Rabu, 15 Oktober 2014

Lelaki Itu Bernama Musa


Di sebuah mata air, di sebuah negeri yang bernama Madyan, Lelaki kekar yang sedang dalam pelarian dari  kejaran bangsa Firaun, melihat orang-orang berdesakan memberi minum ternak-ternaknya di sekitar mata air tersebut. Tak jauh dari tempat itu ia melihat dua gadis yang sedang kebingungan, tangannya memegang tali kekang kambingnya yang meronta kehausan.

Dalam lelah payahnya, lapar hausnya, lelaki ini masih sanggup menawarkan bantuan, digiringnya domba-domba itu ke mata air. Ketika dilihatnya ada batu menyempitkan permukaan itu, dia sadar inilah salah satu penyebab orang-orang menjadi berdesakan. Dengan sisa tenaga disingkirkannya batu itu, hingga mata air menjadi lapang tepiannya.

Seusai memberi bantuan lelaki itu pun berlalu, beristirahat sambil bersandar pada sebuah pohon, seraya berdoa, "Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi rizqi, dan Penguasaku, sesungguhnya aku terhadap apa yang kau turunkan di antara kebaikan amat memerlukan."

Dalam lapar dan dahaga yang teramat, rasanya pantas sekiranya lelaki ini meminta sedikit makanan dan minum seusai dia membantu dua gadis itu.
Tapi lelaki ini bukanlah seorang yang pamrih, baginya hanya Allah yang pantas ia mintai pertolongan, kecil maupun besar. Meminta pada makhluk baginya hanyalah kehinaan.

Tak lama berselang, datanglah seorang gadis yang tadi di tolongnya, seraya berkata yang kata-katanya terabadi dalam Alqur'an surat Al Qashash : 25, " Sesungguhnya Ayahku memanggilmu agar dia dapat membalas kebaikanmu yang telah memberi minum ternak-ternak kami."

Ternyata Allah tetap memilih keluarga si gadis sebagai penyambung kebaikan atas  permohonan seorang lelaki   yang tak ingin meminta kepada selain Rabbnya. Meski buatnya berupa apapun pertolongan dari Allah tetaplah yang terbaik.

Maka resapilah sebulir bening kalimat Umar Bin Khattab, "Aku tak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan. Sebab, setiap kali Allah mengilhamkan hamba-Nya untuk berdoa, maka Dia sedang berkehendak untuk memberi karunia.
Yang aku khawatirkan adalah, jika aku tidak berdoa."

Sungguh, bagi kita, selemah apapun kita, seperih apapun luka derita yang kita alami, sebuntu apapun jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.
Berdoa adalah langkah terindah yang bisa kita lakukan, menggantungkan segala beban pada yang Maha Bijaksana.
Hatta ketika doa itu kita rasa tak kunjung terkabulkan, percayalah Allah punya cara tersendiri meringankan beban masalah kita. Ia akan sirna perlahan, terbang ringan menjauhi kita, sampai akhirnya kita tersadar masalah itu telah terselesaikan.

"Karena terkadang nikmatnya berdoa kepada Allah, melampaui rasa nikmat pertolongan yang Allah berikan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar