Jumat, 24 Oktober 2014

Agar Hati Tertuntun


Sesungguhnya hati-hati ini berada di antara jemari Allah Yang Maha Pengasih, Dia bolak balikan menurut apa yang di kehendakinya. (HR. Muslim, Ahmad)

Karenanya sangatlah elok jika kita mengulang-ulang doa "tsabbit qalbii alaa diinik, tetapkan hati kami diatas agama-Mu", sebakda sholat. Sebab, gamitan jemari-Nya agar hati tertuntun menuju keridhoan-Nya adalah hajat terbesar kita.

Seperti yang dituliskan Sayyid Quthb dalam fii zhilalil qur'an, "Sebab Dia lebih tahu, tentang hakikat dan bentuk rupaku, tugas-tugas dan perasaanku, juga keadaan dan tempat kembaliku, maka Dia pulalah yang memberi petunjuk kepadaku. Menunjukiku untuk menuju-Nya, menunjukiku jalan yang aku harus meniti diatasnya, dan menunjukiku irama langkah yang harus ku ayunkan ke arah-Nya."

Percayalah, ketika hati manusia tak tertuntun menuju Rabbnya, maka betapapun gagah dan indahnya raga, ia takkan lebih baik dari hewan. Renungkanlah nasihat KH Anwar Zahid, "Calon ayam yakni telur, lebih mudah di jual daripada calon manusia. Kotoran sapi lebih laku dan berguna ketimbang limbah manusia. Kambing jantan yang memperkosa kambing betina peliharaan tetangga hingga bunting akan di anggap kebajikan. Tetapi, anak lelaki yang menghamili gadis tetangga pastilah kenestapaan."

Dia lah Allah Yang Maha Segala


"Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa."
(QS, Al-Baqarah : 21)

"Ayat ini menghubungkan penciptaan dengan kehambaan. Maka tiap kali ruh kehambaan dan amal ibadah kita melemah, sungguh baik jika kita merenungkan dalam-dalam berbagai keagungan-Nya dalam penciptaan."
Begitulah Dr. Nashir Ibn Sulaiman menuturkan dalam Liyadabbaru Aayaatih.

Suatu kita datang kepada Imam Abu Hanifah beberapa orang Zindiq, mereka mengingkari wujud Allah sebagai Sang Pemilik, Pemelihara, Pemberi Rizqi, dan pengatur alam semesta.
Mereka mengajak sang imam berdebat tentang hakikat eksistensi Allah.

Tetiba sang Imam berucap, "Biarkan sejenak aku di sini, sebab aku sedang memikirkan apa yang baru saja di sampaikan kepadaku."
"Apakah itu?" Tanya mereka.

"Bahwa ada sebuah bahtera yang berlayar lagi sarat dengan barang muatan dan tak ada seorang pun yang menjaga, mengendalikan, dan mengarahkannya. Namun demikian, kapal itu tetap melaju dengan lancar, menembus badai dan menghadapi topan, meski tanpa nakhoda. Ia terus melaju dengan tenang dan selamat sampai tujuan tanpa seorang awak pun yang memandunya." Jawab sang Imam.

"Ini adalah hal yang tak patut dikatakan orang berakal, bagaimana mungkin ada kapal berlayar tanpa awak dan nakhoda?"
Sahut mereka.

"Aduhai kalian, jadi apakah menurut kalian jagad raya yang demikian tertata penciptaannya, silih berganti malam dan siangnya, serta teratur pengisarannya ini bisa selamat dari kekacauan dan kehancuran jika tak ada Yang Mencipta dan mengendalikannya?"
Sungguh dalam menghunjam jawaban sang Imam, membuat mereka yang semula hendak berdebat menjadi bungkam terdiam.

Kamis, 16 Oktober 2014

Seringkali Kita Salah


Ini tentang sebuah cangkir cantik yang dipajang di sebuah etalase toko. Sebelum berada di sana, ia hanyalah seonggok tanah liat yang sama sekali tidak dihiraukan orang.
Kemudian seorang pengrajin mengambil dirinya, membentuk tanah liat itu, kemudian membakarnya di dalam perapian.
Sang tanah liat sempat marah dan benci terhadap perlakuan yang diterimanya. Ia harus menahan sakit dan kepanasan.
Tak sampai di situ, ia harus rela dicat dengan berbagai warna, kemudian dibakar lagi. Segala macam perlakuan sungguh tidak mengenakkan baginya. Namun apa yang terjadi, setelah semua proses selesai, sang tanah liat mendapati dirinya telah menjadi sebuah cangkir cantik. Ia bukan lagi seonggok tanah liat yang bau, tapi ia telah menjadi sosok baru dan tentu saja lebih baik. Insya Allah, Amin.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)

Antusiasme Kepahlawanan


Adalah para shahabat yang mengaplikasikan betapa antusiasme mampu melahirkan generasi terbaik sepanjang masa.

Kenanglah!
Bagaimana Bilal mempertahankan gairah keislamannya meski di tengah terik matahari yang membakar raga, pun di tindih batu besar, dengan antusias berucap ahad.. ahad..

Abu Dzar Al Ghifary dengan antusiasmenya mengakui keislamannya di tengah para pembesar kafir Quraisy.. dan berbuah luka lebam di sekujur tubuhnya tersebab pukulan, amukan kafir Quraisy..

Atau Mushab Ibn Umair pemuda tampan, bangsawan Quraisy yang menanggalkan kemewahan hidupnya, larut dalam nikmat
Islam dengan segala kesederhanaan, bahkan di akhir hayatnya tak cukup kain untuk menutup jasadnya, Sang Nabi pun berlinang airmata, menyaksikannya.

Hati Yang Berpelita


Laki-laki gagah ini tampak murung di sudut kamarnya, dari sudut matanya menitik bening bebulir airmata, dalam getarnya ia bergumam, "demi Allah ini pasti bukanlah
sebuah kebaikan, jika memang ini sebuah kebaikan mengapa tidak terjadi pada masa Rasulullah, juga Abu Bakar.."

Dialah Al-Farouq, di masa pemerintahannya yang gilang-gemilang, harta rampasan perang melimpah meruahi baitul maal, kaum mukmin terkepung sukacita.
Alih-alih merasa hebat seperti sang raja kebanyakan tatkala memenangkan peperangan, laki-laki ini justru duduk lemah tertunduk, berusaha memaknai kemenangan dan kebesarannya dari sudut berbeda.

Masya Allah.. Sungguh sebuah perspektif yang terlahir dari jiwa yang mulia, dari hati yang jernih bersumber dari kedekatannya
dengan Rabb-Nya.
Hati yang pendar cahayanya tak hanya menerangi pribadi agungnya tapi juga kaum mukminin dimasanya, dan menjadi
suluh saat kita menelusur lorong-lorong sejarah keemasan Islam.

Bertaqwalah


Empat ribu kambing bukan jumlah yang kecil, itu sangat banyak, besar, dan melimpah. Apalagi bagi keluarga miskin
seperti Auf Al-Asyja'i.
Dihari-hari awal islam yang penuh tekanan, permusuhan, dan perampasan, Auf bin Malik kehilangan anaknya, karena
disandera orang-orang musyrik Quraisy. Lelaki miskin itu hanya bisa mengadu kepada Rasulullah.

"Wahai Rasulullah, anakku disandera, dan istriku sangat tertekan. Apa yang engkau perintahkan untukku?" Kata Auf mengadu kepada Rasulullah.

"Bertakwalah kepada Allah, bersabarlah, dan perbanyak mengucapkan, laa haula walaa quwwata illa billaah." jawab
Rasulullah.
Maka lelaki itu pun menjalankan perintah itu, mengajak istrinya melakukan juga. Tak lama, penyandera itu lengah, dan anak Auf
melenggang pulang sambil menggiring pulang kambing-kambing milik orang kafir Quraisy itu, sebanyak empat ribu ekor.

(HR. Ibnu Mardawaih, Al Khatib dari Ibnu Abbas)

Maka turunlah ayat terkait dengan itu,"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka." (Ath-Thalaq:2-3)

Percayalah kejutan dari Allah melampaui harapan kita..

Mengelola Rasa Takut

Rasa takut bisa berimplikasi positif, namun bisa juga diterjemahkan secara negatif. Rasa takut membuat seseorang bersikap hati-hati, melakukan sesuatu dengan
serius dan bersunguh-sungguh agar ia bisa terhindar dari resiko atau ancaman yang ia takutkan.
Namun ada orang menanggapi rasa takut secara negatif dan berlebihan. Sehingga rasa takut menjadi hantu dalam dirinya dan membuat ia terdorong untuk melakukan kesalahan.
(Prof Dr Irwan Prayitno)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam mengajari kita untuk
berdo’a :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻗﺴﻢ ﻟﻨﺎ ﻣﻦ ﺧﺸﻴﺘﻚ ﻣﺎ ﻳﺤﻮﻝ ﺑﻴﻨﻨﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻚ

( Ya, Tuhan kami. Karuniailah kami rasa takut kepada-MU, yang dengan itu menjauhlah kami dari berma’shiyat kepada-MU)

Semoga Allah karuniakan kita kecerdasan untuk mengelola ketakutan menjadi penyeimbang dalam meniti langkah-langkah kebaikan.

Karena Ukhuwah Tak Gugur Tersebab Beda


"Pendapat kita mungkin benar namun bisa jadi mengandung kesalahan, pendapat mereka mungkin salah akan tetapi bisa jadi terselip kebenaran."
- Imam Syafi'i -

Pernah satu ketika Ibnu Abbas berselisih hebat dengan Zaid Bin Tsabit terkait pendapat masing- masing tentang Hak waris.

Namun pada kesempatan lain, terlihat Ibnu Abbas sedang menuntun seekor unta, yang diatasnya duduk tersipu Zaid bin Tsabit, seraya berucap,

"tak usahlah demikian wahai sepupu Rasulullah!"

"demikianlah kami diperintahkan kepada ulama-ulama kami."
jawab Ibnu Abbas sambil tersenyum.

"sekarang, coba tunjukkan tanganmu, duhai putra paman Nabi,"
pinta Zaid, saat itulah ketika Ibnu Abbas mengulurkan tangan, Zaid langsung mencium tangan Ibnu Abbas.

"apa ini wahai sahabat Rasulullah?" Ibnu Abbas terperangah.

"Demikianlah kami diperintahkan kepada Ahli Bait Nabi kami," jawab Zaid bin Tsabit.

Kerang Rebus & Kerang Mutiara


*Oleh Ustadz Jamil Azz

Dikisahkan pada suatu ketika, beliau sedang
memancing ikan di sungai dekat rumahnya.
Sejenak kemudian, datang menghampiri Bapaknya
dan langsung duduk di samping beliau.
Sang Bapak kemudian berkata, “Mil, Bapak mau cerita, mau
dengar tidak?”
Si anak kecil yang bernama Jamil pun sontak langsung
mengangguk.
“Kamu tahu proses terjadinya mutiara?” Tanya sang Bapak.
Si Jamil kecil hanya hanya menggelengkan kepalanya.
Sambil merangkul pundak anaknya, si Bapak pun melanjutkan
ceritanya.

Waktu kerang muda mencari makan atau bergerak untuk pindah,
ia akan membuka cangkah penutup badannya.
Buka, tutup, buka, dan tutup, demikian terus dan berlangsung
secara berulang-ulang.
Suatu kali, di saat cangkah itu terbuka, sebutir pasir masuk ke
dalam cangkah tersebut.

Si kerang muda pun menangis sambil memanggil-manggil
ibunya.
“Bu, sakit bu, ada pasir yang masuk ke dalam tubuhku”. Sang Ibu
kerang pun menjawab, “sabar ya nak, jangan pedulikan sakit itu.
Bila perlu berikanlah kebaikan kepada sang pasir yang telah
menyakitimu itu”.

Si kerang muda pun menuruti nasihat ibunya. Ia
menangis, namun ia gunakan air matanya untuk
membungkus pasir yang masuk ke dalam
tubuhnya. Hal itu terus-menerus ia lakukan.
Dengan baluran air mata si kerang muda, rasa sakitnya pun berangsur-angsur berkurang bahkan kemudian hilang sama sekali.

Beberapa saat kemudian, kerang-kerang itu dipanen. Kerang yang ada pasirnya dipisahkan dari kerang yang tidak ada pasirnya. Kerang tak berpasir dijual secara obral di pinggir jalan atau
pasar untuk kemudian akan dibeli orang untuk dimasak menjadi “Kerang Rebus”
Sedangkan kerang yang berpasir, akan dijual ratusan bahkan
ribuan kali lipat lebih mahal dibandingkan kerang tak berpasir.

Mengapa bisa begitu? Karena pasir yang ada di dalam kerang itu
telah berubah menjadi inti mutiara. Ya, butiran-butiran pasir itu
telah dibalut dengan lapisan air mata si kerang muda. Hingga
saat dia telah dewasa, butiran pasirnya kemudian berubah menjadi mutiara.

Sang Bapak pun melanjutkan ceritanya dengan berkata, “kalau
kamu tidak pernah mendapat cobaan, kamu akan menjadi seperti
kerang rebus atau kerang yang harganya murah. Tapi kalau kamu
mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberi manfaat
pada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, kamu
akan menjadi mutiara”.

Hidup adalah pilihan, semuanya tinggal kembali kepada diri kita masing-masing. Ingin menjadi kerang rebus atau kerang mutiara, semuanya kita sendiri yang menentukan.
Hiduplah dengan banyak memberi manfaat untuk
orang lain.
Hidup itu bukan hanya terletak pada seberapa besar
masalah yang telah kita dapatkan atau terima. Namun juga
seberapa banyak manfaatyang bisa kita berikan pada sesama dan
lingkungan sekitar.

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang
lain (HR. Ahmad, Thabrani)

Kesabaran & Keberanian


Adakah dari kita yang tak mengenal Umar Bin Khattab?
Sosok tinggi besar yang jika berjalan di kerumunan, tubuh
tegapnya terlihat paling menonjol, jago gulat, bahkan setan lebih memilih jalan lain agar tidak berpapasan dengannya.

Keislamannya membuat Muslim lebih diperhitungkan, dialah sang terpilih dari dua sosok yang dipinta Rasulullah dalam doanya. Umar Bin Khattab simbol keberanian yang tak terbantahkan.
Namun Rasulullah, sosok paripurna, menterjemahkan keberanian dengan sangat indah. Keberanian yang tidak hanya dimiliki orang yang bertubuh tegap, jago gulat, atau semisalnya. Keberanian yang lahir dari rahim semangat dan kesabaran.
Tidakkah bergetar hati kita membaca sirahnya?

Ia sampaikan ayat-ayat suci kepada kaumnya meski kerap berbuah caci-maki, dan sumpah serapah.

Menyerahkah Ia tatkala dalam sujudnya setimba isi perut unta ditumpahkan kekepalanya oleh kaumnya?

Ciutkah keberaniannya tatkala ia ruku' seutas tali menjirat lehernya, bahkan puluhan batu merobek dahi dan pipinya hanya karena ia ingin mengajak kaumnya meniti jalan Ilahi.

Hanya seutas kalimat indah yang keluar dari lisan mulianya menghadapi perlakuan kaumnya,

"Aku hanya berharap dari sulbi-sulbi mereka akan lahir manusia-manusia yang beriman kepada Allah subhana wata'ala.."

Masya Allah darinya kita mengenal keberanian dari dimensi yang berbeda, keberanian adalah kesabaran, semangat, antusiasme dan optimisme.

Rabu, 15 Oktober 2014

Mulanya Sederhana


A'a Gym merumuskan sebuah perubahan dengan 3M,"Mulai dari diri sendiri, mulai saat ini, mulai dari yg paling sederhana.

Banyak kisah-kisah sukses yg di mulai dari hal sederhana, tapi kisah sukses Bilal Bin Rabbah sungguh berbeda, sukses yang membawanya ke tempat tertinggi dalam capaian manusia, "Jannah".

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ra setelah shalat fajar, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalanmu dalam Islam yang paling engkau harapkan.
Karena sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu di hadapanku dalam surga.”

Bilal berkata, ”Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang lebih aku harapkan melainkan setiap kali aku bersuci pada malam atau siang hari aku selalu mengerjakan shalat yang bisa aku lakukan.” (HR Bukhari Muslim)

Betapa melakukan kebaikan sesederhana apapun, sungguh ia berbuah keajaiban, yang tak terfikir oleh kita.

“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang selalu mengganggu manusia” (HR. Muslim)

Saat Hari Terasa Berat


“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan
sahaja mengatakan: kami telah beriman, sedangkan mereka
tidak diuji? Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-
orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 2-3)

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan .”
(QS. Alam Nasyroh: 6)

Jika hari-hari terasa berat buat kita, percayalah kita bukan satu-satunya dan bukan yang pertama mengalami itu.

Dalam Sirah Nabawiyah ada bab khusus tentang tahun kesedihan (Amul Huzni), menceritakan betapa saat itu menjadi masa-masa terberat dalam hidup Rasulullah, beliau kehilangan orang-orang yang sangat dicintai nya.
Peristiwa Isro Mi'roj menjadi seperti secercah senyum mentari setelah badai kepedihan di hari-hari sebelumnya, memberi kekuatan baru dalam hidup Rasulullah.

Saat hari kita saat ini serasa di terpa badai, berat, perih, lelah.
Sejurus setelah ini, sambutlah secercah mentari yang Allah persiapkan untuk kita.

Karena Maut Amatlah Dekat


"Sesungguhnya Allah membentangkan Tangan-Nya pada
malam hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di siang
hari dan Dia membentangkan Tangan-Nya pada siang hari
agar bertaubat orang yang berbuat jahat di malam hari,
hingga matahari terbit dari Barat (Kiamat). "(HR. Muslim)

"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba,
selama (nyawanya) belum sampai di kerongkongan. "
(HR· At-Tirmidzi)

Dan sungguh, tak seorang pun meninggal kecuali ia menyesal. Jika dia orang baik, maka ia menyesal mengapa dia tidak memperbanyak kebaikannya, dan jika ia orang jahat maka ia menyesal mengapa ia tidak bertaubat, memohon ampun dan kembali kepada Allah.

Yang Telah Terkikis Dari Kita


Barangsiapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan di atas bumi; maka lihatlah Thalhah bin 'Ubaidillah”.
(HR At-Tirmidzi & Ibnu Majah)

Sungguh sebuah kabar yang membuat Laki-laki kekar (yang menjadikan tubuhnya perisai bagi Rasulullah dalam kecamuk perang uhud) ini menjadi berbunga-bunga.
Setiap waktu setelah peristiwa itu ia selalu menunggu kesyahidannya.

Syahid, prestasi ini yang menjadi dambaan para shahabat, sekaligus motivasi terbesar dalam menaklukan musuh-musuh Allah, tertorehlah kisah kepahlawanan Ja'far Assyiddiq, Mushab bin Umair, Sa'ad bin Abi Waqash, atau sang panglima Khalid Bin Walid serta sahabat lainnya.

Hal ini juga yang membuat gentar musuh, adakah lawan yang lebih berat dari orang-orang yang mendambakan kematian?

Catatan Sang Murobi


Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah
Subhana wata'ala pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap
fitnah jabatan dan wanita tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat
dalam urusan uang tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan
senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan
membuatnya tersinggung dan marah, sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak
mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pengajian/
majelis ilmu karena alasan istri, anak, mertua, tamu akan
senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus
begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktifitasnya apakah
kepada jalan-jalan kebaikan atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan
diri saat meretas jalan-jalan kebaikan. Ingatlah, mushaf Al-
Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan
memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Esok Selalu Baru


Suatu hari dihadiahkan kepada Rasulullah makanan, seekor burung, tentu sudah matang. Sebenarnya burung itu ada dua, tapi diberikan kepada beliau hanya satu.
Keesokan harinya, Rasulullah bertanya kepada para sahabat,
"adakah kalian punya makanan?"

Maka dihidangkan kepada beliau satu ekor burung lagi, beliau
pun heran dan bertanya,"dari mana ini?"
Bilal, salah satu sahabat yang ada disitu menjawab,"aku
menyembunyikannya untuk engkau wahai Rasulullah."

Mendengar itu, maka Rasulullah bersabda,"wahai Bilal,
janganlah engkau terlalu takut bahwa Allah pemilik Arsy akan
menyedikitkan pemberian-Nya, sesungguhnya Allah senantiasa
membawakan rezeki untuk setiap esok yang baru."

(Tarbawi, edisi 275 mei 2012)

Terkadang kita memiliki kekhawatiran berlebihan, kalau-kalau
esok kita tidak memiliki sesuatu yang kita butuhkan.
Lalu kita lebih memilih menyimpan rezeki hari ini untuk esok,
ketimbang berbagi dengan orang lain.
Padahal bisa jadi Allah menguji kita dengan kelebihan itu.

Semoga Allah menganugerahkan hati yang selalu ingin berbagi,
hati yang selalu yakin dengan rizki dari-Nya, dan Allah jauhkan
kita dari kekhawatiran yang berlebihan akan takdir esok hari.

Lelaki Itu Bernama Musa


Di sebuah mata air, di sebuah negeri yang bernama Madyan, Lelaki kekar yang sedang dalam pelarian dari  kejaran bangsa Firaun, melihat orang-orang berdesakan memberi minum ternak-ternaknya di sekitar mata air tersebut. Tak jauh dari tempat itu ia melihat dua gadis yang sedang kebingungan, tangannya memegang tali kekang kambingnya yang meronta kehausan.

Dalam lelah payahnya, lapar hausnya, lelaki ini masih sanggup menawarkan bantuan, digiringnya domba-domba itu ke mata air. Ketika dilihatnya ada batu menyempitkan permukaan itu, dia sadar inilah salah satu penyebab orang-orang menjadi berdesakan. Dengan sisa tenaga disingkirkannya batu itu, hingga mata air menjadi lapang tepiannya.

Seusai memberi bantuan lelaki itu pun berlalu, beristirahat sambil bersandar pada sebuah pohon, seraya berdoa, "Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi rizqi, dan Penguasaku, sesungguhnya aku terhadap apa yang kau turunkan di antara kebaikan amat memerlukan."

Dalam lapar dan dahaga yang teramat, rasanya pantas sekiranya lelaki ini meminta sedikit makanan dan minum seusai dia membantu dua gadis itu.
Tapi lelaki ini bukanlah seorang yang pamrih, baginya hanya Allah yang pantas ia mintai pertolongan, kecil maupun besar. Meminta pada makhluk baginya hanyalah kehinaan.

Tak lama berselang, datanglah seorang gadis yang tadi di tolongnya, seraya berkata yang kata-katanya terabadi dalam Alqur'an surat Al Qashash : 25, " Sesungguhnya Ayahku memanggilmu agar dia dapat membalas kebaikanmu yang telah memberi minum ternak-ternak kami."

Ternyata Allah tetap memilih keluarga si gadis sebagai penyambung kebaikan atas  permohonan seorang lelaki   yang tak ingin meminta kepada selain Rabbnya. Meski buatnya berupa apapun pertolongan dari Allah tetaplah yang terbaik.

Maka resapilah sebulir bening kalimat Umar Bin Khattab, "Aku tak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan. Sebab, setiap kali Allah mengilhamkan hamba-Nya untuk berdoa, maka Dia sedang berkehendak untuk memberi karunia.
Yang aku khawatirkan adalah, jika aku tidak berdoa."

Sungguh, bagi kita, selemah apapun kita, seperih apapun luka derita yang kita alami, sebuntu apapun jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.
Berdoa adalah langkah terindah yang bisa kita lakukan, menggantungkan segala beban pada yang Maha Bijaksana.
Hatta ketika doa itu kita rasa tak kunjung terkabulkan, percayalah Allah punya cara tersendiri meringankan beban masalah kita. Ia akan sirna perlahan, terbang ringan menjauhi kita, sampai akhirnya kita tersadar masalah itu telah terselesaikan.

"Karena terkadang nikmatnya berdoa kepada Allah, melampaui rasa nikmat pertolongan yang Allah berikan."

Senin, 13 Oktober 2014

Rizqi Pasti Menghampiri


Aku tahu rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang.
Aku tahu amalku takkan di kerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang.
(Hasan Al Bashri)

Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugerah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindera dari sifat maslahatnya.
Kasur yang empuk dapat di beli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh.
Hidangan yang mahal dapat di pesan, tapi lezatnya makan adalah rizqi, ia dapat terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.

Ada yang bergaji 100 juta rupiah tiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap kue yang legit, segera dikatakan padanya: "awas pak, kadar gulanya!"
Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya: "awas pak, kolesterolnya!"
Bahkan ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, "awas pak, tekanan darahnya!"

Dan rasa nikmat itu telah dikurangi.

Lagi-lagi ini soal rasa, seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar di pulau jawa, dengan penghasilan yang mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Tidur di alas empuk hanya membuat punggungnya ngilu. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.

Rizqi memang bukan sekedar apa yang kita miliki, bukan pula sekedar deretan angka dalam bilangan gaji, yang dengan nya apapun akan kita beli.
Ia adalah soal rasa, soal nikmat yang tersyukuri.
Dan menjadi keniscayaan ketika kita menjemputnya dengan sepenuh upaya yang di ridhoi-Nya, maka rizqi begitu sempurna nikmatnya.

"Karena apa yang ada disisi Allah, adalah ridho-Nya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa", demikian Imam Nawawi mempetuahi.

*disarikan dari buku Lapis-lapis Keberkahan : Salim A Fillah

Hanya Yang Cerdas


Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa-apa yang telah dipersiapkan untuk esok.. (QS. Al-Hasyr: 18)

Ini tentang tiga orang badui Mesir di zaman kuno yang tengah mengangkat batu. Ketiga-tiganya mengangkat batu yang sama beratnya dengan keringat yang sama derasnya. Tapi ketika ditanya, tampak perbedaan niat atau visi kerjanya, perhatikanlah bagaimana mereka menjawab pertanyaan yang sama ini:
“Apa yang sedang anda kerjakan wahai budak?”
Budak pertama menjawab, “Apa kamu tidak melihat saya sedang kelelahan mengangkat batu berat ini?”
Setelah budak pertama lewat, budak kedua ditanya lalu dia menjawab, “Aku sedang membangun piramida.”
Lalu, budak ketiga ditanya juga setelah budak kedua lewat, dia menjawab begini, “Aku sedang membangun peradaban Mesir.”

“Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari” , demikian Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Lukman : 34.

Dan hari esok bagi seorang muslim bukanlah sekedar kenikmatan hidup di dunia, hari esok bagi muslim adalah hari dimana kelak banyak jiwa-jiwa yang menyesal karena keliru memaknai hari ini dan gagal melukis esok hari.

Tersebab itulah membuat perencanaan terbaik untuk hidup kita kelak adalah keniscayaan, agar kita bisa merasakan setiap detik perubahan-perubahan dalam diri kita untuk esok yang baik.

“Para perencana, semuanya adalah pembawa perubahan dan setiap pembawa perubahan adalah perencana.” (Leonard Duhl)

Rabu, 08 Oktober 2014

Derajat Taubat


"Surga An-Na'im berada di antara surga Firdaus dan surga Adn, didalamnya terdapat bidadari-bidadari yang diciptakan dari bunga-bunga surga. Surga ini ditempati orang-orang yang hendak melakukan kedurhakaan, lalu tatkala mengingat Allah, mereka meninggalkannya karena takut kepada Allah."
(Malik Bin Dinar)

Ibnu Qoyyum Al Jauzyah menulis dalam bukunya Raudhah Al MUhibbin Wa Nuzhah Al Musytaqin :

Bakar bin Abdullah Al Muzany menuturkan, bahwa ada seorang tukang jagal yang jatuh cinta pada gadis tetangganya. Suatu hari sang keluarga gadis menyuruhnya pergi kedesa lain untuk suatu keperluan. Tukang jagal mengikuti di belakangnya, lalu merayunya. Sang gadis berkata, “Jangan engkau lakukan itu, memang saya bisa menyatakan cinta kepadamu, tetapi saya takut kepada Allah.”

“Engkau takut kepada Allah, sementara saya tak takut kepadaNya?”, kata tukang jagal. Setelah itu ia pulang untuk bertaubat. Di tengah perjalanan ia diserang rasa haus dan tak lama kemudian ia ber papasan dengan seorang ulama dari Bani Israel.

“Apa yang terjadi dengan dirimu?”, tanya ulama.

“Aku kehausan,” jawab tukang jagal.

“Kalau begitu, marilah berdoa kepada Allah, agar ada awan yang memayungi kita hingga tiba didesa.”

“Aku tidak mempunyai amal yang layak untuk berdoa kepada Allah,” jawab tukang jagal.

“Kalau begitu aku saja yang berdoa dan engkau yang mengamininya.”

Maka utusan dari Bani Israel itu berdoa kepada Allah dan tukang jagal mengamininya. Tak lama kemudian ada awan yang memayungi mereka berdua, hingga mereka tiba didesa dan berpisahlah mereka. Ketika itu awan mengikuti si tukang jagal dan meninggalkan ulama. Sehingga ulama tadi heran, ia mendatangi tukang jagal, dan bertanya,

“Engkau pernah menyatakan bahwa engkau tak memiliki amal untuk dijadikan sarana berdoa, lalu akulah yang berdoa dan engkau yang mengamininya. Ternyata awan itu mengikutimu. Apa yang sebenarnya yang terjadi denganmu?”

Tukang jagal pun bercerita tentang kejadian yang dia alami.

Sang ulama pun takjub dan berkata, “Sesungguhnya orang yang bertaubat kepada Allah itu berada disuatu tempat yang tak ada orang lain yang menyamai kedudukannya.”

Senin, 06 Oktober 2014

Bekerjalah!


“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berusaha (bekerja), maka hendaklah kalian berusaha.” (HR. Thabrani).

Selain memerintahkan bekerja, Islam juga memberikan tuntunan kepada setiap Muslim agar dalam bekerja di bidang apapun haruslah mempunyai sikap yang profesional. Profesionalime menurut pandangan Islam dicirikan oleh tiga hal, yakni (1) kafa`ah, yaitu adanya keahlian dan kecakapan dalam bidang pekerjaan yang dilakukan; (2) himmatul ‘amal, yakni memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi; dan (3) amanah, yakni terpercaya dan bertanggungjawab dalam menjalankan berbagai tugas dan kewajibannya serta tidak berkhianat terhadap jabatan yang didudukinya.

Apapun profesi kita saat ini, berupaya menjemput rizki dari-Nya semoga bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan lahiriah, tapi juga dalam rangka menggugurkan dosa-dosa kita sebagaimana sabda Rasulullah,

"Sesungguhnya di antara perbuatan dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus (ditebus) oleh (pahala) shaum dan shalat."

Ditanyakan pada Beliau: "Apakah
yang dapat menghapuskannya, Ya Rasulullah?"

Jawab Rasul SAW: "Kesusahan
(bekerja) dalam mencari nafkah penghidupan.."
(HR. Abu Nuaim)

Senin, 29 September 2014

Menikmati Kritik


Suatu hari Rasulullah SAW memberikan sandal beliau kepada Abu Hurairah seraya berkata, “Hai Abu Hurairah, pergilah kamu, bawa sandalku ini. Lalu, siapa saja yang kamu temui di balik tembok ini, yang telah menyatakan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya, dia akan masuk surga.”

Maka yang pertama-tama ditemui Abu Hurairah ialah Umar bin Khattab. Dia bertanya, “Apa maksud sepasang sandal ini, Hai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Ini sandal Rasulullah SAW. Beliau menyuruh aku membawanya (dengan pesan), siapa saja yang aku temui telah menyatakan, bahwasanya tida Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka aku beri kabar gembira, dia bakal masuk surga.”

Mendengar hal itu, tiba-tiba Umar menghantamkan tangannya ke dada Abu Hurairah sampai ia jatuh terduduk, seraya berkata, “Kembali, hai Abu Hurairah!”. Maka Abu Hurairah pun kembali menemui Rasulullah SAW setengah menangis, sementara Umar membuntutinya.

“Kenapa kamu hai Abu Hurairah?” Tanya Rasul kepada Abu Hurairah. Ia menjawab, “Saya bertemu Umar, lalu saya beritahu dia apa yang telah tuan perintahkan kepadaku, tapi tiba-tiba dia memukul dadaku sampai aku jatuh terduduk, seraya menyuruh aku kembali.”

“Hai Umar,” Rasul bertanya kepada Umar, “Kenapa kamu melakukan seperti ini?”

Umar menjawab, “Ya Rasulullah, aku tebus engkau dengan ayah bundaku, benarkah engkau menyuruh Abu Hurairah membawa sandalmu (dengan berpesan), barangsiapa yang dia temui telah menyatakan tiada Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka dia beri kabar gembira bakal masuk surga?”

“Benar,” jawab Rasul. Maka Umar menyarankan, “Jangan lakukan itu. Karena saya benar-benar khawatir orang-orang akan mengandalkan kata-kata itu saja. Sebaiknya, biarkanlah mereka beramal.” Akhirnya Rasulullah SAW pun bersabda, “Kalau begitu, biarkan mereka.”

*****

Kisah ringkas di atas diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.
Ketika kita menyampaikan sebuah kebaikan tidak semua orang menerimanya dengan perspektif yang tepat, menjadi keniscayaan bagi kita untuk memilih tema, cara dan waktu yang pas agar pesan kebaikan tersampaikan dengan baik.
Pun ketika kita rasa semuanya sudah tepat, tetaplah terbuka menerima kritik dan saran, sebab bisa jadi ada hal yang terlewat dari perhatian kita.Perhatikanlah bagaimana Rasulullah yang maksum begitu lapang menerima kritik dari sahabatnya Umar Al Farouk.

Wallahu'alam

Menangislah karena-Nya


Suatu hari, seorang tokoh bertamu ke rumah Hasan Al Basri. Sambil menunggu, ia duduk di tempat shalat ulama kharismatik itu. Tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang basah di situ. Ia melihat ke atap, tidak ada yang bocor. Dengan setengah marah, ia berkata kepada keluarga Hasan Al Basri. “Mengapa kalian membiarkan anak kecil masuk ke tempat shalat Syaikh kami?”

“Apa maksud Anda?” tanya istri Hasan Al Basri.

“Lihatlah ini. Ada ompol di tempat shalat beliau. Seharusnya tempat ini disterilkan dari anak-anak” katanya dengan nada menasehati.

“Itu bukan ompol. Bukan pula air yang tumpah. Tetapi ketahuilah, sesungguhnya setiap kali Hasan Al Basri shalat di situ, ia tak kuasa membendung air matanya. Setiap kali sujud, ia menangis dan berderailah air matanya. Hingga tempat itu hampir selalu basah dan tak pernah kering."

Pernahkah sebulir bening airmata kita menetes karena takut pada-Nya, sesering kita menangis akan derita dunia yang menimpa?

Pernahkah kita bersedih saat teringat dosa-dosa kita, sesedih saat kita kehilangan harta dunia yang kita miliki?

Ampuni hamba-Mu yaa Rabb...

Jumat, 26 September 2014

Ujian Kesenangan


Abdurrahman bin Auf pernah menggambarkan betapa beratnya ujian ini, dan betapa banyaknya orang yang tidak lulus menghadapinya,
" Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasulullah SAW dan kami dapat bersabar. Kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau wafat, dan kami pun tidak dapat bersabar."
(HR. Tirmidzi; hasan menurut Al-Albani)

Saat didera kesulitan demi kesulitan kita justru menjadi sangat kuat, karena tanpa kita sadari kita semakin dekat dengan Allah tersebab doa-doa kita.
Namun ketika dikelilingi kesenangan tak jarang kita menjadi terlena lalu lalai dari mengingat-Nya, kitapun menjadi lemah, meski sejatinya hanya sedikit ujian namun terasa sangat berat bagi kita.

Apapun bentuknya, Allah takkan berhenti memberi ujian buat kita sampai langkah kaki melenggang meniti surga.

"Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa."
(HR. Tirmidzi dan An-Nasai, dishahihkan Al-Albani)

Kamis, 25 September 2014

Laa Taghdob (Jangan Marah)


Sulaiman Ibnu Sard RA. meriwayatkan, “Pernah dua orang yang saling mencerca satu sama lain di hadapan Rasulullah Saw.. Sementara itu, kami sedang duduk di sisi beliau. Salah seorang dari mereka menghina yang lainnya dengan diiringi kemarahan, hingga merah mukanya. Maka, Rasulullah Saw. bersabda,
“Aku mengetahui suatu kalimat yang jika diucapkan olehnya (orang yang sedang marah), maka akan hilang kemarahannya. Hendaklah dia berkata, “A’udzubillahi minasy syaithaanirrajiim" (aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk).
(HR. Bukhari Muslim)

Karena kemarahan adalah bentuk hasutan syaithan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari syaitan. Dan syaitan tercipta dari api. Dan sesungguhnya, api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang diantara kalian marah, maka berwudhulah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Rasulullah dan generasi emas islam telah memberi contoh bagaimana mengelola amarah, kita semua tahu seberapa hebat kesedihan beliau tatkala seruannya di tolak kafir Quraisy, bahkan tak jarang lemparan batu, hinaan dan sumpah serapah menjadi balasannya. Jibril dan Malaikat penjaga gunung geram, lalu seperti apa ungkapan kemarahan Rasulullah?
"Aku hanya berharap semoga dari sulbi-sulbi mereka kelak terlahir hamba-hamba Allah yang beriman dan taat pada-Nya."

‪#‎IstighfarBekaliKali‬

Rabu, 24 September 2014

Pasir Dan Batu


Dua orang sahabat sedang berjalan di padang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu. Salah seorang dari kedua sahabat itu menampar temannya, dan yang ditampar itu merasa sakit tetapi dia tak berkata apa apa, hanya menulis diatas pasir : "HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPARKU"

Mereka tetap berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis (sumber air), mereka sepakat untuk mandi, teman yang telah ditampar tergelincir dan hampir saja tenggelam di oasis tersebut, tetapi temannya datang dan menolongnya, dan setelah diselamatkan oleh temannya dari bahaya, dia menulis di Batu "HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU"

Teman yang telah menampar dan yang telah menyelamatkan nyawa teman baiknya itu bertanya kepadanya, "Setelah saya menyakitimu, kamu menulisnya di pasir dan sekarang, kamu menulisnya diatas batu, mengapa?
Temannyapun menjawab : "Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas pasir, agar angin dapat menerbangkannya dan dapat menghapusnya sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik kepada kita, kita harus mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yang dapat menghapusnya.."

Memberi maaf, meski hanya dalam diam, membuat dua jiwa mudah kembali menyatu, dan menumbuhkan sikap saling memahami.
Maka, mari belajar dari kisah ini, saling memaafkan, dan menuliskan setiap kebaikan itu di atas 'BATU' agar kebersamaan kita dengan siapapun selalu tumbuh dalam makna-makna yang kuat dan dalam.
Dan jiwa kita tumbuh saling menyatu, seperti sabda Rasulullah,
"Jiwa-jiwa itu seperti prajurit-prajurit yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan melembut dan menyatu, dan jika tak saling mengenal mereka akan saling berselisih dan berpisah.."
(HR. Muslim)

Senin, 22 September 2014

Menukar Syahid Dengan Fitnah (Wanita)


"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita"
(Muttafaq 'Alaih)

Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah seorang tabiin (270H) yang hafal qur'an. Namanya adalah sebaik-baik nama, Abdullah bin Abdurrahim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya didunia ini seorang mujahid nan hafal quran. Namun lacur akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang hafalannya kecuali 2 ayat yang tersisa. Yaitu surah al hijr ayat 2-3,

"Orang-orang kafir itu diakhirat nanti sering menginginkan, andai didunia dulu mereka muslim. Biarkanlah mereka makan dan senang2, dilalaikan oleh angan2 kosong belaka, kelak mereka akan tahu akibatnya".

Seolah ayat ini menjadi peringatan Allah yang terakhir namun tak digubrisnya. Apakah penyebabnya? Penyebabnya adalah wanita !!

***

Pedangnya masih berkilat-kilat memantul sinar mentari. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya. Tak disangka nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita romawi, tidak dengan pedang melainkan dengan asmara.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi.
Tiba-tiba mata Abdullah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tuk lolos dari su'ul khotimah. Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:

"Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?"
Perempuan itu menjawab: "Kakanda, masuklah agama kami maka aku jadi milikmu."

Syahwat telah memenuhi relung hati Abdullah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta alquran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Astaghfirullah, ma'adzallah.

Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudera. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad. Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorang hafidz yang hatinya dipenuhi alqur'an meninggalkan Allah dan menjadi hamba syahwat? Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Dikatakannya bahwa ia telah lupakan qur'an kecuali 2 ayat diatas saja dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum Romawi. Dalam keadaan seperti itulah dia menutup hidupnya. Na'udzubillah..

Rabbana, jika dua amalan hebat itu saja tak menjadikan hamba-Mu yang shalih mampu meredam fitnah, apatah lagi secuil tilawah dan sebutir peluh kami saat mencari nafkah, itupun disertai keluh kesah.
Maka ampuni kami ya Rabb..lindungi kami dari dahsyatnya fitnah dunia...

*Disarikan dari tulisan DR. Hamid Ath Thahir dalam buku Dibawah Kilatan Pedang (101 kisah heroik mujahid)

Minggu, 21 September 2014

Hidup Memang Perjuangan


Alkisah, di suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama
berjam-jam, sementara si petani sibuk memikirkan langkah apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya, si petani mengambil keputusan dramatis. Dengan alasan si keledai itu sudah tua dan sumur juga perlu di timbun
( di tutup karena berbahaya ), jadi tak ada gunanya menolong si keledai. Malah dia mengajak para tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, si keledai menyadari apa yang sedang terjadi dan dia menangis penuh kesedihan. Tapi kemudian semua
orang takjub karena si keledai menjadi diam justru setelah orang-orang bermaksud menguburnya hidup-hidup…setelah
beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani dan tetangganya melihat ke dalam sumur. Mereka
tercengang dengan apa yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya terus tertimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang
menakjubkan. Dia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara para tetangga si petani terus menuangkan tanah ke atas punggung hewan itu dan si keledai terus mengguncang-guncangkan badannya lalu melangkah naik.
Setapak demi setapak. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncat ke tepi sumur dan melarikan diri… !!!

Begitu juga hidup ini, setiap masalah-masalah merupakan satu pijakan untuk terus melangkah….kita dapat keluar dari
masalah yang sangat berat dengan terus berjuang dan pantang menyerah.
Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, tapi inilah satu-satunya waktu yang kita miliki
saat ini…manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya ..

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟَﺎﻫَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻨَﺎ ﻟَﻨَﻬْﺪِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺳُﺒُﻠَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟَﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ. ﺍﻷﻧﻜﺒﻮﺕ

" Adapun orang-orang yang berjihad (mempersungguh) di dalam urusanKu maka akan Aku ( Allah ) tunjukkan jalanKu
pada mereka, sesungguhnya Allah niscaya beserta orang-orang yang berbuat baik".
(QS al-Ankabut 69)

Bermula Dari Senyum


Nabi Muhammad saw telah bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Hadits Riwayat At Tirmidzi dalam sahihnya.

Dalam Hadits lain yang diriwayatkan Ad-Dailamy, Rasulullah SAW bersabda:
”Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak: tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar ma’ruf nahyi muunkar, menyingkirkan penghalang (duri, batu) dari jalan, menolong orang, sampai senyum kepada saudara pun adalah sedekah.”

Anas bin Malik bertutur: “Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah saw, saat itu beliau memakai selimut dari daerah Najran yang ujungnya sangat kasar. Tiba-tiba ia ditemui seorang Arab dusun. Tanpa basa basi, laki-laki dusun itu langsung menarik selimut kasar Rasulullah saw itu keras-keras sehingga aku melihat bekas merah di pundak Rasulullah saw... Laki-laki dusun tersebut berkata, ‘Suruh orang-orangmu untuk memberikan harta Allah kepadaku yang kau miliki sekarang.’ Rasulullah saw lalu berpaling kepada laki-laki tadi. Sambil tersenyum, beliau bersabda, ‘Berilah laki-laki ini makanan apa saja’.” (HR Bukhari).

Senyuman yang tulus dari seseorang memberikan refleksi kejiwaan positif kepada orang lain. Bahkan senyuman juga memiliki efek positif bagi diri sendiri, betapa banyak para pakar kesehatan yang menemukan manfaat senyum bagi kesehatan. Selain mengurangi kerut pada wajah senyuman juga dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi stress, sampai meningkatkan kekebalan tubuh.
Seorang muslim selalu diajarkan agar memiliki sifat lapang dada dan senantiasa terbuka menebarkan senyuman kepada orang lain.

Lebih jauh tentang makna senyuman, seorang muslim yang tersenyum sama saja telah menebarkan kegembiraan dan kasih sayang melalui senyumannya. Sejalan dengan misi Islam menebarkan keceriaan di muka bumi ini.
Salah seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah menuturkan tentang Rasulullah SAW, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW.”
(HR Tirmidzi).

Sabtu, 20 September 2014

Yang Dicemburui Shahabat Dan Syuhada


"Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yg bukan nabi, dan bukan pula syuhada, tapi bahkan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti, tersebab kedudukan yang diberikan oleh Allah pada mereka," ujar Rasulullah.
"Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka?"pinta para sahabat.
"Mereka itu adalah segolongan manusia yg saling mencintai karena rahmat Allah, bukan oleh sebab kekerabatan dan darah,
bukan pula karena didasarkan pemberian harta.
Demi Allah, wajah mereka pada hari itu bersinar cemerlang dan mereka berada di atas cahaya.
Mereka tiada merasa khawatir ketika manusia lain ketakutan,
dan tidak bersedih saat yang lain berduka," jawab Rasulullah.
( HR Imam Abu Dawud )

kawan, adakah persahabatan, persaudaraan dan keterikatan yg lebih indah dari menyatunya hati-hati dalam taat pada Rabb nya?
maka peluklah ia, bertahanlah dengan segala kekurangannya, sebab kekeruhan dalam kebersamaan jauh lebih baik daripada kejernihan dalam kesendirian, tidakkah kita ingin dicemburui para nabi dan syuhada?

Jumat, 19 September 2014

Dengan Apa Kita Beli Surga


“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka”. (At Taubáh: 111)

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda:
"Allah berfirman (artinya): ''Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan Al jannah) yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, serta terlintas di hati manusia. (HR. Muslim no. 2824)

Lalu dengan apa kita membeli surga, meraih keindahannya, merasakan kenikmatannya. Sedang shalat kita, sedekah kita, puasa kita, bahkan tilawah kita, bukanlah yang terbaik yang kita persembahkan. Jangan lagi bicara jihad (amalan utama bagi Muslim) yang membuat banyak dari kita tersurut mundur perlahan dengan beragam alasan. Lihatlah amalan harian kita. Shalat kita terburu-buru jauh dari khusyu, sedekah kita ragu-ragu, puasa kita penuh keluh, tilawah kita berhias ujub berbungkus riya dan cenderung seadanya.

Padahal ketika kita membiasakan diri tenggelam dalam lantunan ayat-ayat Al-Qur'an, membacanya dengan tartil sebagaimana Al-Qur'an diturunkan, Rasulullah menjaminkan tempat istimewa di surga. Karena tempat kita (disurga) ada di ayat terakhir yang kita baca. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah bersabda, "Dikatakan kepada orang yang tekun membaca Al-Qur'an, Bacalah dan naiklah dengan pelan-pelan, seperti kamu membacanya sewaktu di dunia, karena sesungguhnya tempatmu ada pada ayat terakhir yang kamu baca." (HR. Abu Dawud)

wallahu'alam bis showab

Kamis, 18 September 2014

Tempat Duduk Di Surga


“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. 62:9)

Al-Hasan Al-Bashri berkata: Demi Allah, sungguh maksudnya bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 4/385-386).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Hari Jum’at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum’at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan. (Zadul Ma’ad: 1/398).

Lalu jadilah langkah kita seringan udara, setulus hembusnya, selayak hamba yang menyambut panggilan cinta Yang Maha Pemurah.
Menambat jiwa pada baris-baris doa yang kelak mengantar kita pada indahnya taman-taman surga..

Meski Asing Dan Tak Dikenal


Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.
(Qs, Hud : 116)

Dari Abdullah Bin Umar,
"Suatu kali selagi kami bersama Rasulullah SAW, beliau bersabda, "beruntunglah orang-orang asing!"
kami bertanya, "wahai Rasulullah siapakah orang-orang asing itu?"
Beliau menjawab, "orang-orang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah orang-orang yang banyak. Siapa yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang taat pada mereka."

***

Suatu ketika Umar Bin Khaththab memasuki masjid, dan mendapatkan Muadz Bin Jabal sedang duduk menghadap ke arah rumah Nabi SAW, sambil menitikkan airmata.
Umar bertanya, "mengapa engkau menangis wahai Abu Abdurrahman?"
Muadz menjawab, "saudaramu ini telah binasa.."
"Tidak", kata Umar, "tetapi aku pernah mendengar sebuah hadits yang di sampaikan kekasihku Rasulullah SAW, juga di masjid ini."
"Apa bunyi hadits itu?" Tanya Muadz.
Umar menjawab," sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang suka sembunyi-sembunyi, miskin, bertaqwa, dan berbuat kebajikan. Jika mereka tidak tampak, mereka tidak dicari, dan apabila mereka tampak, mereka tidak dikenali. Hati mereka adalah pelita-pelita petunjuk. Mereka keluar dari segala cobaan yang buta dan gelap."

Menjadi terlihat asing karena sebuah prinsip kebenaran yang bersumber dari Ilahi adalah sebuah kebahagiaan, meski kita golongan yang sedikit. Bukankah banyak sejarah membuktikan kekuatan dan kesolidan mereka yang sedikit telah menjungkalkan kekuatan-kekuatan besar.

Wallahu 'alam

Sabtu, 13 September 2014

Air Di Gurun


Seorang pria tersesat di gurun pasir. Ia hampir mati kehausan. Akhirnya, ia tiba di sebuah rumah kosong. Di depan rumah tua tanpa jendela dan hampir roboh itu, terdapat sebuah pompa air. Segera ia menuju pompa itu dan mulai memompa sekuat tenaga. Tapi, tidak ada air yang keluar.

Lalu ia melihat ada kendi kecil di sebelah pompa itu dengan mulutnya tertutup gabus dan tertempel kertas dengan tulisan,”Sahabat, pompa ini harus dipancing dengan air dulu.. Setelah Anda mendapatkan airnya, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum Anda pergi.” Pria itu mencabut gabusnya dan ternyata kendi itu berisi penuh air.

“Apakah air ini harus dipergunakan untuk memancing pompa? Bagaimana kalau tidak berhasil? Tidak ada air lagi. Bukankah lebih aman saya minum airnya dulu daripada nanti mati kehausan kalau ternyata pompanya tidak berfungsi? Untuk apa menuangkannya ke pompa karatan hanya karena instruksi di atas kertas kumal yang belum tentu benar?” Begitu pikirnya.

Untung suara hatinya mengatakan bahwa ia harus mencoba mengikuti nasihat yang tertera di kertas itu, sekali pun berisiko. Ia menuangkan seluruh isi kendi itu ke dalam pompa yang karatan itu dan dengan sekuat tenaga memompanya.

Benar!! Air keluar dengan melimpah. Pria itu minum sepuasnya.

Setelah istirahat memulihkan tenaga dan sebelum meninggalkan tempat itu, ia mengisi kendi itu sampai penuh, menutupkan kembali gabusnya dan menambahkan beberapa kata di bawah instruksi pesan itu:

“Saya telah melakukannya dan berhasil. Engkau harus mengorbankan semuanya terlebih dahulu sebelum bisa menerima kembali secara melimpah.."

PERCAYALAH!!

"Jika kalian berbuat Baik (berarti) kalian berbuat Baik untuk dirimu sendiri,Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.. "
(QS. Al Isra : 7)

Jumat, 12 September 2014

Ketika Perut Rasulullah Berbunyi


Suatu ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat. Para sahabat yang menjadi makmum di belakangnya mendengar
bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu, langsung bertanya setelah selesai sholat, ”Ya Rasulullah, kami
melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit?”

Namun Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

Mendengar jawaban ini Sahabat Umar melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa setiap kali Anda menggerakkan
tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami
yakin engkau sedang sakit…”

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya,Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut.
Ternyata perut Rasulullah yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak. Umar memberanikan diri berkata,

”Ya Rasulullah! Adakah bila Anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami hanya akan tinggal diam?”

Rasulullah menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku.
Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu ini.
Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya?”

Para sahabat hanya tertegun. Rasulullah melanjutkan, ”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak
tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

aamiin ya robbal alamiin

Kamis, 11 September 2014

Kita Yang Selalu Menang


Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu, terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah
menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).
( Al-Fath : 1-3 )

Bukit Uhud menjadi saksi sejarah, bukan hanya tentang luka pasukan Muslim, lebih dari itu, betapa kita melihat pengorbanan, kesetiaan, dan cinta yang begitu indah.

Bukan hanya tentang syahidnya shahabat-shahabat utama yang memerihkan hati Sang Nabi, lebih dari itu, betapa semangat pejuang-pejuang Muslim tidak bisa tidak, telah menciut-lunakkan nyali musuh-musuh Islam, dan sungguh menyisakan tanya, mantra apa yang dibacakan Muhammad? mereka berperang seperti memiliki ribuan nyawa.

Ada yang terlupakan oleh para musuh-musuh Allah, bahwa Kaum Muslim sejatinya telah meraih kemenangan, bahkan sebelum mereka berperang. Karena Allah membersamai mereka dalam setiap hembus nafas, dalam setiap kerjap mata, dalam setiap gerak langkah.

Dengarlah teriak lantang para mujahid,"Hidup Mulia atau Syahid di jalan-Nya !!!

Sedekat Malaikat Dengan Rabbnya


“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”
(HR Bukhari Muslim)

Muda, tampan, cerdas, kaya, keturunan keluarga terpandang, santun, sungguh tipikal pemuda dambaan. Ia memiliki minyak wangi khusus yang hanya satu-satunya di mekkah, hingga tatkala ia lewat dari wanginya orang-orang akan mengenalinya, dialah Mushab bin Umair.

Namun cahaya islam menelusup hatinya, ia pun menyatakan keislaman dihadapan Sang Nabi, yang berbuah kemurkaan dari orangtuanya.
Segala upaya dilakukan orangtuanya, mulai dari mencabut semua fasilitas kemewahan yang biasa di kenakan anaknya, hingga aksi mogok makan sang Ibu, agar Mush'ab merasa iba dan membatalkan keislamannya.

Dengan raut sedih karena kecintaannya kepada ibunya di satu sisi, dan ketenangan dan kebahagiaannya karena telah mendapatkan cahaya islam di sisi yang lain. Mush'ab berucap lirih,"duhai bunda seandainya ada seratus nyawa yang engkau miliki, lalu ratusan kali engkau mengorbankan diri agar aku meninggalkan islam, sungguh aku lebih memilih islam."

Suatu ketika ia duduk disisi Rasulullah, diantara kaum muslimin lainnya. Mereka yang melihat penampilan Mush'ab dengan baju penuh tambalan tertunduk haru.
Dengarlah ungkapan cinta Rasulullah kepadanya, "Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Betapa Rasulullah teramat berduka tatkala menyaksikan jasad Mush'ab yang terbujur, ia syahid di bukit uhud usai bertempur membela Allah dan Rasulnya.
Hanya sehelai kain lusuh penutup tubuh yang jika ditutupi kepalanya, maka menyembul kedua kakinya, dan jika ditutupi kakinya wajah agungnya akan terlihat.
Sang Nabi pun bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!"

Rasulullah memandangi tubuh mulia itu, seraya berkata,
"Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah."

Malaikat pun Mendoakan Kita


Sayyidah Fathimah putri kesayangan Rasulul senantiasa melaksanakan shalat tahajud di rumahnya.
Ia menghabiskan malam-malamnya dengan Qiyamullail & doa.
Hasan bin Ali, putranya sering mendengar munajat sang bunda.

Suatu pagi, ketika Sayyidah Fathimah selesai berdoa,Hasan kecil bertanya, "Ya Ummi, dari tadi aku mendengarkan doamu, tetapi tak satu pun doa yang kau panjatkan untuk dirimu sendiri?"

Fathimah menjawab dengan lembut, "Nak, doakan dulu tetanggamu karena ketika para malaikat mendengar kau mendoakan tetanggamu, niscaya mereka akan mendoakanmu. Adakah yang lebih baik daripada doa para malaikat yang dekat dengan Allah?"

Apabila salah seorang mendoakan saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui oleh yang didoakan, para malaikat berkata, "Amin, semoga engkau memperoleh pula sebagaimana yang engkau doakan itu." (HR Muslim dan Abu Dawud)

Yaa Allah semoga pagi ini saudara kami, tetangga kami senantiasa dalam kebahagiaan..

Tuntun langkah mereka dalam menelusur jalan-jalan kebaikan..

Lapangkan hati mereka terhadap sesuatu yang tak selaras keinginan..

Anugerahkan rasa syukur atas nikmat-Mu yang tak terbilang..

Surga Sebelum Surga


Tidak ada kenikmatan, kelezatan, kesenangan dan kesempurnaan kecuali dengan mengetahui Allah dan mencintai-Nya. Merasa tentram saat menyebut-Nya, senang berdekatan dengan-Nya dan rindu bersua dengan-Nya. Itulah surga dunia bagi seorang hamba.
Sebagaimana dia tahu bahwa kenikmatannya yang hakiki adalah kenikmatan di akhirat dan di surga.
Dengan begitu dia mempunyai dua surga, surga yang kedua tidak di masuki sebelum dia memasuki surga yang pertama.

Kami pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Sesungguhnya di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memasuki surga di akhirat."

Sebagian orang arif berkata, "Hari-hari telah berlalu dan dapat dirasakan hati."
Maka saya katakan, "jika para penghuni surga seperti ini keadaannya, tentunya mereka benar-benar dalam kehidupan yang sangat menyenangkan."

Sementara sebagian yang lain berkata, "Para penghuni dunia yang celaka keluar dari dunia tanpa merasakan kenikmatan sedikitpun yang ada di dalamnya."
Orang-orang bertanya, "Lalu apakah yang paling nikmat di dunia ini?"
Dia menjawab, "Mencintai Allah, bersama-Nya, kerinduan bersua dengan-Nya, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari hal-hal selain-Nya.

(Ibnu Qayyim ~ Madarijus Salikin)

Selasa, 09 September 2014

Pena Dari Ilalang


"Di setiap kota terdapat pusat pembangkit listrik, para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran listrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah dan tempat lain.
Jika listrik itu dimatikan dari pusat pembangkitnya, seluruh kota akan gelap. Padahal saat itu tenaga listrik masih ada dan tersimpan di pusat pembangkit listrik, hanya saja tenaga listrik itu tidak dimanfaatkan."
(Hasan Al Bana)

"Begitu juga dengan Al-Qur'an," kata Abbas As Siisi dalam bukunya 'At-Thariq Illal Qulub', "ia pusat pembangkit 'tenaga' bagi umat Islam, tetapi sumber pembangkit itu kini dicampakkan oleh umat Islam sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan masyarakat menjadi rusak."

"Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita menuju cahaya... (QS. Al-Maidah : 15-16)

Demikianlah Allah menurunkan Al-Qur'an kepada kita, ia menjadi sebesar-besar energi dalam kehidupan kita.
Maka berbahagialah ketika kita berada di tengah-tengah komunitas yang berusaha dekat dengan Al-Qur'an, membacanya, menghafalnya, mengkaji dan sekuat upaya mengamalkannya.
Setidaknya kita telah berupaya menjadi orang-orang yang berusaha menjaga aliran listrik itu agar tetap terang dan bisa memberi manfaat bagi orang lain.

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.."
(Qs, Al-An'am : 122)

Pekerti Sebening Embun


"Dan sesungguhnya engkau -hai Muhammad- adalah memiliki budi pekerti yang luhur." (al-Qalam: 4)

Siapapun yang hari-harinya bersama Rasulullah, pasti menyangka dirinyalah yang paling dicintai oleh Rasulullah. Kita tahu seperti apa cinta Rasulullah kepada Abu Bakar pun sebaliknya, cinta mereka begitu menyejarah dalam perjalanan hijrah, tatkala keduanya sembunyi di gua tsur. Kita juga tahu seperti apa cinta Rasulullah kepada Umar, Utsman, Ali dan sahabat2 mulia yang lain, tak terkecuali kepada Julaibib ra laki-laki hitam pendek yang tak di pandang sebelah mata oleh orang2 medinah. Resapilah sekelumit kisahnya...

Suatu saat usai dari sebuah peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya: "Siapa saja yang gugur di jalan Allah?"

Mereka menjawab: " Fulan dan fulan, wahai Rasulullah".

Mereka tidak menyebutkan nama yang dicari oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yakni Julaibib Radhiyallahu anhu .
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali menanyakan kepada para sahabat, dan jawaban mereka sama.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru: "Sesunguhnya aku telah kehilangan salah seorang sahabatku, Jualaibib. Carilah ia!"

Para sahabat segera mencari jasad Julaibib Radhiyallahu anhu . Dan mereka mendapatkan jasadnya tersungkur. Di sekelilingnya terdapat tujuh jasad orang kafir.

Segeralah para sahabat memberitahukan kepada Rasulullah tentang Julaibib Radhiyallahu anhu , maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menghampiri jasadnya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di sampingnya dan bersabda: " Dia telah membunuh tujuh orang ini, kemudian mereka membunuhnya. Sesungguhnya, ia adalah aku, dan aku adalah dia". Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali.

Kemudian, dengan penuh lemah lembut dan kasih sayang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat jasadnya dan menyandarkan di lengannya.

Sebaik-baik Ibadah


Seringkali waktu yang singkat menjadi terasa panjang dan melelahkan karena keadaan yang bersamanya tidak menyenangkan kita.
Ia menghimpun kita dengan kondisi yang tak sesuai dengan harapan kita.
Pada keadaan seperti ini yang kita perlu adalah kesabaran, kesabaranlah yang akan membantu kita menjadikan waktu sebagai penyelesai masalah.

"Dan ketahuilah bahwa kemenangan datang setelah kesabaran dan kemudahan datang setelah kesulitan". Demikian sang Nabi menasehati.

Biarkan kejadian demi kejadian mengalir di jalan yang telah ditentukan.
Dan janganlah tertidur kecuali dengan pemikiran yang jernih, antara saat memejamkan mata dan membukanya, Allah mengubah segala sesuatu dari satu kondisi ke yang lainnya.

Lepaskanlah!


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.." (Qs.Al-Baqarah:216)

"Jika engkau mengetahui bahwa ketika engkau menuntut segala sesuatu sesuai dengan keinginan dan seleramu, serta tidak menginginkan sesuatu kecuali yang engkau sukai, maka berhati-hatilah! Sebab dengan demikian engkau harus bersiap-siap untuk terjatuh ke dalam lembah kesedihan. Engkau akan merintih ketika kehilangan apa yang engkau impikan, bahkan bisa jadi engkau malah tidak memperoleh apa yang engkau perlukan. (Aidh Al Qarni)

Pemahaman Yang Tulus


Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)". (Al An'am : 59)

Hidup harus menerima, dengan penerimaan yang indah. hidup harus mengerti, dengan pengertian yang benar. hidup harus memahami, dengan pemahaman yang tulus. tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. tak masalah meski lewat kejadian sedih dan menyakitkan. layaknya daun yang jatuh tak pernah membenci angin…
(tere liye, Daun Jatuh Tak Pernah Membenci Angin)”

3 Hal Yang Melalaikan


Menurut Ibnu Mas'ud, ada tiga hal yang dapat melalaikan manusia;

Pertama, betapa banyak manusia yang dihukum secara berangsur-angsur melalui kesenangan yang diberikan kepadanya.

Ini yang dikhawatirkan Rasulullah dalam haditsnya,

”Demi Allah, bukanlah kefakiran(kemiskinan) yang aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yg aku khawatirkan atas kalian adalah bila kalian telah dibukakan (harta) dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian lalu kalian berlomba-lomba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba memperebutkannya sehingga harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka." (HR. Bukhari)

Kedua, betapa banyak manusia yang mendapat cobaan melalui pujian oranglain kepadanya.

Suatu ketika seorang memuji-muji kawannya di hadapan Nabi Saw, lalu beliau berkata kepadanya, “Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang)”. (HR. Ahmad)

Ketiga, betapa banyak manusia yang terpedaya karena kelemahannya disembunyikan oleh Allah.

Benarlah yang dituturkan Muhammad Waasi rahimahullah,"Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tdk seorangpun yang mau duduk bersamaku"
Jangan pernah ujub dengan amalan kita, jangan pernah terpedaya dengan pujian mereka yang memujimu, kalau ada satu aib kita saja diungkap oleh Allah maka semua pujian akan menjadi celaan.

Lelaki Yang Di Cintai Allah


Ketika seorang laki-laki berada di sebuah tanah lapang yang sunyi, dia mendengar sebuah suara di angkasa, “Berilah air pada kebun si Fulan!” Awan itu pun bergerak lalu mencurahkan airnya di satu bidang tanah yang berbatu hitam. Ternyata saluran air dari beberapa buah jalan air yang ada telah menampung air tersebut seluruhnya. Dia pun mengikuti air itu. Ternyata dia sampai kepada seorang pria yang berdiri di kebunnya sedang mengubah aliran air dengan cangkulnya.
Laki-laki tadi berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, siapa namamu?”
Petani itu menjawab, “Nama saya Fulan.” Dia menyebutkan nama yang tadi didengar oleh lelaki pertama dari angkasa.
Si petani bertanya kepadanya, “Wahai hamba Allah, mengapa Anda menanyakan nama saya?”
Kata lelaki itu, “Sebetulnya, saya tadi mendengar sebuah suara di awan yang airnya baru saja turun dan mengatakan, ‘Berilah air pada kebun si Fulan!’ menyebut nama Anda. Apakah yang Anda perbuat dengan kebun ini?”
Petani itu berkata, “Baiklah, kalau Anda mengatakan demikian. Sebetulnya, saya selalu memerhatikan apa yang keluar dari kebun ini, lalu saya menyedekahkan sepertiganya, sepertiga berikutnya saya makan bersama keluarga saya, dan sepertiga lagi saya kembalikan (untuk modal cocok tanam)

(HR Muslim)

Tentang Takdir


“Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”

(Ibnu Katsir)

Karena mudah saja bagi Allah mengkondisikan kita pada kondisi yang sama sekali tidak kita duga, seringkali kita melihat begitu cepatnya Allah mengangkat derajat seseorang dari kepapaan menjadi berkelebihan, pun sebaliknya. Karenanya yang terpenting bagi kita bukanlah pada kondisi seperti apa saat ini kita, tapi seperti apa sikap kita dalam menjalani segala ketetapan- Nya.