Senin, 29 September 2014
Menikmati Kritik
Suatu hari Rasulullah SAW memberikan sandal beliau kepada Abu Hurairah seraya berkata, “Hai Abu Hurairah, pergilah kamu, bawa sandalku ini. Lalu, siapa saja yang kamu temui di balik tembok ini, yang telah menyatakan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya, dia akan masuk surga.”
Maka yang pertama-tama ditemui Abu Hurairah ialah Umar bin Khattab. Dia bertanya, “Apa maksud sepasang sandal ini, Hai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Ini sandal Rasulullah SAW. Beliau menyuruh aku membawanya (dengan pesan), siapa saja yang aku temui telah menyatakan, bahwasanya tida Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka aku beri kabar gembira, dia bakal masuk surga.”
Mendengar hal itu, tiba-tiba Umar menghantamkan tangannya ke dada Abu Hurairah sampai ia jatuh terduduk, seraya berkata, “Kembali, hai Abu Hurairah!”. Maka Abu Hurairah pun kembali menemui Rasulullah SAW setengah menangis, sementara Umar membuntutinya.
“Kenapa kamu hai Abu Hurairah?” Tanya Rasul kepada Abu Hurairah. Ia menjawab, “Saya bertemu Umar, lalu saya beritahu dia apa yang telah tuan perintahkan kepadaku, tapi tiba-tiba dia memukul dadaku sampai aku jatuh terduduk, seraya menyuruh aku kembali.”
“Hai Umar,” Rasul bertanya kepada Umar, “Kenapa kamu melakukan seperti ini?”
Umar menjawab, “Ya Rasulullah, aku tebus engkau dengan ayah bundaku, benarkah engkau menyuruh Abu Hurairah membawa sandalmu (dengan berpesan), barangsiapa yang dia temui telah menyatakan tiada Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka dia beri kabar gembira bakal masuk surga?”
“Benar,” jawab Rasul. Maka Umar menyarankan, “Jangan lakukan itu. Karena saya benar-benar khawatir orang-orang akan mengandalkan kata-kata itu saja. Sebaiknya, biarkanlah mereka beramal.” Akhirnya Rasulullah SAW pun bersabda, “Kalau begitu, biarkan mereka.”
*****
Kisah ringkas di atas diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.
Ketika kita menyampaikan sebuah kebaikan tidak semua orang menerimanya dengan perspektif yang tepat, menjadi keniscayaan bagi kita untuk memilih tema, cara dan waktu yang pas agar pesan kebaikan tersampaikan dengan baik.
Pun ketika kita rasa semuanya sudah tepat, tetaplah terbuka menerima kritik dan saran, sebab bisa jadi ada hal yang terlewat dari perhatian kita.Perhatikanlah bagaimana Rasulullah yang maksum begitu lapang menerima kritik dari sahabatnya Umar Al Farouk.
Wallahu'alam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar