Selasa, 02 September 2014
Mulailah Dengan Percaya
Suatu hari di tahun ketiga kuliahku, 1978, Profesor Morrie Schwartz berkata bahwa dia mempunyai satu latihan yang harus kami coba. Kami diminta berdiri tegak, membelakangi teman sekelas yang berkerumun agak jauh. Kami lalu disuruh menjatuhkan badan ke belakang, mempercayakan diri kepada mereka untuk menangkap tubuh kami.
Kebanyakan dari kami tidak merasa tenang, dan menjatuhkan diri dengan takut-takut, tidak bebas, dan menjejakkan salah satu kaki padahal tubuh kami baru miring beberapa derajat.
Akhirnya tampillah seorang mahasiswi kurus, pendiam, yang selalu memakai sweater. Dia menyilangkan tangan di depan dada, memejamkan mata, kemudian menjatuhkan diri ke belakang tanpa ragu. Tubuhnya lurus. Dia sama sekali tak melengkungkan badan mendahulukan pinggul seperti kami tadi yang takut-takut.
Sesaat kami khawatir bahwa dia akan berdebam membentur lantai. Tapi pada detik terakhir, beberapa kawan yang ada di belakangnya bergerak sangat cepat menahan tubuh dan kepala mahasiswi itu, lalu membuatnya tegak kembali. Kami semua terpekik, lalu bersorak dan sontak bertepuk tangan.
Profesor Morrie tersenyum.
"Kau lihat," ujarnya kepada mahasiswi itu dengan mata berbinar, "kau memejamkan mata. Itulah bedanya. Kadang kita tidak boleh percaya kepada apa yang kita lihat, kita harus percaya pada apa yang kita rasakan. Dan jika kita ingin agar orang lain mempercayai kita, kita juga harus merasa kita bisa mempercayai mereka, meski kita sedang berada dalam kegelapan, atau bahkan ketika kita sedang jatuh."
(Mitch Albom dalam Tuesdays with Morrie)
*****
"Saudara seiman adalah dirimu, hanya saja dia itu orang lain, sebab kalian saling percaya, maka kalian adalah satu jiwa. Hanya saja kini sedang hinggap di jasad yang berbeda."
Begitu indah Al Kindi menggambarkan sikap saling percaya dalam hangat ukhuwah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar