Selasa, 09 September 2014
Pena Dari Ilalang
"Di setiap kota terdapat pusat pembangkit listrik, para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran listrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah dan tempat lain.
Jika listrik itu dimatikan dari pusat pembangkitnya, seluruh kota akan gelap. Padahal saat itu tenaga listrik masih ada dan tersimpan di pusat pembangkit listrik, hanya saja tenaga listrik itu tidak dimanfaatkan."
(Hasan Al Bana)
"Begitu juga dengan Al-Qur'an," kata Abbas As Siisi dalam bukunya 'At-Thariq Illal Qulub', "ia pusat pembangkit 'tenaga' bagi umat Islam, tetapi sumber pembangkit itu kini dicampakkan oleh umat Islam sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan masyarakat menjadi rusak."
"Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita menuju cahaya... (QS. Al-Maidah : 15-16)
Demikianlah Allah menurunkan Al-Qur'an kepada kita, ia menjadi sebesar-besar energi dalam kehidupan kita.
Maka berbahagialah ketika kita berada di tengah-tengah komunitas yang berusaha dekat dengan Al-Qur'an, membacanya, menghafalnya, mengkaji dan sekuat upaya mengamalkannya.
Setidaknya kita telah berupaya menjadi orang-orang yang berusaha menjaga aliran listrik itu agar tetap terang dan bisa memberi manfaat bagi orang lain.
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.."
(Qs, Al-An'am : 122)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar