Senin, 01 September 2014
Dimensi Keberanian
Ketika kaum muslimin sedang terlibat pertempuran dengan Rowami, raja Romawi saat itu,Heraklius, bertanya kepada jendralnya, ” Apakah yang menyebabkan orang-orang Islam itu hebat? Apakah jumlah mereka banyak?” “Tidak, bahkan jumlah kita jauh lebih banyak dari mereka”, jawab sang jendral. “Apakah perbekalan mereka banyak?”tanya Heraklius lagi. “Tidak, perbekalan mereka apa adanya”. “Apakah senjata mereka yang bagus?” ” Tidak, senjata mereka pun seadanya”,jawab sang jendral. “Lalu mengapa?”tanya Heraklius semakin heran. ” Mereka (orang-orang Islam) bila di siang hari adalah penunggang kuda yang tak kenal lelah tapi di malam hari mereka seperti rahib yang terus beribadah dan begitu takut kepada Tuhannya.”
Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian, baik yang bersumber dari fitrah maupun melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan yang kokoh pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap dan jalan hidup, kepercayaan pada akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru kepada Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan, meskipun kondisi fisiknya tak terlalu mendukungnya, seperti jenis keberanian Ibnu Masud dan Abu Bakar. Sebaliknya, ia bisa menjadi lebih berani dengan dukungan fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid.
(Anis Matta-serial kepahlwanan)
Keberanian tidak selalu berupa pekik yang menggetarkan, terkadang ia serupa bisik lirih di penghujung malam,"esok biar kucoba lagi.."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar