Kamis, 11 September 2014

Sedekat Malaikat Dengan Rabbnya


“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”
(HR Bukhari Muslim)

Muda, tampan, cerdas, kaya, keturunan keluarga terpandang, santun, sungguh tipikal pemuda dambaan. Ia memiliki minyak wangi khusus yang hanya satu-satunya di mekkah, hingga tatkala ia lewat dari wanginya orang-orang akan mengenalinya, dialah Mushab bin Umair.

Namun cahaya islam menelusup hatinya, ia pun menyatakan keislaman dihadapan Sang Nabi, yang berbuah kemurkaan dari orangtuanya.
Segala upaya dilakukan orangtuanya, mulai dari mencabut semua fasilitas kemewahan yang biasa di kenakan anaknya, hingga aksi mogok makan sang Ibu, agar Mush'ab merasa iba dan membatalkan keislamannya.

Dengan raut sedih karena kecintaannya kepada ibunya di satu sisi, dan ketenangan dan kebahagiaannya karena telah mendapatkan cahaya islam di sisi yang lain. Mush'ab berucap lirih,"duhai bunda seandainya ada seratus nyawa yang engkau miliki, lalu ratusan kali engkau mengorbankan diri agar aku meninggalkan islam, sungguh aku lebih memilih islam."

Suatu ketika ia duduk disisi Rasulullah, diantara kaum muslimin lainnya. Mereka yang melihat penampilan Mush'ab dengan baju penuh tambalan tertunduk haru.
Dengarlah ungkapan cinta Rasulullah kepadanya, "Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Betapa Rasulullah teramat berduka tatkala menyaksikan jasad Mush'ab yang terbujur, ia syahid di bukit uhud usai bertempur membela Allah dan Rasulnya.
Hanya sehelai kain lusuh penutup tubuh yang jika ditutupi kepalanya, maka menyembul kedua kakinya, dan jika ditutupi kakinya wajah agungnya akan terlihat.
Sang Nabi pun bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!"

Rasulullah memandangi tubuh mulia itu, seraya berkata,
"Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar