Senin, 13 Oktober 2014
Rizqi Pasti Menghampiri
Aku tahu rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang.
Aku tahu amalku takkan di kerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang.
(Hasan Al Bashri)
Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugerah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindera dari sifat maslahatnya.
Kasur yang empuk dapat di beli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh.
Hidangan yang mahal dapat di pesan, tapi lezatnya makan adalah rizqi, ia dapat terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.
Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.
Ada yang bergaji 100 juta rupiah tiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap kue yang legit, segera dikatakan padanya: "awas pak, kadar gulanya!"
Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya: "awas pak, kolesterolnya!"
Bahkan ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, "awas pak, tekanan darahnya!"
Dan rasa nikmat itu telah dikurangi.
Lagi-lagi ini soal rasa, seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar di pulau jawa, dengan penghasilan yang mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Tidur di alas empuk hanya membuat punggungnya ngilu. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.
Rizqi memang bukan sekedar apa yang kita miliki, bukan pula sekedar deretan angka dalam bilangan gaji, yang dengan nya apapun akan kita beli.
Ia adalah soal rasa, soal nikmat yang tersyukuri.
Dan menjadi keniscayaan ketika kita menjemputnya dengan sepenuh upaya yang di ridhoi-Nya, maka rizqi begitu sempurna nikmatnya.
"Karena apa yang ada disisi Allah, adalah ridho-Nya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa", demikian Imam Nawawi mempetuahi.
*disarikan dari buku Lapis-lapis Keberkahan : Salim A Fillah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar