Minggu, 31 Agustus 2014

Letakkan ia di tangan jangan di hati


Dari Uqbah bin Harits r.a., ia berkata, “Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi saw., di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau saw. Ketika Rasulullah saw. keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, ‘Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.”
(HR.Bukhari)

*****

Betapa Rasulullah telah menegaskan sikapnya terhadap harta, maka kita menyaksikan sejarah menuliskan manusia-manusia mulia yang hidup bersama Rasulullah saling berlomba menginfakkan sebagian besar hartanya di jalan Allah, bahkan ada yang menginfakkan seluruh hartanya, dan ketika Rasulullah menanyakan tentang apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya. Ia menjawab, "aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasulnya.."
Dialah Abu Bakar AsShidiq.

Namun demikian Rasulullah sangat memahami kualitas shahabat-shahabatnya. Ini terlihat dari sikapnya yang melarang Sa'd bin Abi Waqash yang ingin mengikuti jejak Abu Bakar, Rasulullah menyarankan agar Sa'd menyisakan harta untuk keluarganya,
"Hai Sa'd, sesungguhnya engkau tinggalkan keluargamu dalam keadaan kaya dan mampu adalah lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta."

*****

Dari Abu Umamah r.a., Nabi saw. bersabda, “Wahai anak Adam, seandainya engkau berikan kelebihan dari hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu. Dan seandainya engkau kikir, yang demikian itu buruk bagimu. Menyimpan sekadar untuk keperluan tidaklah dicela, dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu.”
(HR.Muslim).

Kebaikan itu Ibarat Cermin


Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosanya karena ketika dalam perjalanan, ia melewati seekor anjing yang menengadahkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya hampir mati karena kehausan. Maka, wanita tersebut menanggalkan sepatu kulitnya, lalu mengikatkannya dengan kain kudungnya, kemudian anjing tersebut diberi minum olehnya. Maka dengan perbuatannya tersebut, ia telah diampuni dosanya.” Seseorang bertanya, “Adakah pahala bagi kita dengan berbuat baik kepada binatang?” Beliau saw. menjawab, “Berbuat baik kepada setiap yang mempunyai hati (nyawa) terdapat pahala.” (Muttafaq ‘alaih)

Kebaikan tetaplah kebaikan, siapapun kita, kepada siapapun kita melakukan kebaikan, seberapapun kecilnya nilai kebaikan itu, lagi-lagi bukan itu yang Allah persoalkan.
Kesadaran kita untuk berbuat baiklah yang menuntun kita pada sebuah jalan kebaikan yang lainnya, yang takkan pernah kita duga sebelumnya.

Maka resapilah seuntai kalimat indah ini, "Kebaikan itu ibarat cermin. Memantulkan hal yang serupa. Bahkan tidak sedikit pun memantulkan hal yang berbeda."

Jumat, 29 Agustus 2014

Berdoalah Untuk Akhir Yang Baik


Umar bin Khattab pernah berdoa dengan pinta yang membuat Hafshah kaget.
"Ya Allah, matikan aku sebagai syahid di tanah Nabimu."

"Ayah, apakah engkau ingin syahid di Madinah ini, di Haram Nabi shallallahu alaihi wa sallam? Mengapa bukan di medan jihad Syam atau Persia? Apakah itu berarti musuh-musuh Allah akan kembali menyerang dan menghancurkan kota penuh berkah ini?"

"Hafshah putriku, Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya tanpa mengubah karunia-Nya bagi yang lain."

Dan Umar benar-benar syahid di mihrab kekasihnya saat sedang menjadi imam sholat, oleh tikaman Abu Lu'lu, seorang Persia yang menyimpan dendam kepada Umar. Justru di saat Madinah telah menjelma menjadi kota yang makmur dan sejahtera di bawah pimpinan Umar.

Merencanakan, mengupayakan, berharap dan meminta agar akhir dari hidup kita menjadi sebaik-baik akhir (Husnul Khotimah) adalah perilaku orang-orang shalih terdahulu.
Maka berdoalah, agar kita menutup akhir dari perjalanan hidup kita dalam ketaatan kepada-Nya.

Seperti yang tertulis dalam firman-Nya,

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."
(Qs, Ali Imran : 102)

Because I'm Muslim girl !


Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’

Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’

Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wanita beriman yang bertaqwa ini rela menerima cobaan yang menimpa dalam hidupnya yang sementara. Ia akan di anugerahi surga karenanya. Sungguh jual beli yang menguntungkan. Ia menjadi penghuni surga.
Akan tetapi wanita ini memandang dirinya rendah hanya karena auratnya terbuka dan manusia melihat apa yang tidak pantas bagi wanita muslimah yang bertaqwa.
Bagaimana dengan wanita yang memakai pakaian yang terbuka, yang memperindah rupa fisik mereka, dan mereka berlomba membuka selubung rasa malu mereka dan telanjang??

Wahai wanita adakah kau merasa lebih berhak atas kecantikanmu? Dari Allah yang menciptamu?
Hingga keinginanmu membuka auratmu agar kau dengar segala puji manusia yang menjerumuskanmu pada kehinaan lebih kau utamakan dari aturan Allah atas penutup tubuhmu, agar kau mulia dengannya?

Senin, 25 Agustus 2014

Futur


Seorang Da'i atau Ustadz, sekalipun ia akan mengalami masa-masa futur (lemah setelah semangat). Namun saat-saat itu layaknya saat 'turun minum' seorang prajurit yang berada di medan laga, dimana setelah itu ia akan kembali terjun berjuang dan berjihad. Rasulullah pernah bersabda dalam hadits, dari Abdullah bin Umar,
"Setiap amal itu ada masa semangat dan masa lemahnya. Barang siapa yang pada masa lemahnya ia tetap dalam sunnah (petunjuk) ku, maka dia telah beruntung.
Namun barangsiapa yang beralih kepada selain itu, ia telah celaka."
(HR Ahmad)

Ibnu Qayyim berkata, "Saat-saat futur bagi seorang yang beramal adalah hal wajar yang niscaya terjadi. Seseorang yang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqobah (pengawasan oleh Allah) dan pembenahan langkah, selama ia tidak keluar dari amal-amal fardhu, dan tidak melaksanakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah, diharapkan ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Sekalipun sebenarnya, aktivitas ibadah yang disukai Allah adalah yang dilakukan secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus."
(Madarij As-Salikin)

"Amal agama yang paling disenangi Rasulullah adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya."
(Imam Bukhari, Fath Al Bari)

bekas-bekas keshalihan


“..kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”
(QS al Fath:29)

Ibn Jarir juga mengutip perkataan sahabat Ibn Abbas yang menolak penafsiran ayat secara literal dengan kata-kata : “Hal itu bukanlah seperti yang kalian kira, karena maksudnya (dari kalimat min atsari sujud) adalah tanda-tanda ke-islaman (ketundukan dan kepasarahan) serta kekhusyu’an.”

Mungkin kita pernah berjumpa seseorang yang shalih, yang dengan melihat wajahnya saja, seperti tergetar hati kita karena keteduhannya, tutur katanya santun, sederhana namun sarat makna.

Ibnu Qayyim berkata, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”
[Al Waabilush Shayyib]

Selasa, 19 Agustus 2014

Mengunci Pintu Kekalahan


“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”      

(Qs, Ali Imran: 139).

Abdurrahman bin Auf datang ke Medinah, muda dan tanpa harta. Sa'd bin ArRabi, seorang Anshor yang di persaudarakan dengannya berkata, "Saudaraku terkasih di jalan Allah, sesungguhnya aku cukup memiliki harta di Medinah ini, aku memiliki dua kebun yang luas, pilihlah yang kau suka, ambillah untukmu!
Aku juga memiliki dua buah rumah yang nyaman, pilihlah! Aku akan menghadiahkannya untukmu.
Dan aku memiliki dua orang istri yang cantik, kau boleh memilih diantara keduanya yang kau suka, aku akan menceraikannya dan menikahkannya denganmu."

"Terima kasih saudaraku atas segala kebaikanmu, semoga Allah membalas nya dengan kebaikan yang berlimpah. Sebaiknya, tunjukkanlah aku jalan ke pasar." Jawab Abdurrahman bin Auf seraya tersenyum, menolak santun tawaran saudara barunya.

"Tetapi, setidaknya menikahlah.." desak Sa'd bin ArRabi.

"Insya Allah dalam sebulan ini saya akan menikah.." jawab Abdurrahman sepenuh tekad.

Begitulah, setelah di tunjukkan jalan ke pasar Abdurrahman menjadi kuli angkut di pasar, hari berikutnya ia menjadi makelar, dan hari-hari selanjutnya namanya mulai di kenal sebagai pedagang yang jujur, cerdas, dan ia menjadi pionir pemberantasan ekonomi riba ala yahudi di pasar Medinah.

Sebulan berlalu, ia bermaksud menikahi salah seorang wanita anshor, ketika ia bercerita kepada Rasulullah, Sang Nabi pun bertanya, "apa maharnya?"
"Emas seberat biji kurma ya Rasulullah, " jawabnya
"Wahai Abdurrahman, selenggarakan lah walimah meski dengan seekor kambing!"

                              *****

Bagi kita menjadi seorang asing di kota yang baru kita datangi, memiliki sebidang kebun, rumah dan beristri cantik, hadiah dari seorang saudara tentu lebih menjanjikan, setidaknya kita tidak terlalu bersusah payah memulai semua dengan tangan kosong.
Tapi tidak bagi seorang yang jiwanya telah tercelup sempurna dengan warna islam, baginya meskipun dijamin kehalalan dan keberkahannya hadiah dari seorang saudara sekalipun, akan menjadi beban, penyakit, dan pintu kekalahan.

Pintu kekalahan, ini juga yang mendasari keputusan Thariq bin Ziyad membakar kapal-kapal yang mengangkut dirinya dan pasukannya saat menyerbu Spanyol,
"Adalah pintu kekalahan kita, jika kita membiarkannya ada, dalam hati kita akan terbit keinginan untuk melarikan diri saat kekuatan musuh menggetarkan. Dengan membakarnya, kita hanya memiliki dua pilihan, memenangkan tanah Andalusia yang indah untuk kejayaan Islam, atau memenangkan bidadari bermata jeli yang menyongsong dengan wajah berseri."

Wallahu 'alam


Senin, 18 Agustus 2014

Seperti Api Tanpa Kayu


Berkata Ibnul jauzi rahimahullahu tentang gurunya syaikh Al-Anmaathi rahimahullahu,
"saya biasa membacakan kitab kepada beliau dan beliau dalam keadaan menangis [karena takut Allah], maka saya mengambil faidah dari tangisannya lebih banyak daripada  mengambil faidah dari riwayatnya dan saya mendapatkan manfaat dengannya yang saya tidak dapatkan dari selainnya." [1]

Suatu hari Imam Syafii kembali ke rumah usai menimba ilmu dari imam maliki,
"Assalamualaikum.." ucap Imam Syafii di depan pintu rumahnya.
"Wa alaikum salam wr wb, siapakah?" Terdengar jawaban dari dalam di sertai pertanyaan, yang tidak lain suara sang ibu.
"Aku bu, Syafii",
"Darimana engkau duhai putraku?"
"Aku baru saja belajar dari Imam Malik, Ibu."
Ibunya bertanya lagi, "apa yang kau pelajari?"
"Ilmu dan adab, bu.."
"Belajar apa?"
"Ilmu dan Adab.."
"Kalo begitu kembalilah kepada Gurumu, belajarlah lagi!"

Imam Syafii kembali ke rumah Imam Malik lalu menceritakan semua kejadian tadi, sang Imam tersenyum seraya berkata,
"Pulanglah, dan jika ibumu bertanya jawablah, kamu telah belajar Adab dan Ilmu, bukan Ilmu dan Adab.."

                              *****

Sungguh tidak berlebihan jika para salafusshalih menempatkan adab (akhlak) di atas ilmu.
Sejarah telah mencatat, bahwa kemuliaan akhlak Rasulullah menjadi faktor utama diterimanya Islam oleh segenap manusia. Betapa tidak akhlak Rasulullah yang begitu agung adalah potret bagaimana Alquran hidup di tengah-tengah masyarakat.

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Alquran." (HR Muslim).

Bahkan Allah memuji akhlak Rasulullah yang tertulis dalam firman-Nya,
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)



[1] Siyaru A’lamin Nubala’ 39/128, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah

Minggu, 17 Agustus 2014

Negeri Para Syuhada


Pada Perang Al-Furqan di pertukaran tahun 2008-2009, ketika bom-bom Zionis menewaskan sekitar 1400 orang penduduk mulai dari yang tua sampai yang bayi, Allah mentaqdirkan dalam masa 22 hari yang sama itu lahirlah di Gaza sekitar 3500 bayi.

Di hampir setiap rumah yang kami datangi, bukti “kekayaan” Gaza bernama anak adalah yang paling terlihat. Ada yang beranak 10, ada yang beranak 13, banyak yang beranak sedikitnya lima orang. Tak sedikit rumah yang menampung anak-anak yatim – karenanya tak ada panti asuhan yatim piatu di Gaza ini.

“Hidup di Gaza sesudah pengepungan selama lima tahun ini susah sekali,” ujar seorang ibu. “Kaum ibu harus pandai mengatur keuangan yang cuma sedikit ini untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga, termasuk menanam ini itu sendiri.”

“Tapi anak kalian banyak sekali. Apa tidak sebaiknya membatasi jumlah anak?” salah seorang relawan SA ‘ngetes.’

“Laaa! Tidak akan!” seorang nenek bercucu entah berapa puluh menjawab tegas dengan wajah agak syok mendengar “saran” kami. Dia lalu mengutip salah satu hadits Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam agar ummat Islam membanyakkan jumlah mereka demi membanyakkan jumlah ummat di Akhirat nanti.

“Anak-anak kami dibunuhi, maka kami akan terus melahirkan,” komentar seorang ibu muda.

“Betul itu, supaya keluarga-keluarga kami bisa terus memproduksi mujahidin baru, penghafal-penghafal Quran baru…” jawab si nenek berapi-api.

Rakyat Gaza yakin Allah yang memberi anak-anaknya rezeki. Dan memang begitulah kenyataannya.

                               *****

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.

(Al-Anfal : 60)

*sumber : sahabatalaqsa.com

Kita Dan Palestina


Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
(Al-Ankabut:2)

Ibn Majah juga meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash seraya berkata, ‘Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, ‘Siapakah manusia yang paling berat cobaan atasnya.?’ Beliau bersabda, ‘Mereka adalah para Nabi kemudian orang yang seperti mereka dan seterusnya. Seseorang diberi ujian seukuran pengetahuan agamanya; jika ia orang yang tegar dalam agamanya, maka akan sangat beratlah cobaan untuknya dan jika ia orang yang lemah agamanya, maka ia diuji seukuran pengetahuan agamanya. Dan senatiasalah ujian/bencana itu bersama seorang hamba hingga Dia membiarkannya berjalan di muka bumi dengan tanpa mendapatkan satu dosa pun.”

Masya Allah.. pantaslah kiranya saudara kita di Palestina begitu kuat akan ujian yang mereka alami sejak puluhan tahun silam, tak terbesit sedikitpun rasa gentar didalam dada mereka menghadapi gempuran rudal zionis israel.

Lalu tengoklah diri kita.. astaghfirullah.. ujian secuil telah membuat kita bergumam manja,"Allah sungguh tidak adil.."

Teringat sepucuk surat Ibnu Mubarak kepada Fudhail bin Iyadh," Wahai hamba Haramain, jika kamu melihat kami,
Maka kamu akan mengetahui ibadahmu main-main.
Ketika pipimu basah dengan airmata, kami disini basah oleh keringat dan darah."

Agar Nikmat Tak Berbuah Sesal


“Banyak orang merasa rugi dan kemudian menyesali dirinya karena ia telah lupa pada sesuatu, padahal belum tentu ia berakibat merugikan dirinya. Sebaliknya sedikit orang yang merasa rugi dan kemudian menyesali dirinya karena ia telah lupa Tuhan-nya, padahal kerugian akibat melupakan-Nya pasti dan sangat fatal buat dirinya, dunia dan akhirat. Paling tidak akan menyebabkan ia lupa pada eksistensi dirinya (QS, 49: 19).”

Imam Ghazali melukiskan syukur dan sabar sebagai sayap yang menerbangkan spiritualitas manusia ke jenjang yang tinggi. Sedangkan rasa syukur seseorang tidak hanya berupa ucapan terima kasih atau Alhamdulillah. Juga tidak hanya mengkonsumsi dan menikmatinya dengan baik. Selain itu ia juga harus menyadari nilai yang terkandung di dalamnya dengan tepat waktu.

Keterlambatan kesadaran akan nilai suatu nikmat dapat menimbulkan penyesalan yang tiada guna. Dan menjadi keperihan yang teramat dalam tatkala nikmat itu tetiba lenyap sebelum kita menyadari bahwa sebenarnya ia telah ada dalam genggaman.

Wallahu 'alam

Sebaik Qurma


Nabi SAW menjadikan pohon kurma sebagai perumpamaan bagi mukmin yang selalu memberi manfaat bagi lainnya karena selalu hijau dan senantiasa memberikan manfaat dengan semua yang ada padanya, beliau bersabda:
إِنِّي َلأَعْلَمُ شَجَرَةً يُنْتَفَعُ بِهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ
“Sesungguhnya aku mengetahui pohon yang diambil manfaat dengannya seperti seorang mukmin.’[13]
Dan seorang mukmin berusaha memberikan manfaat untuk manusia karena Allah , mengharap ridha-Nya, dan tidak dikuasai oleh perasaan pribadi atau posisi yang berbeda.

Allah menegur Abu Bakr saat ia bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah karena ikut serta dalam peristiwa ifki (berita bohong). Maka tatkala turun firman Allah :
وَلاَيَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَتُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada.Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ?Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. an-Nur:22)
Abu Bakar berkata: bahkan, demi Allah, sesungguhnya kami ingin agar Allah mengampuni kami.
Lalu Abu Bakr pun memberikan bantuan seperti biasa kepada kerabatnya.

Kemanfaatan sejati adalah ketika kita berbuat baik bukan karena orang baik terhadap kita, tapi karena kita memang ingin menjadi lebih baik lagi.

Itulah Ikhlas


Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka…( QS Ali Imran 57 )

“Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna, kemudian selesai wudlu dia membaca: (doa wudhu yg shahih )
maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia boleh masuk dari pintu mana saja yang
dia sukai.” (HR. Muslim, Abu Daud)

Betapa dalam wudhu, dalam dua rakaat sunah sebelum shubuh, menyingkirkan sesuatu yang menghalangi jalan orang, membagi kebahagiaan, saling mendoa sesama muslim, adalah amalan-amalan yang nampak sederhana, namun tidak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang jernih hatinya.

Kelak di hari ketika sesuatu yang kita cintai didunia tak berguna, ada orang-orang yang takjub dengan banyaknya pahala dari amalan yang ia sendiri tak merasa mengerjakannya, itulah ikhlas.

Nasehat Itu Permata


Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.
(al-’Ashr:1-3)

"Injak kepalaku wahai Bilal, kumohon injaklah!", Abu Dzar meletakkan kepalanya di tanah berdebu, seraya berharap terompah Bilal segera mendarat di wajahnya.

"Kumohon Bilal saudaraku, injaklah wajahku, demi Allah aku berharap dengannya Allah akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliyah dari jiwaku." Abu Dzar ingin sekali menangis, ia sedih, menyesal, dia marah pada kelemahan dirinya yang tak sanggup melawan hawa nafsunya.

Sayang Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

Peristiwa itu bermula dari kekesalan Abu Dzar terhadap Bilal yang dianggapnya tidak mengerjakan amanah dengan baik, bahkan memberi alasan untuk membenarkan tindakannya.
Abu Dzar kecewa, sayang ia tak mampu menahan diri dan berteriak melengking,"Hai anak budak hitam!"

Rasulullah yang mendengar hardikan Abu Dzar, memerah wajahnya seraya menghampiri, dan berkata dengan telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar,"engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat kejahiliyahan.."

Kata-kata itu begitu menghunjam sanubari Abu Dzar, hingga ia teramat sangat menyesal.

Begitulah nasehat, ia kadang berupa sindiran, ungkapan kekecewaan, teguran halus, atau ajakan dengan hangat rangkulan, dan di kali lain ia berwujud senyum pengertian.

Biarlah Iblis yang Putus Asa


Suatu malam di sebuah pesta seorang pemuda nampak terhuyung menuju mobilnya dengan dibantu seorang temannya.

Keesokan harinya ia terbangun lalu tertegun menatap keluar jendela kamarnya, ia membathin,"Mengapa Allah membiarkan aku melakukan ini lagi, padahal setengah mati aku bertaubat meninggalkan semua kebodohanku di masa lalu? "

Malam tadi, teman-temannya membohongi dirinya dengan mencampur minumannya tanpa sepengetahuannya, hingga ia mabuk, perbuatan buruk yang dulu sering dilakukannya, tapi sudah lama ia tinggalkan. 

Kejadian ini sering kita dengar, yang pada akhirnya membuat orang yang mengalaminya menjadi sangat terpukul dalam penyesalan berkepanjangan, dan tak jarang ia menjadi frustasi dan terjerumus pada dosa yang lebih besar lagi, demikianlah cara iblis menyesatkan, halus, samar, kadang berbungkus kebaikan semu.

Seperti seorang sahabat Nabi yang buta, iblis yang menjelma manusia menuntunnya menuju masjid. Hanya karena beberapa hari sebelumnya sahabat tersebut terjatuh dan beristighfar, lalu Allah mengampuni dosa-dosanya dan dosa keluarganya, 

"Demikian hebat doa shahabat ini," gumam iblis, aku harus mencegahnya terjatuh agar ia tidak berdoa lagi.

Percayalah, tak sekejap pun iblis rela kita dalam kebaikan, menyesali kekeliruan itu baik, tapi jangan lantas kita menyerah dalam keterpurukan, teruslah bertaubat, jangan pernah berputus asa dengan ampunan-Nya.

"Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian memohonkan pengampunan kepada Allah, maka ia akan mendapatkan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 110)

Merelakan yang Hilang


"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri".(QS. al-Hadid: 22-23)

Mari belajar pada Ummu Sulaim, wanita shalihah yang kehilangan anaknya, namun tetap tenang melayani suaminya.
Simaklah dialog mereka yang menyejarah! 

“Wahai Abu Thalhah, bagaimana menurutmu jika ada satu kaum meminjamkan barangnya kepada suatu keluarga misalnya, kemudian mereka memintanya kembali barang yang dipinjamkan tersebut, apakah keluarga tersebut berhak menolaknya?” Abu Thalhah menjawab: “Tidak.” Ummu Sulaim berkata: “Kalau begitu, tabahkanlah hatimu dengan kematian anakmu.” Abu Thalhah menjadi marah, dia berkata: “Kamu biarkan aku menikmati pelayananmu, kemudian baru kamu beritahukan kepadaku tentang anakku.”

Karena Allah yang paling tahu yang terbaik buat kita, karena Allah satu-satunya Sang Pemilik Segala, karena Allah ingin menguji kesiapan kita untuk sesuatu yang terbaik yang akan Dia berikan.

Agar Allah dan Malaikat Tak Melihat


Ia bukan seorang nabi ataupun rasul, namun lelaki shalih berkulit legam ini namanya mengabadi dalam satu surat dari 114 surat dalam Alqur'an, dialah Lukman Al Hakim.
Ketika menghadapi saat-saat terakhir dalam hidupnya, ia berkata kepada anaknya.
"Wahai anakku, telah banyak nasehat yang aku berikan kepadamu. Dan kini tiba saatnya aku sampai ke penghujung nasehat itu.
Maka aku ingatkan engkau tentang ENAM hal, yang di dalamnya ada ilmu orang-orang terdahulu, dan orang-orang kemudian.

Pertama, janganlah engkau menyibukkan dirimu dengan urusan dunia kecuali sesuai dengan kadar sisa usia kamu.

Kedua, sembahlah Rabb kamu sesuai kadar kebutuhan dirimu kepada-Nya.

Ketiga, beramallah untuk akhiratmu sesuai kadar kedudukan apa yang engkau inginkan disana kelak.

Keempat, hendaknya kesibukanmu adalah bagaimana melepaskan belenggu dirimu dari (neraka) yang belum jelas apakah engkau nanti akan selamat atau tidak darinya.

Kelima, hendaknya kelancanganmu kepada tindakan maksiat sesuai dengan kadar kesabaran dan kesanggupanmu merasakan azab Allah.

Keenam, bila engkau memang ingin bermaksiat, maka carilah tempat yang tak bisa dilihat ole Allah, tidak juga bisa dilihat oleh malaikat.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Kemanfaatan Kitalah Sebenarnya Shalih



Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS. 17:7)

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain
(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni)

Suatu hari, sepeninggal Rasulullah SAW, Abu Hurairah r.a. beri’tikaf di masjid Nabawi. Ia tertarik ketika mengetahui ada seseorang di masjid yang sama, duduk bersedih di pojok masjid. Abu Hurairah pun menghampirinya. Menanyakan ada
apa gerangan hingga ia tampak bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan.

”Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu,” ajak Abu Hurairah.
"Apakah kau akan meninggalkan i'tikaf demi menolongku?" tanya orang tersebut terkejut.
”Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar
Rasulullah SAW bersabda, 'Sungguh berjalannya seseorang diantara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i'tikaf di masjidku ini selama sebulan’”

Masya Allah.. betapa Islam mengajarkan bahwa kemanfaatan kita bagi orang lain melampaui amalan pribadi, meski amalan pribadi itu begitu besar keutamaannya.

Duri Kemenangan


"Tahan dirimu hai Khalid! Jangan kau cela sahabat-sahabatku! Demi Allah, andaikan engkau memiliki emas sebesar gunung uhud sekalipun, lalu kau infakkan semua di jalan Allah. Demi Allah, itu tidak akan bisa menyamai satu genggam kurma atau setengah genggam yang mereka infakkan!!"

Semua bermula ketika Rasulullah mengutus Khalid ke sebuah perkampungan Bani Jadzimah, bukan sebagai panglima perang, dan untuk berperang, melainkan untuk menjadi Dai yang mengajak kepada Islam, agama mulia yang manjadi rahmat bagi segenap alam.

Alih-alih mendakwahkan Islam Khalid malah menangkapi dan membunuh sekian banyak di antara penduduk perkampungan itu.

 Peristiwa itu membuat Rasulullah teramat berduka, apa yang dilakukan Khalid benar-benar melampaui batas. Kini seluruh bangsa Arab terbelalak, kaum muslimin yang menjadi teladan tertinggi dalam perihidup dan etika perang, ternyata tak lebih dari sekelompok orang-orang keji.

 Karena peristiwa ini Khalid terlibat cekcok dengan Abdurrahman bin Auf, sampai-sampai Khalid mencela dan menghina Abdurrahman, dan Rasulullah pun menegur Khalid.

                                   *****
 
Teguran itu, yang membuat Khalid tersadar dari buaian gelar 'Pedang Allah Yang Terhunus'. Teguran yang bak tamparan di wajahnya, yang membuatnya menyadari siapa dirinya. Teguran yang membuatnya merenungkan kembali makna pengorbanannya untuk Islam.

Bahwa setelah kemenangan demi kemenangan yang di raih Khalid dan pasukan yang dipimpinnya, telah membuatnya terlena dan merasa berhak menghakimi orang-orang yang telah menoreh luka hatinya, ada yang terlupa olehnya, bahwa kemenangan sejati tak selalu dibawah kilatan pedang, ia juga berupa kelapangan hati kaum musyrikin menerima Islam sebagai satu-satunya pedoman hidup.

Wallahu 'alam

Jumat, 15 Agustus 2014

Jangan Biarkan Gelasnya kosong


Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.
(QS, Al-Isra : 81)

Antara haq dan batil tidak ada posisi netral selain ilusi belaka. Jika tidak berpihak kepada yang haq, berarti berpihak kepada kebatilan.. (Syeikh Suraim)

Dan tak ada kata toleransi bagi sebuah kebathilan, karena hanya ada satu destinasi menuju jalan yang lurus, ketika kita memutuskan melangkah menuju kebaikan maka kesalahan/kebathilan telah dan harus kita tinggalkan, pun sebaliknya saat kita memutuskan meninggalkan kebenaran maka jalan kebathilan yang kita tuju.. naudzubillah..

Maka terlantun lah seuntai doa seba'da sujud-sujud kita,
"Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang baik itu baik, dan anugerahi kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya

Karena Esok Tetaplah Misteri


Suatu hari Abu Darda berdiri di depan ka'bah lalu berkata kepada sahabat-sahabatnya,"bukankah kalau seorang diantara kalian hendak bepergian ia menyiapkan perbekalan?

Mereka menjawab,"ya.. benar"

"Perjalanan menuju akhirat lebih jauh dari perjalanan apa saja yang kalian lakukan," lanjut Abu Darda.

Mereka bertanya,"tunjukkan kami bekal apa yang harus dipersiapkan?"

Ia menjawab,"berhajilah untuk menghadapi perkara-perkara besar, shalatlah dua rakaat ditengah gelapnya malam untuk menghadapi dahsyatnya alam kubur, dan berpuasalah sehari dihari yang panas untuk menghadapi lamanya hari kebangkitan."

Keberhasilan tidak turun begitu saja, kesuksesan bukanlah hasil yang tanpa keringat. Dan perilaku para pendahulu kita, para salafushalih, mencerminkan hal itu. Mereka mendapatkan hasil maksimal, dengan usaha keras yang mereka lakukan dan dengan kesungguhan luar biasa yang mereka miliki.
Sahabat mulia Abdullah bin Mas'ud berkata, "Sungguh, aku benci pada laki-laki yang aku lihat memiliki waktu luang tapi dia tidak memiliki satupun kesibukan dunia atau akhirat".

Ajari Ia Bahagia


"Aku sudah berhasil mengumpulkan banyak harta. Namun, kenyataan memperlihatkan kepadaku bahwa meneruskan permainan mengumpulkan harta ini sangat berbahaya, tidak pernah akan ada ujungnya dan akan mengorbankan usia dan kebahagiaanku saja.

Maka, akupun segera berganti pekerjaan dan mengubah orientasi hidupku dengan menjalani pekerjaan lain yang aku gemari dan tidak memerlukan harta yang banyak. Dan terbukti, pekerjaan ini lebih bisa membuatku bahagia dan bisa mengabdi kepada masyarakat.

Atas dasar pengalamanku inilah aku menasihati para pengusaha agar mengumpulkan harta sekadarnya saja, tidak terlalu larut didalam permainan ini dan menikmati apa yang nyata saja. Singkatnya, hendaklah mereka memilih pekerjaan yang mereka cintai, didalamnya terdapat unsur pengabdian pada masyarakat dan merasakan nikmatnya waktu".

(Buffer Bruce)

"Bermegah-megahan (maksudnya bermegah-megahan dengan harta) telah membuat engkau menjadi lalai ( lalai dari ketaatan, lalai untuk mensyukurinya, lalai dari hal-hal lainnya).
Sampai kamu masuk ke dalam kubur".
(At-Takatsur : 1-2)

Di Sini Kita Saat Ini


Aidh al-Qarni mengingatkan, "jalanilah hidup hari ini seolah-olah menjadi hari yang terakhir bagi hidup kita".

Lalu masih adakah alasan kita untuk membiarkan kesedihan mencuri sedikit waktu yang kita miliki, bukankah berbuat yang terbaik menjadi satu-satunya pilihan?

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Ketika pagi hari tiba, janganlah kamu berharap untuk bertemu sore hari dan ketika kamu bertemu malam hari, janganlah kamu berharap bertemu pagi hari.”

Maka, hiduplah dengan hati, tubuh, dan jiwa hanya untuk hari ini saja tanpa menjelajahi masa lalu dan tanpa merasa khawatir dengan masa depan.

Ayah, Temanilah Aku..


“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.”
(HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim, dihasankan oleh Syeikh Albani)

Seorang ayah yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, suatu hari setibanya dirumah di sambut oleh anaknya dengan penuh suka-cita.

"Ayah, berapa uang yang ayah dapat dari bekerja sehari?

Dalam lelah yang belum lepas, sang ayah heran dan enggan menjawab, tapi anaknya yang belum lagi berusia 7 tahun terus mendesak.

"100 ribu," jawab sang ayah pada akhirnya.

"Ayah, bolehkah aku meminjam uang 30 ribu?" Lanjut si anak.

Sang Ayah semakin kurang berkenan.
"Kamu tanya berapa upah ayah, lalu kamu mau pinjam uang, ayah tidak mengerti." Jawab sang ayah dengan nada tinggi, sambil menyuruh anaknya masuk kamar.

Ketika pikirannya mulai lapang, ia penasaran dengan apa yang diinginkan anaknya. Maka ditemui anaknya ke kamarnya, sambil membawa uang 30 ribu.
Setiba di kamar anaknya dengan senang hati menerima uang itu.
Ayahnya semakin heran, karena anaknya punya uang di bawah bantal, lalu di gabung dengan pinjaman dari ayahnya, yang 30ribu.

"Ayah, uang tabunganku tadi tidak sampai 100 ribu. Sekarang ditambah pinjaman ini menjadi 100 ribu.
Maka, ini uangku aku berikan untuk ayah, terimalah.
Karena aku ingin ayah menemaniku seharii saja.."
Sang ayah tertegun, airmatanya menetes, dipeluknya anaknya dengan erat.

‪#‎sumber_tarbawi‬

Sejak Pagi, Tanamkanlah Rindu pada-Nya!


Seorang laki-laki bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,

“Wahai Abu Sa’id (sebutan Hasan Al-Bashri) semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan shalat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tetapi mengapa aku tidak dapat bangun?”

Al-Hasan rahimahullah menjawab,
“Dosa-dosamu telah membelenggumu.”

Sufyan At-Tsauri rahimahullah berkata,

“Selama lima bulan aku merugi tidak melakukan shalat tahajjud karena dosa yang aku perbuat.”

Ia ditanya,

“Apakah dosa yang Engkau lakukan?”

Ia menjawab,

“Aku melihat seseorang menangis, lalu aku aku berkata dalam diriku, “Orang ini berbuat riya".

Kalo para shalafus shalih merasa berat bangun malam tersebab satu dosa.
Bagaiman dengan kita yang tiada hari tanpa menumpuk-numpuk dosa, astaghfirullah.

Maka memperbarui taubat dan merindui Allah dijenak-jenak hari kita, menjadi keniscayaan agar Allah berkenan menatap kita dalam sujud-sujud panjang di akhir malam.

Doa Sang Pendosa


Dosa sering kali dibalut oleh kesan kenikmatan. Kesan kesenangan, walau sesaat. Seperti air di lautan yang diminum tetapi tidak pernah mampu menghilangkan rasa haus. Hanya menambah rasa penasaran dan makin terasa haus. Dari itulah tidak banyak yang mampu mengangkat dirinya dari arus dosa. Karena kenikmatan itu. Karena kesenangan itu.

Mansur bin Ammar mengira hari telah pagi, dia pun keluar dan ternyata hari masih gelap. Di tengah keheningan malam dia mendengar rintihan do’a di sela isakan tangis anak muda yang tak pernah dikenalnya.

“Tuhanku ketika aku bermasiat kepada-Mu aku tidak bermaksud mendurhakai-Mu. Ketika aku melakukan dosa bukannya aku tidak tahu bahwa adzabnya sangat pedih. Ketika aku melakukan dosa bukannya aku tidak tahu bahwa aku tidak pernah bisa lepas dari penglihatan-Mu. Tetapi jika bukan Engkau siapakah yang akan menolongku. Kalau Engkau putus-kan tali ini siapakah yang akan sanggup menyambungnya kembali.

Tuhanku, setiap usia-ku bertambah, bertambah pula dosa-dosaku. Setiap aku bertaubat setiap itu pula aku kembali kepada dosa dan tidak malu kepada-Mu.”

Suara itu putus. Isakan terhenti. Mansur bin Ammar tidak mendengar apa-apa lagi. Hanya taawwudz yang keluar dari mulut Mansur.

Esok harinya dia melihat ada jenazah di rumah itu dan seorang ibu tua yang menangis. “Ini anakku. Yang ketika malam telah larut dia selalu sholat di mihrobnya menangisi dosa-dosanya. Dia bekerja di siang hari dan selalu membagi hasilnya menjadi tiga. Sepertiga untukku, sepertiga untuk orang-orang miskin dan sepertiga lagi untuk dia berbuka puasa," jelas ibu tua itu.

Malam itu telah menjadi saksi untuk sebuah ucapan selamat tinggal. Selamat tinggal yang diucapkan oleh anak muda itu kepada semua dosanya. Benar-benar dia telah meninggalkan dosa-dosanya. Bahkan meninggalkan dunia untuk selamanya menuju Rabbnya.

Sampai Kaki Menapak Surga


Suatu ketika Imam Ahmad bin Hambal ditanya muridnya, “kapan seseorang bisa beristirahat?”
Ia menjawab,“Jika kita telah menginjakkan kaki di Surga, maka disanalah kita akan beristirahat”.

Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, "Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian)." Lalu Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu menyatakan, "Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. Al-Bukhariy no.6416)

Apabila datang kemalasan kepada kita dengan berkata, “Kiranya anda mau istirahat bersama kami?” Maka jawablah dengan perkataan ‘Umar bin ‘abdul aziz, “Dimanakah terdapat istirahat? Sungguh ia telah tiada. Tidak ada istirahat kecuali di sisi Allah. Ketahuilah tidak ada tempat istirahat bagi seorang hamba kecuali di bawah pohon Thuba (keberuntungan) di surga tempat berbagai kenikmatan.”

Lentera Yang Tertiup Angin


Mungkin kita merasa telah mengukir dan menghiasi amal kita sebaik-baiknya untuk Allah, ikhlas, bersih, tak ada tendensi.
Namun berhati-hatilah..

"Berapa banyak lentera yang mati tertiup angin, berapa banyak amal ibadah yang dirusak oleh pelakunya sendiri", demikian Muhammad Ahmad Rasyid menasihati.

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disindir oleh Khalid Bin Shafwan,
"Ada orang yang tertipu karena Allah menutupi aib-aibnya dari oranglain, ada juga orang yang tertipu oleh baiknya pujian.
Jangan engkau terkalahkan oleh ketidaktahuan orang lain terhadap dirimu, sementara engkau sangat mengetahui kondisimu sendiri.."

Mari meresapi pesan Salah seorang salafusshalih, Sofyan Tsauri rahimahullah,
"Kalau engkau tidak ujub dengan dirimu, engkau mungkin saja senang dengan orang yang memujimu dan engkau mungkin juga senang bila dengan pujian itu orang-orang memuliakanmu dengan amal-amalmu.
Mereka melihat dirimu mulia dan engkau memiliki tempat tersendiri dalam hati mereka.."

Astaghfirullahal adziim...

Menangkap Hidayah


Segalanya memang harus dimulai dari kata hati.
Hidayah memang datang dari Allah, tapi proses pencarian hidayah itu ada dalam lingkup ikhtiar manusia.

"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya."
(Qs. Muhammad : 17)

Pertemuan suara hati dengan bimbingan wahyu Ilahi telah mengantarkan seorang Cat Steven menekur jalan islam.
Padahal karirnya di dunia musik luar biasa.

Pria kelahiran britania 21 juli 1948 dengan nama Stephen Demetre Georgiou, menjadi penyanyi populer di 70an, album-albumnya menuai sukses besar.

Hingga suatu hari ia dikejutkan oleh terjemahan Al-qur'an surah Asy-Syuara 221-227, yang diberikan kakaknya, David Gordon.
Ayat-ayat itu berkisah tentang syetan yang turun kepada para pendusta, juga tentang para penyair yang diikuti orang-orang sesat, yang suka berkata apa yang tidak mereka kerjakan.
Kecuali para penyair yang beriman dan beramal shalih dan banyak menyebut nama Allah.

"Surah Asy-Syuara seketika telah membuat saya berhenti dari musik dan memaksa saya mengevaluasi hidup saya." Kata Yusuf Islam (Cat Steven) mengisahkan saat-saat penting proses ke- islamannya. Dalam sebuh kunjungannya ke Indonesia, dihadapan ratusan mahasiswa sebuah perguruan tinggi.
Ia sempat melantunkan Al-qur'an dengan tenang.
Sebagian hadirin tak kuasa menahan air matanya.

                                 ******

Cermin Itu Bernama Hati


Diriwayatkan bahwa Washibah al Asadi berkata,”Saya adalah orang yang cukup antusias untuk mencari tahu macam-macm amalan baik dan buruk. Setiap ada satu perkara yang saya ragukan baik atau buruknya, saya akan lansung menghadap kepada Rasulullah saw. Suatu hari, ketika saya mendatangi Rasulullah saw, di sekeliling beliau telah berkumpul banyak orang yang juga ingin bertanya tentang berbagai masalah agama.

Ketika saya bermaksud melintasi kerumunan tersebut, orang-orang serentak berkata,”Wahai Washibah, jangan mendekat kepada Rasulullah saw.” Saya lalu berkata,”Izinkanlah saya mendekati Rasulullah saw, saya paling suka berada di dekat beliau.”

Tiba-tiba Rasulullah saw berkata,”Biarkanlah Washibah mendekat!” [Kalimat ini beliau ucapkan dua atau tiga kali]. Saya kemudian mendekat sampai berada tepat di hadapan Rasulullah saw, beliau lalu bertanya,”Wahai Washibah, apakah saya yang akan memberi tahumu sesuatu atau kamu yang mengajukan pertanyaan?”. Saya menjawab,”Engkau saja yang memberi tahu.”

Rasulullah saw, kemudian bersabda,”Kamu pasti datang untuk bertanya tentang amalan-amalan baik dan dosa?”. Saya menjawab,”Benar”.

Rasulullah saw kemudian mengepalkan tangannya dan memukul dada saya dengan lembut seraya bersabda,”Wahai Washibah, tanyalah hati nuranimu, mintalah pendapat kepada batinmu! [kata-kata ini beliau ucapkan tiga kali].

Kebaikan [al birr] adalah sesuatu yang batin merasa tenang ketika mengerjakannya. Sebaliknya dosa [al itsm] itu adalah yang membuat perasaan gelisah [tidak tentram] dan hati ragu-ragu ketika melakukannya meski semua orang sepakat mengatakan [bahwa yang kau lakukan adalah baik dan benar]."

[HR Ahmad]

Karena sejatinya telah Allah tanamkan cahaya keimanan dihati kita, jauh sebelum kita memahami perkara baik atau benar. Hingga jauh didasar hati, tak sedetikpun kita tenang akan setiap laku yang menuntut kita pada dosa.

Mari resapi sebulir nasihat Ibnu Qayyim rahimahullah,
“jika kamu menemukan keterasingan karena perbuatan dosa, maka segera tinggalkan dan jauhi dosa dan maksiat. Hati tidak akan tenang dengan perbuatan dosa."

Wallahu ' alam

Rangkullah Hatinya


Perhatikan tongkat sinyal di stasiun kereta api. Dengan menggerakkannya sedikit, rel akan bergeser, dan perjalanan kereta api pun berubah arah. Demikian halnya dengan hati. Gerak hati akan menentukan arah kehidupan seseorang. Ia demikian menentukan. “Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, bila ia buruk maka buruklah seluruh tubuh,” demikian sabda Rasulullah Saw. mengenai hati.
(Abbas Assisiy ‪#‎Ath‬-Thariq ilal qulub)

Sejarah pun telah menorehkan banyak insan mulia yang dengan kejernihan hati dan keindahan lakunya, membuat banyak orang begitu mencintainya.

Mahatma Ghandi, suatu ketika terburu-buru naik Kereta. Hingga 1 sandalnya terlepas jatuh keluar. Bergegas ia melepas 1 sendalnya yang lain. Saat ditanya mengapa ia lakukan itu? jawaban Gandhi. "Agar orang yang menemukannya, dapat memakai sendalku dengan utuh."
Wajar jika 1948, kematiannya ditangisi jutaan pengikut & pengagumnya. Kawan & lawan semua menghormati dirinya.

Dan ketika hati seseorang telah terakrabi, maka tak perlu berpuluh dalil tuk membuatnya menjadi lebih baik, ketika ia merasa nyaman membersamai kita, ajakan kebaikan kita serupa mantra yang ia tak kuasa menolaknya. Karena hati memiliki kecenderungan pada sesuatu yang membuatnya merasa bahagia.

Wallahu 'alam

Karena Lembut membenihkan Cinta


Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(Qs. Al-Anbiya : 107)

Hari-hari Rasulullah bersama siapa saja adalah hari-hari penuh kasih sayang. Tidak saja dalam kata-kata, ekspresi, dan sikap, kasih sayang Rasulullah telah menjadi lautan kelembutan yang sangat menyejukkan.

Seperti hari itu, saat Aisyah, istri Rasulullah tercinta, mencoba menaiki seekor keledai. Ternyata keledai itu susah dikendalikan. Aisyah terus berusaha namun tetap sulit. Ia lantas mencoba menariknya.

Rasulullah, suaminya tercinta yang menyertainya berkata perlahan," wahai Aisyah, bersikap lembutlah, sesungguhnya sikap lembut pada sesuatu itu akan membuatnya menjadi indah.
Dan tidaklah sikap lembut itu dicabut dari sesuatu, kecuali ia akan menjadi kasar dan buruk.."
(HR Muslim)

Rosulullah Melupakan Kita


"Rasulullah melupakan kita.."

Itulah yang terbersit di benak kaum Anshar ketika mereka melihat Rasulullah memanggil semua keturunan Muhajirin dan bangsa Arab lainnya, serta membagikan semua harta ghanimah yang didapatkan dari perang Hunain.
Harta Ghanimah itu sangatlah banyak, bahkan mampu membuat seorang Muallaf Quraisy mendapatkan masing-masing 100
ekor unta.

Padahal kaum Anshar lah yang selama ini menemani rasulullah berperang sejak Badar hingga Hunain. Merekalah yang mengorbankan harta mereka sendiri untuk berperang ketika masa sulit. Mereka juga yang bersusah payah berangkat dari Madinah menuju Mekkah untuk melakukan penyerangan besar-besaran. Lalu melanjutkan perjalanan menuju lembah Hunain melawan kaum pemberontak.

Kaum Anshar juga yang melindungi Rasulullah, ketika para Quraisy malah lari menjauh di lembah Hunain untuk
menyelamatkan diri, sedangkan Rasulullah di tinggalkan di garis depan sendirian. Selanjutnya mereka lah yang berjibaku
mengepung kota Hawazin selama 40 hari 40 malam untukmenundukkan musuh Allah.. Barulah mereka berhasil
mendapatkan harta ghanimah yang melimpah-ruah.

Dan kini, ketika kemenangan merekah sempurna, harta melimpah itu malah dibagi secara berfoya-foya kepada
muallaf quraisy yang selama ini menentang Rasulullah mati-matian sejak awal dakwah hingga penaklukan Makkah.

Kabar tersebut kemudian disampaikan oleh salah seorang shahabat dari kaum Anshar kepada Rasulullah. Maka Rasulullah mengumpulkan mereka seraya berkata:

“Wahai kaum Anshar, aku mendengar kegundahan kalian akan pembagian Ghanimah kepada muallaf Quraisy. Seolah
kalian telah terlupakan olehku.”

“Sesungguhnya janganlah kalian berprasangka begitu. Bagiku kalian adalah ruh, sedangkan mereka adalah Jasad. Kalian adalah adalah rahasia dan aibku, bila kalian melewati satu lembah sedangkan mereka melewati lembah yang lain, maka aku akan melewati lembah bersama kalian, seandainya saja tidak
ada peristiwa hijrah pasti aku adalah bagian dari kalian,.”

“Ridhakah kalian bila para mukallaf itu membawa pulang unta-unta bersama mereka, sedangkan kalian pulang
bersama Rasul kalian?
Ya Allah, Rahmati Kaum Anshar,
anaknya serta cucunya. Sungguh kalian kelak akan menemuiku di telaga-telaga syurga.”

Maka berlinanglah air mata kaum Anshar mendengar perkataan Rasulullah. Sirna segala sangkaan buruk mereka akan ketidak adilan rasulullah. Dan setelah itu tidak pernah sekalipun mereka menuntut pembagian ghanimah kecuali yang Rasulullah berikan secara Cuma-Cuma kepada mereka.

                              *****

Adakah kebersamaan yang lebih indah? dari kebersamaan kita dengan selembut-lembut manusia, yang cintanya pada umatnya bahkan melampaui cintanya kepada keluarganya.

Maka bersamailah ia dalam hari-hari kita, dalam tutur dan laku kita, dalam sujud-sujud panjang kita, dalam doa-doa kita.

Shollu 'alaa Muhammad..

Cobaan Di Ujung Cita


Tak bisa di pungkiri syahid adalah cita-cita tertinggi setiap Mukmin, namun hati-hatilah duhai saudaraku, meraih syahid beresiko berubah menjadi hawa nafsu.

Itu diantaranya yang di sadari Khalid bin Walid. Maka ketika ia dipecat oleh Umar dari jabatan panglima, kata-katanya begitu indah, "semoga Allah merahmati Umar yang telah membebaskanku dari beban ini, ketika menjadi panglima, aku tak hanya berfikir tentang diriku, tapi juga pasukanku. Dan itu membuatku harus memilih untuk selalu tetap hidup dan meraih kemenangan bagi Agama Allah. Kini aku prajurit biasa, aku bebas meraih cita-citaku untuk syahid."

Dan Khalid pun mendapatkan syahidnya meskipun ia wafat di ranjangnya.
Dengarlah sebait kata-kata perpisahan dari Umar kepada Khalid,
"Rahmat Allah untuk Abu Sulaiman, apa yang di sisi Allah lebih baik daripada yang di dunia, ia hidup mulia dan mati bahagia.."


Menjaga Iman


"Sesungguhnya iman itu diciptakan (diuji) di dalam diri kalian sebagaimana diciptakannya pakaian. Maka, hendaklah kalian meminta kepada Allah agar memperbaharui iman di dalam hati kalian.”
(HR. Hakim dan Al Tabrani)

Iman memang naik turun, seperti yang Rasulullah sabdakan.
Maka semangat kita untuk menghayati seluruh warna-warni kehidupan ini, sebagai apapun kita dalam bingkai iman, kadang juga naik turun.

Pada jenak-jenak ketika iman itu sedang turun, pasti ada yang terasa hilang dari gairah penghambaan kita.

Suatu hari Ibnu Taimiyah ditanya,
"Dengan apakah seseorang menguatkan imannya hingga menjadi sempurna, apakah dengan meninggalkan larangan Allah, atau dengan ilmu, atau dengan beribadah?"

Ibnu Taimiyah menjawab,
"Ia harus mengambil batas wajibnya dari keimanan, batas wajibnya dari ibadah, dan batas wajibnya dari meninggalkan larangan Allah.
Sesudah itu, manusia bertingkat-tingkat, sesuai cabang-cabang yang ada dalam keimanan dan sesuai dengan jerih payahnya yang berbeda-beda."

Ketika langkah kaki mulai berat melangkah ke mesjid atau majelis ilmu, atau lidah mulai terasa kelu membaca ayat-ayat-Nya.
Berdoalah agar Allah perbarui iman kita, seraya menguatkan azzam dalam berketaatan pada-Nya.

Menjadi Sebaik-baik Hamba


Berapa pun usia yang telah berlalu dari kita, tidak terlalu penting. Apa saja kenikmatan masa muda yang telah hilang juga tidak penting. Usaha maksimal agar kita bahagia dan tersenyum bangga di usia tua itulah yang jauh lebih penting.

Suatu hari Jabir bin Zaid yang usianya sudah berkepala enam datang ke masjid dengan memakai sepasang sandal usang. Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, “Telah berlalu dari usiaku enam puluh tahun. Dua sandalku yang usang ini lebih aku cintai dari seluruh usiaku yang telah berlalu, kecuali hari-hariku yang aku hiasi dengan kebaikan.”
Karena hanya hari-hari bersama kebaikan itulah yang akan abadi. Sementara hari-hari lain yang dikotori dengan dosa tak akan meninggalkan kesan. Bahkan hanya menjadi beban.

Orang seperti Jabir mungkin bisa banyak tersenyum karena hari-hari lalunya penuh dengan kebaikan. Tetapi kita, akankah bisa tersenyum ketika menengok kembali ke belakang.
Rasanya kita perlu meniru do’a Ibnu Abi Lubabah setiap sore hari menjelang,

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan siang dan mendatangkan malam sebagai ketenangan, nikmat dan keutamaan. Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang pandai bersyukur. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kenikmatan hari ini. Bisa jadi banyak dosa yang aku lakukan pada hari-hari usiaku yang telah lalu. Ya Allah ampunilah aku pada sisa usiaku dan jagalah aku dari api neraka."

Mercusuar Kita

Suatu malam, kapal perang berlayar menembus kabut. Beberapa saat kemudian sekilat cahaya muncul tepat di arah yang ditujunya. Kapten kapal melangkah ke arah kemudi untuk memeriksa situasi. Saat itulah radio berbunyi,"perhatian, memanggil kapal dengan 18 knot di arah 220 derajat, segeralah ubah arah anda!"

Sang kapten menghampiri radio dan menjawab, "Di sini kapal di arah 220 derajat, anda yang harus mengubah arah anda!"

"Negatif kapten, anda yang ubah arah.."

"Saya Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat",sahut sang kapten mulai marah, siapa anda?"

"Saya Letnan Muda di penjaga pantai Amerika Serikat, pak.."

"Kalau begitu saya perintahkan anda untuk mengubah arah!"

"Tidak Pak, saya sarankan anda yang ubah arah."

"Kami adalah kapal perang dalam tugas" ,sang kapten naik pitam, "saya perintahkan anda ubah arah sekarang juga!"

"Kami mercusuar pak!" ,kata sang letnan muda.

                        ****

Begitulah, Syariat Allah tertegak agung bagai mercusuar bagi kita dalam melayari kehidupan. Kita tak bisa memintanya mengubah arah ketika kita dilanda gejala menabraknya. Kitalah yang harus mengubah arah kita. Kitalah yang harus cerdas mengelola kemudi diri.

Sikap terbaik bagi kita adalah menjalankan yang jelas tersurat, dan bertanya pada ahlinya apa-apa yang tersirat.
Adakah kita masih meragukan jaminan Allah, yang termaktub dalam firman-Nya;

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu”
(QS. Al Maidah, 3).

Kamis, 14 Agustus 2014

Menimbang Tanya


Ada seorang laki-laki yang datang kepada Imam Malik bin Anas Rahimahullah, dia bertanya : “Dari mana saya akan memulai berihram?”
Imam Malik menjawab : “Dari Miqat yang ditentukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau berihram dari sana”.
Dia bertanya lagi : “Bagaimana jika aku berihram dari tempat yang lebih jauh dari itu?”
Dijawab : “Aku tidak setuju itu”.
Tanyanya lagi : “Apa yang tidak suka dari itu ?”
Imam Malik berkata. “Aku takut terjatuh pada sebuah fitnah!”.
Dia berkata lagi : “Fitnah apa yang terjadi dalam menambah kebaikan?”

Imam Malik berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman artinya : “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nur : 63]
Dan fitnah apakah yang lebih besar daripada engkau dikhususkan dengan sebuah karunia, yang tidak diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?”

Karena kritis itu bukanlah bertanya tentang segala hal sesuai ingin kita, kritis adalah memahami kapan saatnya bertanya, kapan saatnya berfikir, kritis adalah memahami apa yang harus ditanyakan dan apa yang memang harus dikerjakan.

Sentuhlah Surga Itu


Dari Mu’wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata: “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.”

Duhai betapa indah islam mengajarkan akhlak, bukan hanya kepada orangtua kita, kepada orangtua siapapun, orangtua manapun, suku apapun, agama apapun, bukankah Rasulullah pernah menyuapi pengemis tua yahudi yang kerap mencaci beliau?

Dalam hadits lain kita dilarang berkata kasar kepada orangtua seseorang,
Artinya: “ dari Abdullah bin ‘amr bin al-ash ia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda: “ diantara dosa-dosa besar yaitu seseorang memaki kedua orang tuanya. “ para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang memaki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “ Ya, apabila seseorang memaki ayah orang lain, kemudian orang itu membalas memaki ayahnya kemudian ia memaki ibu orang lain, dan orang itu memaki ibunya. (H.R. Bukhari).

رب اغفر لي و لوالدي

Karena Sampan Tak Pernah Lelah



"Sederhanalah dalam beramal, mendekatlah pada kesempurnaan, pergunakanlah waktu pagi dan sore serta sedikit dari waktu malam. Bersahajalah, niscaya kalian akan sampai tujuan."
[HR Al Bukhari]

Melalui hadits di atas, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kepada umat manusia, Islam adalah agama yang mengajarkan kesederhanaan dan keseimbangan dalam ucapan dan perbuatan. Melanggar batas-batas keseimbangan dan berlebih-lebihan, akan berdampak negatif terhadap pelakunya. Ia akan terhenti di tengah jalan. Sebab, sikap tersebut akan membuatnya jenuh dan bosan, dan dapat menyebabkan ia mengabaikan kewajiban yang lebih utama atau tertunda melaksanakannya.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, mendadak Beliau melihat tali yang terulur antara dua tiang. Nabi bertanya: "Tali apakah ini?” Jawab mereka: "Tali kepunyaan Zainab. Kalau ia merasa letih berdiri dalam shalat, maka ia berpegangan dengannya." Maka Nabi bersabda:

حُلُّوْهُ، لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَرْقُدْ

Lepaskanlah tali itu, hendaklah salah seorang dari kamu mengerjakan shalat saat bersemangat. Dan jika ia merasa malas, maka hendaklah ia berbaring terlebih dulu." [Muttafaqun 'alaihi]

Sebaik-baik Perniagaan



"Hai orang-orang Quraisy, kalian semua tahu aku ahli memanah. Demi Allah, sebelum kalian berhasil mendekatiku, aku akan membidik kalian dengan semua anak panah yang aku bawa. Setelah itu, aku akan melawan kalian dengan pedang sampai titik darah penghabisan.
Sekarang terserah kalian, jika kalian ingin mendekat, mendekatlah! Atau, aku tunjukkan di mana harta kekayaanku, dan kalian biarkan aku pergi!"
Demikian teriak yang menggetarkan dari Shuhaib bin Sinan, tatkala orang-orang Quraisy mencoba mencegahnya untuk berhijrah menyusul Rasulullah.

Ternyata orang-orang Quraisy lebih memilih harta Shuhaib, dan membiarkan Shuhaib pergi setelah menunjukkan di mana hartanya di simpan.

Shuhaib melanjutkan perjalanan
hijrahnya seorang diri dengan bahagia, hingga berhasil menyusul Rasulullah.
Melihat kedatangan Shuhaib, Rasulullah berseru gembira,
"Perdagangan mu sungguh mendapatkan laba yang besar, Abu Yahya.."

Saat itulah Allah menurunkan firman-Nya,

"Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah.."
(Al Baqarah : 207)

Begitulah Shuhaib laki-laki mulia yang telah menebus diri dan keimanannya dengan semua harta yang ia kumpulkan selama masa mudanya dan sama sekali ia tidak merasa rugi.

Baginya apalah arti harta kekayaan, bahkan dunia seisinya jika dibandingkan lezatnya keimanan dari jiwa yang bebas merdeka.

Berkah Pemimpin Amanah


Suatu ketika ada seorang bapak yang mobilnya di hentikan oleh seorang ibu di pasar. Si ibu meminta si bapak untuk mengantarnya ke pasar beringharjo, dan tanpa bertanya-tanya, dengan rendah hati si bapak mengangarnya.

Setibanya di pasar, si ibu.meminta sayur dan barang belanjaannya diturunkan. Si bapak pun dengan rendah hati segera menurunkan barang tersebut. Setelah karung-karung sayur ditaruh, si ibu bertanya,"berapa ongkosnya pak supir?"
"Wah nda usah bu,"tolak si bapak ramah.
"Walaah pak sopir, kaya nda butuh uang saja,"ujar si ibu yang langsung direspon santun oleh si bapak,"sudah nda apa bu saya cuma membantu."

Tak lama, selepas si bapak pamit, seorang mantri polisi yang sedari tadi mengamati, menghampiri si ibu, dan memberi tahu siapa sebenarnya si bapak tadi. Si ibu terkejut, pingsan.

Si bapak adalah Bendoro Raden Mas Dorodjatun, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Hamengku Buwono lX.

Mengemban amanah pemimpin artinya menjemput takdir kepahlawanan. Dan seorang pahlawan tidak bisa tidak harus mengambil peran melayani. Memberikan apa yang ia punya. Mengambil tempat untuk menjadi penolong pertama.
Ketika memberi ia memberi dengan cinta, ketika membantu ia membantu sepenuh cinta.

Terberkahilah seorang pemimpin tatkala di dadanya tersimpan seuntai kalimat tekad,

"ketika tugas negara dimulai kepentingan pribadi berakhir."

Mereguk Keruhnya Jamaah


“Siapa yang menginginkan naungan surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan jamaah.” (At-Tirmidzi)

Sahabat, bila suatu kali kita naik sebuah kapal mengarungi lautan luas.
Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang,
kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu,
apa yang akan kita lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?

“Apakah kita memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai
tujuan?” 

“Bila kita terjun ke laut, sesaat kita akan merasa senang. Bebas
dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan kita untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? 
Darimana kita mendapat makan dan minum? 
Bila malam datang, bagaimana kita mengatasi hawa dingin?

Tumbuh bersama dengan orang-orang yang kita yakini memberi efek positif bagi kita menjadi keniscayaan, agar ada yang menggamit lengan saat kita melangkah terhuyung. Meski hidup dalam sebuah komunitas (jamaah) pun tak selamanya indah.

Mari renungkan lagi nasihat Sayidina Ali bin Abu Thalib,

"Kekeruhan bersama jamaah jauh lebih baik daripada kejernihan dalam kesendirian".

Sang Penyanggah Dunia


Suatu ketika Buya Hamka di undang untuk mengisi ceramah. Mendadak, mc memanggil Ummi Siti Raham, istri Buya Hamka untuk naik ke atas panggung.
Anggapannya, istri seorang penceramah hebat pasti juga sama hebatnya.
Buya terkejut, Ummi Siti Raham, sang istri benar-benar maju dan naik ke podium.

Buya kian panik. Tapi hanya satu menit, setelah memberi salam, sang istri berkata,"saya bukan penceramah, saya hanya juru masak untuk sang penceramah."

Dalam hidup ada peran-peran rahasia yang dijalankan oleh orang-orang yang mencintai kita. Little things but mean a lot. Dan peran peran itu kerap dijalankan dalam senyap, dalam kondisi yang kadang tak banyak orang tahu.
Bahkan kita yang setiap hari dikelilingi cintanya, seringkali tak menyadari itu, dan tak memahami cara mereka mengejawantahkan cintanya.

Maka sebutlah namanya dalam doa-doa kita, nama orang-orang yang dalam letih dan lelahnya tetap mendukung kita dengan cintanya.

Surprise Allah


Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)

Alangkah indah apa yang dikatakan sayidah Hajar ra, istri Nabi Ibrahim alaihi salam dan bunda Ismail alaihi salam, ketika mengikuti suaminya yang meninggalkan ia dan puteranya di suatu lembah yang gersang.
Ia mengulang kata-kata pada Nabi Ibrahim alaihi salam,

"Wahai Ibrahim, hendak kemana engkau pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah tanpa penghuni dan tak ada apa-apa?

Namun Ibrahim tidak menolehkan mukanya kepada istrinya. Lalu Hajar bertanya,
"Apakah Allah yang memerintahkanmu seperti ini?

Ibrahim menjawab,"ya!"

Hajar berkata lagi,"jika demikian, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.."

Sungguh Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menyia-nyiakan keyakinan seorang hamba yang taat pada-Nya.

Itulah yang di rasakan bunda Hajar, tatkala dahaga mulai mencekik, dalam kebingungan ia berlari menyusuri bukit safa dan marwah mencari sumber air. Diantara desah nafas tersenggal ditengah lunglai kaki berlari tetiba ia mendengar gemericik air, serta merta dihampiri sumber suara itu, alangkah terkejut ia begitu menyadari ada sumber air yang deras memancar di bawah kaki Ismail kecil.

Begitulah surprise Allah, indah, ajaib, menggetarkan, namun begitu membahagiakan.

Bahagia Itu Di Sini


Jika populeritas dan segudang prestasi bisa membuat orang bahagia, hari ini dunia tidak akan dikejutkan dengan kabar meninggalnya aktor gaek Robin Williams, yang diduga bunuh diri karena depresi.

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api. 

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal dari USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis. 

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya. 

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga mati overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi. 

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya. Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri... 
Mampukah ia mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal. 

Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka. 

Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada . 

Untungnya, letak kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu. Yang kita perlukan adalah HATI yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN yang JERNIH, maka kita bisa menciptakan rasa BAHAGIA itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun. 

‬‪#‎yukCiptakanBahagiaVersiKita‬