Kamis, 16 Oktober 2014

Kerang Rebus & Kerang Mutiara


*Oleh Ustadz Jamil Azz

Dikisahkan pada suatu ketika, beliau sedang
memancing ikan di sungai dekat rumahnya.
Sejenak kemudian, datang menghampiri Bapaknya
dan langsung duduk di samping beliau.
Sang Bapak kemudian berkata, “Mil, Bapak mau cerita, mau
dengar tidak?”
Si anak kecil yang bernama Jamil pun sontak langsung
mengangguk.
“Kamu tahu proses terjadinya mutiara?” Tanya sang Bapak.
Si Jamil kecil hanya hanya menggelengkan kepalanya.
Sambil merangkul pundak anaknya, si Bapak pun melanjutkan
ceritanya.

Waktu kerang muda mencari makan atau bergerak untuk pindah,
ia akan membuka cangkah penutup badannya.
Buka, tutup, buka, dan tutup, demikian terus dan berlangsung
secara berulang-ulang.
Suatu kali, di saat cangkah itu terbuka, sebutir pasir masuk ke
dalam cangkah tersebut.

Si kerang muda pun menangis sambil memanggil-manggil
ibunya.
“Bu, sakit bu, ada pasir yang masuk ke dalam tubuhku”. Sang Ibu
kerang pun menjawab, “sabar ya nak, jangan pedulikan sakit itu.
Bila perlu berikanlah kebaikan kepada sang pasir yang telah
menyakitimu itu”.

Si kerang muda pun menuruti nasihat ibunya. Ia
menangis, namun ia gunakan air matanya untuk
membungkus pasir yang masuk ke dalam
tubuhnya. Hal itu terus-menerus ia lakukan.
Dengan baluran air mata si kerang muda, rasa sakitnya pun berangsur-angsur berkurang bahkan kemudian hilang sama sekali.

Beberapa saat kemudian, kerang-kerang itu dipanen. Kerang yang ada pasirnya dipisahkan dari kerang yang tidak ada pasirnya. Kerang tak berpasir dijual secara obral di pinggir jalan atau
pasar untuk kemudian akan dibeli orang untuk dimasak menjadi “Kerang Rebus”
Sedangkan kerang yang berpasir, akan dijual ratusan bahkan
ribuan kali lipat lebih mahal dibandingkan kerang tak berpasir.

Mengapa bisa begitu? Karena pasir yang ada di dalam kerang itu
telah berubah menjadi inti mutiara. Ya, butiran-butiran pasir itu
telah dibalut dengan lapisan air mata si kerang muda. Hingga
saat dia telah dewasa, butiran pasirnya kemudian berubah menjadi mutiara.

Sang Bapak pun melanjutkan ceritanya dengan berkata, “kalau
kamu tidak pernah mendapat cobaan, kamu akan menjadi seperti
kerang rebus atau kerang yang harganya murah. Tapi kalau kamu
mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberi manfaat
pada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, kamu
akan menjadi mutiara”.

Hidup adalah pilihan, semuanya tinggal kembali kepada diri kita masing-masing. Ingin menjadi kerang rebus atau kerang mutiara, semuanya kita sendiri yang menentukan.
Hiduplah dengan banyak memberi manfaat untuk
orang lain.
Hidup itu bukan hanya terletak pada seberapa besar
masalah yang telah kita dapatkan atau terima. Namun juga
seberapa banyak manfaatyang bisa kita berikan pada sesama dan
lingkungan sekitar.

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang
lain (HR. Ahmad, Thabrani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar