan- Nya.

Dosa Yang Mengantar Ke Surga


Salafus Shaleh pernah mengatakan:

“Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang
karenanya ia masuk Neraka.”

Bagaimana kok begitu?

Bila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal
sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih).
Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya
selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia
menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya.
Akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi
akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk SyurgaNya.

Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia
merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu.
Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya
dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.

Wallahu a'lam.

-Ustadz Zainal Muttaqin-

Angan-angan


Orang yang lemah adalah orang yang kekurangan dalam semua perkara. Di samping kekurangannya dalam ibadah kepada Rabbnya, dan terus mengikuti hawa nafsunya. Ia masih berangan-angan kepada Allah agar mengampuninya. Itulah orang yang terpedaya.

Hasan Al Bashri berkata: "Sesungguhnya suatu kaum dilalaikan oleh angan-angan, sehingga ia keluar dari dunia tanpa mempunyai amal kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata, "Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabbku.."
Dia bohong! Jika ia benar-benar berbaik sangka (husnudzon) tentu ia memperbaiki amal perbuatannya."

Lalu sang Imam juga membaca firman Allah,
"Dan yang demikian itu adalah prasangka mu yang telah kamu sangka terhadap Rabb mu. Prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi."
(Qs, Fushshilat : 23)

Said bin Jubair rahimahullah berkata, "Ia yang terpedaya dengan Allah adalah seseorang yang terus-menerus melakukan maksiat dan berangan-angan mendapat ampunan Allah.."

Baqiyyah bin Al Walid rahimahullah berkata, Abu Umair rahimahullah menulis kepada sebagian saudara-saudaranya, "Amma ba'du, sesungguhnya engkau menjadi berharap banyak kepada dunia dengan panjangnya usiamu, dan berangan-angan kepada Allah dengan buruknya perbuatanmu.
Sesungguhnya engkau hanyalah memukul besi yang dingin."

Senin, 08 September 2014

Allah.. Kuatkan Aku..


“Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang di luar batas kemampuannya.”
(QS. Al Baqarah : 286)

Betapa waktu telah membuktikan, sampai hari ini berapa banyak beban, ujian, derita yang pada mulanya membuat kita payah, gelisah bahkan nyaris putus asa, nyatanya kita bisa melewati itu semua.

Ketidaktahuan dan kelemahan kita yang membuat setiap ujian, masalah menjadi begitu berat, dan tidak jarang kesadaran baru muncul bersama berlalunya beban.

Kita bodoh, kita lemah, maka seyogyanya kita resapi petuah orang-orang bijak,

"Jika beban di pundakmu terlalu berat, Jangan kamu memohon agar beban itu dikurangi, tetapi mohonlah agar diberi/ditambah kekuatanmu Agar dapat membawa beban itu".

3 Sungai


Orang-orang yang berdosa memiliki tiga sungai besar yang bisa di pergunakan untuk membersihkan dosa-dosanya di dunia, ketiganya adalah;

(1) Sungai At-Taubatun Nashuh

Seperti Yang tertulis dalam Al-Quran surat At-Tahrim :8
"Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

"Taubatan nashuha artinya taubat dari suatu dosa dan pelakunya tidak mengulanginya lagi, sebagaimana air susu tidak dapat kembali ke kantong kelenjarnya", begitulah Umar Bin Khattab mendefinisikan.

(2) Sungai kebaikan yang menghapus kesalahan-kesalahan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Hud: 114)

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah bahwa dahulu ada seorang lelaki mencium seorang perempuan (yang tidak halal baginya). Kemudian lelaki itu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan perbuatannya. Maka turunlah kepadanya ayat tersebut. Orang itu berkata, “(Wahai Nabi), apakah hal ini khusus bagiku?” Nabi menjawab, “Bagi orang yang mengamalkannya dari umatku.” (Shahih Al-Bukhari no. 4687)

(3) Sungai musibah dan bencana yang membersihkan dari dosa-dosa.

Rosulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh ALLAH mendapat kebaikan, akan diuji oleh-NYA dengan suatu musibah” (HR. Bukhari)

"Seorang mukmin akan sering mengalami derita sakit dan sedih pada anggota badan dan jiwanya. Atau mendapat musibah dalam harta dan keluarganya. Gangguan-gangguan tersebut menjadi cobaan baginya yg akan menghapus dosa dan keburukan dirinya, lalu terangkatlah derajadnya disisi ALLAH."
(Imam Nawawi)

Sabtu, 06 September 2014

Meski Sedikit


"Amalan seorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke dalam surga."
para sahabat bertanya,"begitu pula engkau wahai Rasulullah?"
"begitu pula aku, kecuali Allah meliputiku dengan kemurahan dan rahmat-Nya." (HR. Bukhari)

Betapa kita telah mendengar kisah bagaimana Rasulullah mengabarkan kepada Bilal, tentang amalannya yg menyebabkan suara terompahnya terdengar di surga, dari sekian banyak kisah fenomenalnya dalam memperjuangkan keislamannya, dua rakaat shalat sunahnya setelah wudhu lah yang menjadi sebab rahmat Allah membawanya ke surga.

Atau kisah seorang sahabat yg amalannya biasa-biasa saja, tapi Rasulullah berulang Kali menyebutnya 'ahli surga', hingga membuat penasaran sahabat lainnya. Sampai-sampai salah satu dari mereka menginap beberapa hari di rumah si ahli surga untuk mencari tahu, amalan apa yang menyebabkan ia disebut-sebut Rasul, sebagai ahli surga.
Ternyata menanggalkan kesumat dan mendoakan saudara seiman menjadi amalan rutinnya sebelum tidur.

Bahkan dalam sebuah hadits dikisahkan ada seorang laki-laki yang mondar-mandir disurga, tersebab semasa hidupnya ia pernah menyingkirkan seranting pohon yang kerap menghalangi orang-orang yg lewat.

Alangkah bahagianya jika sedikit amalan kita yang kita rutinkan menjadi sebab turunnya rahmat Allah, yang pada akhirnya membawa langkah kaki kita menapak di surga.

Hanya Dengan mengingat-Nya


"Di hati terdapat serpihan-serpihan terserak yang takkan bisa terhimpun kecuali dengan mendatangi Allah,

Ada kegundahan karena kesendirian yang takkan hilang selain dengan kesenangan bersunyi-sunyi dengan Nya,

Ada kesedihan yang takkan berlalu kecuali dengan kegembiraan mengenal Nya dan benar dalam berhubungan dengan Nya ….”

Ibnu Qayyim - Madarijus Salikin

Karena hanya dengan mengingat Allah hati-hati manusia menjadi tenang. Bagaimanapun telah Allah tanamkan nilai-nilai Rabbani ke dalam jiwa manusia, itulah sebabnya sekotor apapun ia, seberapapun banyaknya dosa, sekelam apapun masalalunya. Akan ada rasa sejuk menyergap dinding sanubari saat satu sisi hatinya mulai tersentuh nilai-nilai kebaikan. Akan ada butir bening mengalir dari kedua mata saat menyadari segala khilaf dan alpa yang kadung terlaku.

Bangunlah di sepertiga malam, berwudhulah, lalu tumpahkanlah segala rasa pada Sang Pemilik Jiwa.
Itu menjadi semacam pit stop, rest area atau apalah.. yang membuat beberapa saat berikutnya kita seperti memiliki tenaga baru, semangat baru.
Begitulah orang-orang shalih terdahulu menguatkan hatinya dalam menjalani hidup.

Bahkan Rasulullah menjadikan setiap shalat sebagai rehatnya,
“Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Dalam kesempatan lain beliau juga bersabda,
“Dan ketenanganku dijadikan di dalam shalat.” (HR. Ahmad)

Selasa, 02 September 2014

Mulailah Dengan Percaya


Suatu hari di tahun ketiga kuliahku, 1978, Profesor Morrie Schwartz berkata bahwa dia mempunyai satu latihan yang harus kami coba. Kami diminta berdiri tegak, membelakangi teman sekelas yang berkerumun agak jauh. Kami lalu disuruh menjatuhkan badan ke belakang, mempercayakan diri kepada mereka untuk menangkap tubuh kami.

Kebanyakan dari kami tidak merasa tenang, dan menjatuhkan diri dengan takut-takut, tidak bebas, dan menjejakkan salah satu kaki padahal tubuh kami baru miring beberapa derajat.

Akhirnya tampillah seorang mahasiswi kurus, pendiam, yang selalu memakai sweater. Dia menyilangkan tangan di depan dada, memejamkan mata, kemudian menjatuhkan diri ke belakang tanpa ragu. Tubuhnya lurus. Dia sama sekali tak melengkungkan badan mendahulukan pinggul seperti kami tadi yang takut-takut.

Sesaat kami khawatir bahwa dia akan berdebam membentur lantai. Tapi pada detik terakhir, beberapa kawan yang ada di belakangnya bergerak sangat cepat menahan tubuh dan kepala mahasiswi itu, lalu membuatnya tegak kembali. Kami semua terpekik, lalu bersorak dan sontak bertepuk tangan.

Profesor Morrie tersenyum.
"Kau lihat," ujarnya kepada mahasiswi itu dengan mata berbinar, "kau memejamkan mata. Itulah bedanya. Kadang kita tidak boleh percaya kepada apa yang kita lihat, kita harus percaya pada apa yang kita rasakan. Dan jika kita ingin agar orang lain mempercayai kita, kita juga harus merasa kita bisa mempercayai mereka, meski kita sedang berada dalam kegelapan, atau bahkan ketika kita sedang jatuh."

(Mitch Albom dalam Tuesdays with Morrie)
                           
                                 *****

"Saudara seiman adalah dirimu, hanya saja dia itu orang lain, sebab kalian saling percaya, maka kalian adalah satu jiwa. Hanya saja kini sedang hinggap di jasad yang berbeda."
Begitu indah Al Kindi menggambarkan sikap saling percaya dalam hangat ukhuwah.

Mencari Kebahagiaan


Seorang pemuda sedang duduk dengan tatapan kosong mengarah ke hamparan air telaga. Dia sudah berkelana mendatangi berbagai tempat, tapi belum ada yang membahagiakan dirinya. Tiba-tiba terdengar suara sengau memecah kesunyian.

“Sedang apa kau di sini, anak muda?” tanya seorang kakek yang tinggal di sekitar situ.

Anak muda itu menoleh sambil berkata. ”Aku lelah, Pak Tua. Aku sudah berjalan sejauh ini demi mencari kebahagiaan, tapi perasaan itu tak kunjung kudapatkan.
Entahlah, ke mana lagi aku harus mencari…” keluh si anak muda dengan wajah muram.

“Di depan sana ada sebuah taman. Pergilah ke sana dan tangkaplah seekor kupu-kupu. Setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu,” kata si kakek. Meski merasa ragu, anak muda itu pergi juga ke arah yang ditunjuk. Tiba di sana, dia takjub melihat taman yang indah dengan pohon dan bunga yang bermekaran serta kupu-kupu yang beterbangan di sana.

Dari kejauhan di kakek melihat si pemuda mengendap-endap menuju sasarannya. Hap! Sasaran itu luput.
Dikejarnya kupu-kupu ke arah lain. Hap! Lagi-lagi gagal.
Dia berlari tak beraturan, menerjang rerumputan, tanaman bunga, semak. Tapi, tak satu pun kupu-kupu berhasil ditangkapnya.
Si kakek mendekat dan menghentikan si pemuda.

”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari ke sana kemari, menabrak tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang telah kamu rusak?”
Tanya si kakek dengan tegas dan melanjutkan, ”Nak, mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisik kupu-kupu itu, biarkan dia memenuhi alam semesta ini sesuai fungsinya. Tangkaplah keindahan
warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik di dalam hatimu.

Demikian pula dengan kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan di suatu tempat. Ia tidak ke mana-mana, tapi ada dimana-mana.
Peliharalah sebaik-baiknya, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri. Apakah kamu mengerti?”
Si pemuda terpana dan tiba-tiba wajahnya tampak senang. ”Terima kasih pak Tua. Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Aku akan pulang dan membawa kebahagiaan ini di hatiku..”

Kakek itu mengangkat tangannya. Tak lama, seekor kupu-kupu hinggap di ujung jari dan mengepakkan sayapnya,
memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu
menyelaminya.

”Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta benda, tetapi sesungguhnya kaya itu adalah kayanya jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Senin, 01 September 2014

Dan Cintapun Memilih


Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu
saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa
bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus
ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah , pelamaran.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan
berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita
yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal
dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah,
”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia.
Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak
jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar.
Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka
dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman . Namun jika Abu
Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan
persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati.
Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian”

Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan
dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya. Bukanlah seorang saudara
jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas
kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya.

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]

Berkawan Itu Bersabar


Kawan yang tulus kadang memang lebih menyebalkan dari pada musuh yang menyamar. Bekal utama kebersamaan adalah kesabaran. Sebab kita tahu, perjalanan berombongan lebih lambat dibanding sendirian. Berkawan insan-insan mulia harus disertai kesadaran, bahwa kita selalu harus "sedang menuju" kemuliaan, bukan telah sampai.

Persaudaraan adalah berbagi. Tetapi salah satu harus memulai, Sepertinya lebih mudah bukan dengan meminta..tapi memberi. Siapa tak sabar belajar, harus sabar dalam kebodohan. Siapa tak sabar bersaudara, harus sabar dalam kesendirian. Kadang ada dua orang yang lebih baik bagi mereka jika dipersaingkan daripada jika di minta berjalan beriring dalam kebersamaan.

Tetapi tetaplah bersama..dalam lingkaran persaudaraan. Melingkar adalah mengokohkan daya(kekuatan).. Melingkar adalah menyulam cinta.. Melingkar adalah Kita..

~Salim A Fillah~

Memaknai Sukses


“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”
[Q.S 6: 165]

Alangkah indah surat yang dituliskan Umar bin Abdul Aziz kepada putranya,
"Wahai anakku, bila engkau diuji Allah dengan kekayaan yang melimpah, sederhanakanlah engkau dalam menggunakan hartamu.
Rendahkanlah dirimu dihadapan Allah. Tunaikan kepada Allah, kewajiban-kewajibanmu pada hartamu untuk hak-hakNya.
Katakan ketika itu, apa yang dikatakan seorang hamba yang shalih, 'ini semua adalah atas karunia Allah, untuk menguji aku, apakah aku akan bersyukur atau akan menjadi kufur'."

Tulislah!

ُ
"Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah ikatannya, Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
ًTermasuk kebodohan kalau kamu memburu kijang,
Setelah itu kamu tinggalkannya terlepas begitu sahaja." (Imam Syafii)

“Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan.” (JK Rowling)

Maka tulislah buah pikiran itu, tulislah setiap jejak-jejak kebaikan, di mana saja ada kesempatan, bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk semua yang membacanya. Seraya berharap ada hati yang tergugah, ada nurani yang tersejukkan.

Betapapun sedikitnya ilmu yang kita miliki, akan menjadi berbeda ketika kita niatkan itu sebagai amal baik kita, yang akan menjadi pemberat timbangan kebaikan kita kelak di yaumul hisab.
Seperti perintah Rasulullah dalam sebuah hadits yang di riwayatkan Imam Bukhari, "Sampaikanlah dariku, walau hanya satu ayat!"

Bukankah ketika kita mengajak orang lain kepada kebaikan, lalu mereka mengerjakannya, pahalanya akan menjadi pahala kita juga? Maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.

Mintalah Fatwa Hatimu


"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya."
(QS. As-Syams: 8)

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah pernah mengajarkan kepada seorang sahabat bagaimana cara sederhana menentukan sesuatu itu baik atau buruk,"mintalah fatwa kepada hatimu!"

Di lain kesempatan ia mengatakan bahwa barangsiapa yang amal baiknya membuat hatinya suka, dan amal buruknya membuat ia gelisah, maka dia itu muslim.

Karena sejatinya, saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati.

Sang Pemaaf


“...siapa yang memaafkan (kejahatan orang) dan berbuat baik (kepadanya),
maka pahalanya tetap dijamin oleh Allah (atas tanggungan Allah dengan diberi balasan yang sebaik-baiknya).
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berlaku zalim”.
(Asy-Syura [42] : 40)

Mekkah telah dikuasai, kafir Quraisy takluk oleh kaum Muslimin. Rasulullah tertunduk diatas untanya, matanya berkaca-kaca.
Dari kota ini dakwah dimulai, berkilas-kilas kenangan berbayang silih berganti.
Terkenang bagaimana para assabiqunal awwalun di intimidasi, terusir dari tanah kelahirannya.

Namun dengarlah kalimat yang terucap dari lisannya, saat kafir Quraisy harap-harap cemas menunggu keputusan apa yang Rasulullah ambil untuk mereka yang telah tertunduk pasrah dalam kekalahan,

“Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya.
Tiada celaan atas kalian pada hari ini.
Pergilah! Kalian semua bebas.”
(HR Baihaqi).

Hasrat Pengabdian


Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, "Barangsiapa yang
mengenal dirinya sendiri, maka pujian seseorang tidak akan
memudharatkannya."

Ini yang mungkin terjadi pada Khalid bin Walid, tatkala Umar bin Khattab memberhentikannya dari jabatan Panglima Perang justru disaat perang sedang berkecamuk, dan kemenangan semakin terlihat.
Sang Pedang Allah ini tak sedikitpun mengendurkan semangat, ia tetap bertarung selayak panglima, sampai kemenangan tergenggam lalu dengan tulus mengucapkan selamat dan mempersembahkan kegemilangan ini kepada panglima baru yang di tunjuk Khalifah Umar bin Khattab.

Baginya prajurit ataupun panglima bukanlah soal yang membedakan pengabdian dan perjuangan seseorang, apalagi sampai meruntuhkan semangat kepahlawanan, ia hanya ingin menjadi pejuang sejati yang meninggikan Agama Allah.

Sungguh sikap yang luar biasa, betapa pujian atas kemenangan-kemenangan yang sudah ia persembahkan bagi Islam tak menyebabkan ia haus akan kebesaran, jabatan apalagi kesombongan.

Selayaknya ini menjadi tauladan, atau paling tidak menjadi renungan bagi pemimpin-pemimpin dimasa kini, hasrat pengabdian kah, atau sebatas ambisi kekuasaan yang melatar-belakangi mereka, hingga mereka merasa pantas memimpin dan mengemban sebuah jabatan.

Dimensi Keberanian


Ketika kaum muslimin sedang terlibat pertempuran dengan Rowami, raja Romawi saat itu,Heraklius, bertanya kepada jendralnya, ” Apakah yang menyebabkan orang-orang Islam itu hebat? Apakah jumlah mereka banyak?” “Tidak, bahkan jumlah kita jauh lebih banyak dari mereka”, jawab sang jendral. “Apakah perbekalan mereka banyak?”tanya Heraklius lagi. “Tidak, perbekalan mereka apa adanya”. “Apakah senjata mereka yang bagus?” ” Tidak, senjata mereka pun seadanya”,jawab sang jendral. “Lalu mengapa?”tanya Heraklius semakin heran. ” Mereka (orang-orang Islam) bila di siang hari adalah penunggang kuda yang tak kenal lelah tapi di malam hari mereka seperti rahib yang terus beribadah dan begitu takut kepada Tuhannya.”

Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian, baik yang bersumber dari fitrah maupun melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan yang kokoh pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap dan jalan hidup, kepercayaan pada akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru kepada Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan, meskipun kondisi fisiknya tak terlalu mendukungnya, seperti jenis keberanian Ibnu Masud dan Abu Bakar. Sebaliknya, ia bisa menjadi lebih berani dengan dukungan fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid.

(Anis Matta-serial kepahlwanan)

Keberanian tidak selalu berupa pekik yang menggetarkan, terkadang ia serupa bisik lirih di penghujung malam,"esok biar kucoba lagi.."

Zuhud


“Wahai orang-orang yg beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yg merugi”
[Al-Qur'an 63 :9)

Alangkah dahsyat pelajaran dari seorang Umar Bin Khathab.. ia menunjukkan sikap yang luar biasa saat harta nya telah memalingkannya dari mengingat Allah. Ia wakafkan seluruh kebunnya yang telah membuatnya tertinggal shalat berjama'ah.

Betapapun ia masih merasa selalu selangkah dibelangkah Abu Bakar AsSiddiq dalam perkara ini, betapa tercengang Umar tatkala dengan wajah berseri berkata,"aku infakkan separuh hartaku di jalan Allah!"
Sementara Abu Bakar berkata lembut,"aku infakkan seluruh hartaku di jalan Allah.."

Menyejarah lah doa Abu Bakar Ashshiddiq: "Yaa Allah letakkan dunia ditanganku, jangan kau letakkan dunia dihatiku.."